Ngepos via Hape

Cinta dan Perselisihan

Pernahkah kamu berpikir, kawan? Segala sesuatu yang ada di dunia ini muncul dari ketiadaan?

Coba tengok bunga mawar merah yang merekah indah. Apakah bunga itu muncul dari ketiadaan? Atau ada bahan dasar sehingga kita dapat melihat keindahannya.

Kau mungkin akan pusing menjawabnya, sama seperti diriku. Tidak bagi para filosof awal yang selalu berpikir tentang perubahan dan bertanya-tanya bahan dasar keberadaan alam semesta.

Banyak pendapat para filosof yang saling menguatkan, bahkan ada yang bertentangan. Kerangka seperti ini terus berlanjut hingga kini. Seiring dengan perputaran waktu, pemikiran ini saling melengkapi. Inilah dinamika perubahan.

Tidak ada sesuatu yang muncul dari ketiadaan. Filosof alam menyatakan bahwa segala sesuatu itu berasal dari air, tanah, udara dan api. Benda yang kita lihat keberadaanya berasal dari empat unsur itu dengan komposisi yang berbeda.

Filosof Empedocles percaya bahwa mata terdiri atas tanah, air, udara dan api. Begitupun dengan bunga mawar nan indah juga tercipta dari tanah, air, udara dan api. Ketika benda-benda ini mati maka unsur tersebut kembali kepada asalnya yang kemudian menyatu lagi menjadi benda yang lain.

Sementara anaxagoras tidak percaya tulang dan daging tercipta dari empat unsur itu. Anaxagoras berpendapat alam tercipta dari pertikel-pertikel kecil yang tak dapat dilihat mata dan jumlahnya tak terhingga.

Pemikiran filosof alam mulai runtuh oleh pendapat Democritus. Ia berpendapat segala sesuatu di alam semesta ini tercipta dari atom-atom, bukan dari air, tanah, udara dan api. Atom adalah unsur terkecil dari pertikel yang keberadaanya abadi. Atom jumlahnya tak terbatas dan sangat beragam.

Belakangan teori fisika modern semakin memperjelas bahwa atom masih dapat dipecah menjadi beberapa bagian yang terkecil. Mereka menyebutnya dengan proton, neutron dan elektron. Mungkin suatu hari nanti bagian ini dapat lagi dipecah menjadi lebih kecil lagi.

Bibir indah yang kalian miliki mungkin berasal dari atom dari belalai gajah yang dulu hidup di zaman purba. Ketika mati, atom tersebut terurai kembali, yang kemudian entah menjadi apa di kemudian hari.

Tahukah kau kawan, apa yang membuat unsur atom tersebut menyatu dan musnah kembali? Yang membuatnya menyatu dan musnah adalah cinta dan perselisihan.

******

Kita adalah manusia yang memiliki jiwa dan raga. Kita adalah makhluk yang sempurna kerena dikarunia akal dan qalbu yang menakjubkan.

Bukan tidak mungkin jiwa yang bersemayam dalam tubuh kita ini berasal dari atom-atom. Ketika manusia mati, atom dalam jiwa akan terurai yang kemudian menyatu kembali menjadi jiwa yang baru.

Takala kamu melihat keindahan bulan, itu berarti “atom-atom bulan” menyelinap dalam mata mu”. Anehnya perasaan yang membelenggu jiwa telah menyusupi akal sehat ku.

Perasaan ini hanyalah segumpal atom-atom yang dilebur oleh cinta dan terurai oleh perselisihan. Ingat, setiap pertemuan itu akan ada perpisahan. Engkau tak akan merasakan terang tanpa ada kegelapan.

Mereka menyebut pertemuan itu dengan kata jodoh. Aku tak mengerti bagaimana jodoh itu bekerja. Bisakah dikaitkan dengan teori yang telah diuraikan oleh para filosof diatas.

Bisa saja, alam semesta memiliki keteraturan dan kesimbangan. Pertikel-pertikel atom yang membentuk alam ini berada dibawah kendali Tuhan.

Cinta telah menyatukan atom-atom jiwa yang terbelah. Hal ini menguatkan tentang teori belahan jiwa. Kita tak tahu ditubuh mana belahan jiwa kita bersemayam. Cintalah yang kemudian menyatukan atom-atom tersebut.

Kawan, jangan pernah kau pahami cinta itu sebatas nafsu. Jika kau memahami seperti itu, maka sama halnya kau mendangkalkan pikiranmu. Padahal pikiranmu itu diciptakan lebih dalam dari samudera.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s