Penting Gak Yaa

Alat Tes Kematian

Sakit ini benar-benar mengingatkanku dengan kematian. Ada yang bilang kala didera penyakit, niscaya Tuhan akan menggugurkan bersamanya dosa-dosa bagaikan pohon menggugurkan daun-daunnya.

Dosa yang mana? Kita tak pernah Tahu. Satu hal yang mesti kita tahu adalah sakit sangat ampuh untuk mengingatkan kepada kita bahwa kematian itu pasti.

Pohon yang dulu rimbun, kini gugur tak berbekas digrogoti hama utusan malaikat izrail. Pohon yang dulu dipuja oleh para sejoli, pohon yang berjasa menjalin cinta umat manusia. Kini pohon itu tidak ada, entah pergi kemana.

Bagaimana dengan kita? Mau pergi kemanakah kita setelah kematian ini?

Pertanyaan itu seakan tak berarti manakala kita masih saja menafikan mati. Kita dengan mudah tersilau dengan kehidupan dunia. Kita gampang sekali dibujuk dan dirayu oleh kenikmatan dunia yang hanya bersifat sementara. Sehingga kita lupa dengan yang namanya mati.

Sering-seringlah mengingat mati. Itu petuah yang sering didengar. Tapi jarang dipraktekan, sebab tidak banyak yang sadar dan ingat akan datangnya kematian yang begitu pasti. Jadi, Alat tes kematian itu ada pada diri kita masing-masing, yaitu selalu ingat dengan kematian.

Apakah sanak blogger pernah ingat mati? Jika pernah, apakah sanak takut mati atau tidak?

Iklan

31 thoughts on “Alat Tes Kematian

      1. namanya di hutan dengan kendala perbedaan budaya. kadang kita gak tau apa yang menurut kita ga masalah ternyata disini sesuatu yang tabu
        payahnya kendala bahasa sering menghambat upaya perdamaian. mesti ekstra hati hati dan sesuai jurnal diatas. siap mati
        hehe…

        Suka

  1. Ya.. kadang saya ingat akan kematian. Saat ingat, saya berusaha berbuat sebaik-baiknya untuk meningkatkan jumlah perbuatan baik saya agar melebihi jumlah dosa-dosa yang pernah saya perbuat saat saya tidak ingat akan kematian…

    Thanks sudah mengingatkan kembali..

    Suka

  2. “Kematian adalah suatu kenikmatan tersendiri bagi orang-orang yang paham tentang kematian tersebut” itu dikutip dari ceramah seorang Ustadz sewaktu Ramadhan kemaren…mengingat kematian bisa jadi pahala ya Uda..:-) sakik apo uda ajo? Moga sakit itu jadi penggugur doso yo uda…get well soooonnn…:-)

    Suka

  3. Sedang sakit apa Jo? Semoga cepat sembuh ya..
    Benar juga ya kalau sakit sebagai alat tes kematian..Tapi pengennya kita alat itu selalu rusak ya…:)

    Suka

  4. Tak kira alat beneran, mas. hihihi

    Saya masih taku mati, mas?
    Masih belum siap, belum banyak sangunya.

    Padahal kita harus siap dengan datangnya kematian, karena kematian datang kapanpun. 😦

    Suka

  5. Hmmm.. setiap dari makhluk yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Memang kita tidak pernah mampu memperkirakan kapan kematian akan datang, hanya saja yang terpenting adalah bekal apa yang akan kita bawa untuk kematian. Kematian di dunia adalah awal kehidupan di akhirat (bagi orang Islam dan agama samawi lainnya).

    Siap tak siap, kita dipaksa untuk siap karena kematian tak pernah bernegosiasi terlebih dahulu kepada orang yang akan dijemputnya.

    Takut akan mati..???? Semua pasti takut, bukan takut dari kematian itu sendiri tetapi takut akan bekal yang akan kita bawa ketika kematian itu datang. Cukup atau belum cukup..

    Tetap semangat berbagi Mas Ramli
    salam kenal dari Malang-Banyuwangi 🙂 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s