Gak Penting Yaa

Ketika Kabut Menyelimuti Hati

Sumber Gambar : Google

Kabut diluar begitu pekat, padahal mentari belum menunjukan jati diri. Udara pagi  yang tadinya segar berubah menjadi petaka hanya dengan sekali hisap. Kota mulai diselimuti bayangan putih yang berasal dari kebakaran lahan dan hutan.

Inilah kondisi kota yang diserang oleh kabut asap. Bagaimana dengan kondisi hati kita? apakah berkabut?

Memang watak manusia itu suka bermain api, tapi takut terbakar. Terkadang kita terlalu mudah memutuskan sesuatu hal yang bodoh hanya untuk kepentingan sementara. Tanpa peduli apa konsekuensi yang terjadi, entah itu berdampak buruk. Tetap saja memilih pilihan itu, sementara di depan mata ada pilihan yang lebih baik.

Begitupun dengan hati. Apakah kita memilih hati kita berdebu karena kabut fatamorgana atau kita pilih membersihkan dengan dekat padaNYA.

Ketika kabut menyelimuti hati, ia akan ranum dalam kegelapan, sesak dalam kegelisahan. Bagaikan buah pisang yang membusuk ditelan waktu.

Kemanakah sepotong hati ini mesti diletakkan agar ia tidak naas seperti pisang malang itu. Akankah sepotong hati ini bersangkar dalam cahaya ilahi. Wallahu a’lam.

Iklan

4 thoughts on “Ketika Kabut Menyelimuti Hati

    1. Pertanyaan yang bagus… cara sangat beragam sekali tergantung kita masing-masing yang penting prinsipnya dekat dengan Tuhan. Ketika Tuhan hadir dalam setiap aktifitas kehidupan kita, hati akan bersih dan tenang.. 🙂

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s