Ngepos via Hape

Menggugat Rasa Syukur

Pagi ini, aku berpapasan dengan seorang bapak tua yang mengapit dua tongkat di ketiaknya. Hanya tinggal satu kaki, sementara satu kaki lagi tidak berfungsi. Ia tertatih-tatih melewati jalur rel kereta api. Untuk menuju tujuan yang aku sendiri tak tahu pasti.

Pikiran ku bertanya, apa yang ada dalam pikiran bapak itu. Apakah bapak itu bahagia? Atau, mungkin semakin larut dalam luka? Sehingga berontak pada Tuhan akan keadaan dan kondisinya.

Banyak cara manusia berpikir atas kondisi dan situasi yang mereka hadapi. Tak sama memang. Ada yang coba untuk bangkit, tapi tak sedikit yang menyerah dengan keadaan.

Entah kenapa pikiran ku selalu bergetar takkala menyaksikan mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Rasa syukur ku betul-betul diuji. Secara kasat mata mereka tampak bahagia, meski dalam hati hanya Tuhan dan mereka sendiri yang tahu.

Sementara aku, yang telah dianugrahi fisik yang lengkap masih saja larut dalam duka dan bergelut dengan rasa syukur. Inilah keadilan Tuhan, sesuatu yang kita anggap berlebih itu merupakan kekurangan dari diri kita sendiri.

Coba tengok, mereka yang terlihat miskin sesungguhnya memiliki kekayaan dalam dirinya sendiri. Begitu sebaliknya, mereka yang kaya belum tentu tidak merasakan pahitnya miskin dalam hati mereka.

Memang manusia sangat suka melihat dari kaca mata sendiri. Memandang dari sudut pandangnya sendiri.

Iklan

2 thoughts on “Menggugat Rasa Syukur

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s