Ngepos via Hape

Sebuah Renungan

Begitu banyak prespektif. Betapa beragam sudut pandang. Bahkan melewati batas akal kita dan tak terbayangkan beragamnya entitas umat manusia.

Ini hanya sebatas kota kecil di bibir pantai. Belum lagi di ranah metropolitan yang lengkap dengan berbagai dinamika.

Bagaimana Tuhan mengatur semua ini? Mungkin tidak ada sedikitpun kemampuan kita untuk menjawab semua itu. Pastinya kita sadar bahwa Tuhan betul-batul Maha Kuasa yang tak pantas diduakan.

Ketika ada yang hidup, disitu ada pula yang mati. Keseimbangan bumi ini begitu sempurna. Kesempurnaan yang hanya berakhir dengan sebuah tiupan yang bernama kiamat.

Takdir berkata kiamat kian dekat. Namun, tak ada satupun diantara kita yang mampu meramal kecuali Sang Pencipta. Ada apa setelah itu?

Mungkinkah keberagaman seperti ini akan terulang kembali. Bisakah orang yang kita kenal hari ini dapat di jumpai di kehidupan sana. Jangan-jangan hanya tinggal penyesalan saja.

Satu hal yang pasti, penyesalan itu selalu datang belakangan. Ketika kita sadar dengan penyesalan, maka disitulah waktu begitu banyak terbuang. Sayang waktu tak bisa diputar kembali ke masa silam. Tuhan pun bersumpah “demi masa” dalam kitab suciNYA.

Kita kadang tak sadar masa dalam ruang waktu sungguh berharga dibandingkan harta, tahta bahkan wanita sekalipun. Namun, masih saja kita lalai dengan waktu. Semoga tidak. @garammanis

Iklan

3 thoughts on “Sebuah Renungan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s