Penting Gak Yaa

Kuntilanak Bukan Teroris

Kali ini saya cuma mau menceritakan kisah beberapa orang teman..

Pertama, teman mengaji di kampung halaman.

Sewaktu masih kecil dulu, kami paling takut pulang sendiri-sendiri dari surau. Sebab tak jauh dari surau ada pohon beringin yang besar. Kata orang di pohon beringin itu ada penunggunya, pohon itu ditunggui oleh hantu kuntilanak. Jalan pulang dari surau hanya itu saja, gak ada jalan lain.

Berhubung kami mengaji sehabis magrib, maka mau tak mau kami harus pulang malam-malam. Biasanya kami pulang sehabis shalat isya secara berombongan.

Di malam yang naas itu, salah satu teman kami ketiduran di surau. Sehingga ia tertinggal sendirian. Ia tersentak tengah malam dan baru menyadari jikalau anak-anak lain telah pulang ke rumah masing-masing.

Betapa takut teman saya itu ketika menyadari ia tinggal sendiri. Jika mau pulang ia harus melewati pohon beringin yang angker itu.Kalaupun terus tidur di surau hingga subuh, mata tak mau terlelap dan ia tidak berani karena sudah terlanjur ketakutan. Β 

Saat itu, ia ingat dengan perkataan guru ngaji kami. Hantu, genderowo, kunitlanak dan sejenisnya itu bakal lari terbirit-birit jika dibacakan ayat-ayat pendek. Saat itu ia hafal beberapa doa dan banyak ayat pendek, diantarnya surat al ikhlas, an nash dan al kafirun dll. Β 

Berangkat dari petuah guru mengaji itulah akhirnya ia memberanikan diri melewati pohon beringin yang berhantu itu. Ia melangkah dengan ragu, kalau tidak diberanikan ya gak bisa pulang. Setapak demi setapak ia berjalan menjauh dari surau dan tibalah dekat pohon beringin tersebut.

Kuntilanak penunggu pohon beringin itu ketawa dengan suara khasnya karena melihat ada bocah yang bakal ditakut-takuti. Sesampai di pohon beringin ia mendengar suara kuntilanak tertawa. Hik.. hik.. hik… Si kuntilanak menampakan sosoknya yang menakutkan kepada teman saya yang masih bocah itu.

Saking takutnya, ia gemetaran dan tak sanggup melangkahkan kaki untuk lari. Ia hanya berdiri kaku sembari mengingat ayat pendek yang ia hafal. Karena ketakutan, ia lupa dan tak bisa mengucapkan satupun ayat pendek. Ia hanya ingat doa mau makan dan segera ia baca dengan gugup “Allahumma baarik llanaa fiima razaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar

Kuntilanakpun kaget dan berkata “sudah bertahun-tahun gue nakutin manusia, baru kali ini gue mau dimakan sama anak kecil“.

Kaburlah kuntilanak tersebut dari pohon beringin angker itu, dan hingga kini pohon beringin itu tidak ada lagi penunggunya. Ada yang berminat jadi penunggunya?

Kedua, teman sewaktu sekolah.Β  Β 

Pada masa SMA, saya aktif di organisasi Rohoani Islam (ROHIS). Walau saya ikut Rohis, bukan berarti saya jadi teroris. Sampai hari ini saya tidak pernah terpikir untuk jadi teroris.

Secara pemikiran, saya termasuk keras jika bicara soal agama. Bukan berarti saya setuju dengan tindakan kekerasan, cukup pemikiran saja yang keras. Apalagi bicara soal jilbab.

Di sekolah kami sering mengajak teman-teman perempuan yang belum pakai jilbab untuk membuka pintu hatinya agar mengenakan jilbab atas dasar kemauannya sendiri. Kampanye hijab adalah salah satu program kerja kami di rohis.

Suatu hari, datang seorang teman sambil menangis terisak-isak. Ia menceritakan kepada saya bahwa orang tuanya marah pada adiknya yang mau pakai jilbab. Seringkali ayahnya memukul adiknya yang pengen pakai jilbab itu.

Darah saya menggelegar mendengar cerita tersebut. Ayah mana yang tega memukul anak karena si anak cuma ingin pakai jilbab. Padahal pemerintahan daerah juga sudah menggalakan untuk pakai jilbab. Tapi ayah terkutuk itu masih saja melarang anaknya pakai jilbab.

Lalu, saya tanya kepada teman tadi. Kenapa ayahmu murka pada adikmu yang ingin pakai jilbab itu? Ia menjawab, ayah marah karena adiknya laki-laki.

