Ngepos via Hape

Perempuan itu saya panggil abang

Bagi saya wanita yang bekerja di wilayah pria itu sudah jadi hal biasa. Begitu pula sebaliknya. Liat saja, jaman sekarang banyak wanita yang bekerja sebagai kondektur. Padahal dulu profesi ini identik dengan pekerjaan laki-laki.

Sekarang banyak juga wanita muda yang bekerja sebagai operator pom bensin di SPBU. Mereka ini adalah perempuan hebat yang meruntuhkan paradigma masyarakat tentang perempuan yang dikerangkeng dalam konsep dapur, sumur dan kasur.

Nah, beberapa waktu yang lalu saya sedikit miskomunikasi dengan operator pom bensin perempuan. Sudah jelas secara kasat mata operator tersebut perempuan. Saat menegurnya, saya malah menyap dengan panggilan ‘abang’.

Habis saat giliran ngisi bensin, perempuan itu cemberut dan marah-marah pada konsumen yang antri di depan saya. Gara-gara marah tersebut saya tak sengaja memanggil perempuan itu abang. Untung saja suara saya saat itu tidak terlalu kencang. Namun, baginya terdengar samar.

Ternyata memang betul, hal-hal negatif mampu mempengaruhi lingkungan sekitar. Perempuan yang marah-marah tersebut mempengaruhi saya untuk berpikiran negatif. Pikiran menyesatkan yang membuat saya tidak bisa membedakan mana perempuan dan mana laki-laki.

Lain halnya jika kita memanggil orang yang memang secara sosial statusnya berada diantara laki-laki dan perempuan. Misalnya perempuan yg bergaya laki-laki atau laki-laki yang rupanya seperti perempuan. Kelompok seperti ini membuat orang cukup bimbang memanggil mereka dengan sebutan yang sesuai.

Nah, dalam konteks saya tadi perihal seperti kebimbangan itu tidak ada. Sebab perempuan itu nyata seorang perempuan, baik dari pakaiannya maupun penampilannya. Namun, saya malah memanggil perempuan itu dengan panggilan “abang”. Panggilan yang seharusnya dilekatkan kepada kaum laki-laki.

Pernahkan sanak blogger salah dalam memanggil orang?
@garammanis

Iklan

12 thoughts on “Perempuan itu saya panggil abang

  1. Sering Jo …

    Saya sering salah menempatkan kata sandang …
    namun saya punya solusi yang cukup lumayan … supaya tidak tertukar-tukar …
    saya punya panggilan … “Kak” … bagi orang yang belum saya kenal sama sekali … atau baru pertama kali bertemu
    termasuk petugas-penjual-pramuniaga-penjaga toll dan sebagainya …

    Kak berlaku untuk laki-laki dan perempuan …

    (yang susah itu kalau … sudah berumur … hahaha … )(agak kurang pas kalau dipanggil “kak”)

    Salam saya Jo

    Suka

  2. Saya hampir tidak bernah si Jo mengalami salah panggil gini, tapi kalo untuk yang berada di daerah antara laki-laki dan perempuan saya suka nanya maunya dipanggil apa. Hehehe. An mereka gak keberstan ditanya gitu. Paling ga dari pengalaman saya ya. Ada yang nama bekennya Rosa setelah saya tanya malah minta dipanggil Salim. πŸ˜›

    Suka

  3. Belum pernah sih salah manggil spt di atas. πŸ™‚
    Waaah saya jg bakalan misuh2 kalau dipanggil Abang.. Langsung deh ngaca, kayan abang2nya dimana hehehe

    Suka

  4. pernah saya berdiskusi dengan rekan kerja mengenai pekerjaan yang dulunya dilakukan oleh laki2 sekarang banyak yang diisi oleh perempuan seperti kondektur bis, supir bis, tukang parkir, dll. Tidak terpikirkan oleh saya kalau hal itu justru punya dampak sosial lainnya. Kalau ‘jatah’nya laki2 diambil perempuan…mereka jadi apa donk? preman…?? atau malah jadi kapster salon???… bukannya gender…tapi sebenarnya ini adalah masalah bersama kita semua….
    btw…salah manggil ga pernah terjadi kecuali salah orang aja…..hehehehehe

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s