Ngepos via Hape

Tentara Berselendang Senjata

Aku laki-laki, aku juga punya perasaan. Aku bisa menangis. Terkadang aku tersenyum dalam sedih.

Tangisan tak mampu lagi ku bendung ketika menyaksikan di layar kaca perempuan yang sebaya dengan ibuku di dorong oleh tentara berselendang senjata.

Mataku berkaca, tak terbisit dalam pikirku untuk mencaci negara. Tak pernah aku membenci penguasa berlaku semena demi tahta. Membunuh dengan dalil kebenaran. Ahh.. Sungguh terlalu, kata bang rhoma irama.

Kita terkadang terlalu suka melewati batas-batas kemanusiaan. Batas dimana dendam dan kebencian bergelimang menjadi satu.

Darah begitu mudah tumpah atas nama bangsa, atas nama kebenaran. Tahukah kamu kebenaran itu apa?

Jasad-jasad mereka yang tergelatak di belahan dunia sana memang bukan ibu, ayah, kakak, adik dan anak-anak kita. Tapi mereka juga manusia seperti keluarga kita.

Tak peduli apakah mereka beda agama, beda bangsa atau beda negara. Mereka tetap saja manusia. Aku tak mampu berbuat apa-apa, selain jihad dalam doa.

Aku malu bicara lantang. Sementara disekeliling ku saja masih ada dendam dan benci yang tak ubahnya seperti di medan perperangan sana.

Selemah-lemah iman perjuangan ku adalah berjuang dengan doa.

Iklan

3 thoughts on “Tentara Berselendang Senjata

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s