Ngepos via Hape

Pianggang

Sebelum memulai nulis, saya coba untuk membuka kamus online dan menterjemahkan kata pianggang ke bahasa Indonesia. Ternyata pianggang merupakan bahasa Indonesia toh, awalnya saya mengira pianggang hanya familiar dalam bahasa minang saja.

Dalam kamus tersebut pianggang berarti belalang kecil perusak tanaman padi. Pianggang yang dalam bahasa latin Leptocorisa varicornis merupakan jenis serangga keluarga Alydidae  yang berbau busuk. Serangga ini mengeluarkan bau busuk apabila dipencet dengan tangan.

Jika yang memencet bukan tangan, tapi gigi. Masihkah pianggang mengeluarkan bau? Sepertinya masih, cuma tidak bisa diindra dengan hidung karena tertutup oleh mulut.

Pengalaman seperti itu yang terjadi saat saya makan gado-gado. Padahal gado-gado tinggal tiga sendok lagi. Di sendok ketiga sebelum habis terasa keriuk gado-gado. Rasanya gak pernah masukin kerupuk atau apapun namanya yang bisa bikin keriuk.

Karena merasa ganjil dan rasa gado-gado mulai aneh, maka saya muntahkan suapan ketiga tersebut. Saat ditengkok, ternyata isinya pianggang. Dua sendok terakhir tak sanggup lagi untuk dilanjutkan. Langsung ambil air dan kumur-kumur sampai bersih.

Agak jijik juga sih. Saat tidak termakan saja pianggang sangat menjijikan dari baunya yang busuk itu. Apalagi saat termakan, tentu lebih menjijikan.

Apa mau dikata. Salah saya juga, gak liat-liat dulu sebelum menyuap makanan. Coba kalau tadi pianggangnya terlihat, mungkin gak bakal nyampai ke mulut dan terkunyah gitu.

Adakah para narablog mengalami pengalaman yang terjadi pada saya diatas dimana baru sadar ada binatang atau apapun itu yang termakan dan baru mengetahui setelah masuk kedalam mulut?

Iklan

45 thoughts on “Pianggang

  1. wadeww .. membayangakan itu pianggang masuk mulut …
    belum pernah sih punya pengalaman serupa, pernah lihat ulat di makanan yg kupesen, tapi ketahuan dulu jadi ngak kemakan

    Suka

  2. pianggan,,,, mungkin di daerah saya namanya kungkang, hidupnya di sawah termasuk salah satu hama juga…

    pernah gan, agak sering malah tapi dalam minuman… semut gan…hehe

    Suka

  3. Kalo di Jawa ini sepertinya yang disebut sebagai … Walang sangit … Jo …
    Mengenai pengalaman tak sengaja memakan binatang ini ? …
    mmmm seingat saya … belum pernah …
    dan jangan sampai pernah … 🙂

    Salam saya Ajo

    Suka

  4. Kalau di Jawa … ini namanya Walang sangit … kalau tidak salah Jo …

    Mengenai tak sengaja memakan binatang ini ?
    seingat saya … belum pernah … (dan jangan sampai pernah …)

    Salam saya Ajo …

    Suka

  5. biasanya sih semut ya, di makanan atau minuman gitu.
    rasa semut itu khas, haha, jadi mudah dikenali di mulut & segera dimuntahkan.
    tapi pernah juga kok pas minum, udah “glek”, baru sadar: oh itu tadi semut ya? ketelen deh! yowis lah! 🙂

    Suka

  6. Kalo saya pernah Ajo (bener ini panggilannya bukan Uda?) punya pengalaman sesuatu masuk ke dalam mulut. Waktu saya makan gudeg ternyata ada (maaf) gigi utuh beserta akarnya. Langsung saya muntahkan dan sampai sekarang gak sanggup lagi makan yang namanya gudeg.

    Suka

  7. Alhamdulillah, belum pernah ngalamin hehe
    Tapi saya pernah beli ikan sambal di warung nasi (biasa, anak kost), ternyata ikannya ada belatungnya di dalam 😦 . Parahnya, saya sudah makan setengah dan baru nyadar pas mulut rasanya kok gatal-gatal. Langsung berhenti makan dan gosok gigi.
    Trauma 😦

    Suka

      1. Tuh kaaan 😦
        Ah, jadi yesel cerita huhu.
        *kasih ember buat nampung muntahnya kak Ajo -_-‘

        Tapi kan ini bisa jadi semacam ‘peringatan’ bahwa sebaiknya hati-hati makan makanan warung / resto. Saya punya kenalan seorang kakak di FLP Aceh, hmmm, beliau makan sekeluarga bersama suami dan anak-anaknya di resto (tidak tahu resto di Aceh, luar Aceh, apa luar negeri) dan mendapati bahwa makanannya ada kecoak -_-
        Seorang kakak yang lain, makan nasi goreng dan ada ulatnya (pada tomat).
        Kok kedengarannya malah lucu ya 😀

        Suka

      2. hahahahah… jangan ember bocor ya risma… hihihi

        kalau kecoak mah pernah juga hampir kemakan sama saya yang nangkiring dalam ketupat…. tapi gak sejiji pianggang ini.. apalagi belatung.. hihihih

        Suka

    1. Sebenarnya belatungnya itu aman dimakan, malah berprotein tinggi. Yang tidak aman itu ikannya, kalau sudah busuk ada bakteri yang bisa mengakibatkan sakit perut.
      Jadi kalau ketemu lagi kasus seperti ini, maka ambil saja belatungnya, buang ikannya. He he….

      Suka

  8. Hehe…
    Sebenarnya saya bisa saja kembali ke warung tersebut dan mengatakan yang sebenarnya, serta meminta pertanggungjawaban (ciee, bahasanya 😀 ). Tapi saya nggak enak, mungkin ibu tersebut nggak bermaksud menjual ikan yang sudah ada belatungnya begitu. Dugaan saya, itu ikan sudah lama, digoreng lagi dan disambal. Rumah makan kan biasa begitu. Jadinya, saya nggak mau beli lagi ikan yang sudah disambal. Kalau ingat kejadian itu, rasanya sedih 😦 plus trauma. Mana saya saat itu makannya lahap, karena kebetulan lagi lapar. Tak tahunya ada penghuninya, huh 😦

    Suka

  9. “Jika yang memencet bukan tangan, tapi gigi. Masihkah pianggang mengeluarkan bau? Sepertinya masih, cuma tidak bisa diindra dengan hidung karena tertutup oleh mulut.”
    Kurang tepat nih. Ini akan lebih terasa baunya. Karena mulut dan hidung dihubungkan dengan saluran. He he…

    Saya pernah disodori makanan dari warung yang diatasnya ada kecoa mati. Saya buang kecoaknya, baca bismilah dengan lebih khusus dan khusuk, lalu makan terus saja.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s