Gedubrakkk… darah saya langsung turun kembali…. πŸ˜€

NB: Cerita garing yang direcycle ulang untuk ikut serta dalamΒ  SIIQEBO ULTAH BIKIN KUIS. Kirai-kira qebo bisa ngakak bin guling-guling gak yah???
Iklan

130 thoughts on “Kuntilanak Bukan Teroris

      1. Maaf, numpang di sini yaa …
        Yang pertama itu rupanya fiksi ya … πŸ˜€

        Yang kedua .. hm .. sudah pernah saya dengar, dulu saya bikin teman sampai bersedih lalu tertawa πŸ˜€

        Suka

  1. di awal baca biasa saja pas baca “Kuntilanakpun kaget dan berkata β€œsudah bertahun-tahun gue nakutin manusia, baru kali ini gue mau dimakan sama anak kecilβ€œ baru dah ngakak hahah…

    Suka

  2. Ngakak guling-guling Ajo di cerita yang pertama. Tadi awalnya takut beneran kirain gimanaaaa gitu. Bahkan kuntilanak kalo mau makan baca doa dulu ya. Dia sampe hapal gitu…

    Suka

  3. Wkwkwkwkwkw….. yang pertama sukses bikin saya ngakak, Jo. Secara kadang-kadang anakku juga suka lupa. Doa mau bobok malah baca doa makah πŸ˜† Lha udah gosok gigi jeh πŸ˜†

    Suka

  4. hehehe…, Ajo bisa aja, kuntilanak lari justru karena mendengar doa mau makan….
    tapi, kalo mau belajar keliru membaca doa mau tidur, apa yang terjadi ya, Ajo….

    gubrak…., laki-laki kok pake jilbab, kabuuurrrr….

    Suka

  5. Ha hahaha….. jempol deh untuk si anak kecil itu… hihi… doa makan bikin kuntilanak kabur. Padahal si anak ketakutan hingga hanya doa makan yang masih nyangkut di kepala yaaa?

    Nah cerita yang kedua…. bukan hanya bikin nyengir, tapi bikin aku terpingkal2 nih Udaaaaa…. hahaha. ya pantes aja si ayah marah, wong anaknya laki2 yaaa? huahuahua

    Suka

  6. “…Walau saya ikut Rohis, bukan berarti saya jadi teroris…” sepertinya harus dijadiin tag nih Jo, klo perlu di SEO kan, dasar orang metro pandai bersilat lidah, katanya ga pernah bilang rohis lah tp maksud sama, katanya dari nara sumber lah padahal mereka sudah persiapkan dengan matang nara sumber yang kira2 sejalan dengan tujuan mereka, halah basi !…

    sorry Jo jd marah2 disini πŸ˜› hihihihi…

    Suka

  7. cerita ini mengingatkan saya pada teman kuliah
    kalo ga salah, teman saya menulis kisahnya dalam buku “mereka melarang saya berjilbab”
    teman kuliah saya itu laki-laki, tapi dia berkeinginan berjilbab
    mungkin terlihat lucu dalam tulisan ini
    tapi ini nyata dalam realita πŸ˜‰

    selamat sore, salam dari Jogja πŸ˜‰

    Suka

    1. Bahkan saya juga pernah melihat seorang laki-laki yang secara nyata memakai jilbab dengan mata kepala saya sendiri… memang kondisi masyarakat kita tidak menerima hal demikian… sebetulnya mereka mempunya hak yang sama, biar itu urusan dia dengan Tuhan..

      Suka

  8. benar-benar kreatif dan bikin aku ketawa..
    cerita pertama emang benar, klo lihat gituan jd lupa semuanya..
    yg bikin ngakak tuh kunti kok bisa mikir gitu..

    cerita kedua makin bikin ketawa..

    Suka

    1. Kayaknya sih begitu bunda… Si kunti iseng bin jail… ehh, tibalah masa ia dijailin sama anak kecil… hehehehe
      di acara reality show misteri gitu, malah hantunya ada yang ngaku jika mereka sengaja ngegangguin manusia..

      Suka

  9. nice story, udah serius2 bacanya eh kecele pas terakhir πŸ˜€
    makasi ya joke2nya, bikin seger lagi, maaaaf baruberkunjung ^_^, makasi ya sudah mampir ke rumah uni

    Suka

  10. g’ cuma darah yang mengalir di nadinya yaa? πŸ˜€
    oh yaa, masalah jilbab, susah lho orang2 dlu memperjuangkannya πŸ™‚
    ceritanya lucu. i like it πŸ™‚ bd

    Suka

      1. jangan sampe deeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeehhh….. T_T hiiiiiiiiiiiiihiiihiiiii (*tuh kan kaya orgil lagi………

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s