Opini

Kursi Kosong Elit Politik

Entah kenapa kurang tertarik nulis perihal politik, meskipun lulus kuliah dari jurusan politik. Terutama nulis di blog, males banget posting soal politik. Awalnya, begitu ngotot ambil jurusan politik, padahal sebelumnya sekolah di jurusan Teknik. Agak aneh memang dan sedikit kontradiktif.

Lebih aneh lagi melihat tingkah laku elit politik negeri ini. Katanya demokrasi yang dianut negara kita berkiblat ke Amerika. Namun, elit negeri ini tak kunjung sujud kepada elit Amerika yang cukup matang berdemokrasi.
Kasus terakhir yang layak jadi komparasi kali ini adalah pemilihan presiden Amerika dengan pemilihan gubernur DKI Jakarta. Meski berbeda level, keduanya sama-sama akan menyelenggarakan pemilu diwaktu mendatang yang saat ini juga sama-sama dalam proses “kampanye” walau dalam skala yang berbeda.

Saling sikut, saling sindir dan saling ejek tak dapat dihindari. Mulai dari hal yang berbau SARA sampai pada hal yang menyangkut pribadi. Lihat saja dalam pemilukada DKI Jakarta yang sarat dengan sikap saling memburukkan calon lain.

Mungkin saja itu ulah tim kampanye atau bisa juga dari karakter pemimpin itu sendiri yang mudah tersinggung jika disindir. Lalu kelabakan dengan sindiran tersebut dan membalas dengan tidak bijak. Jika tim kampanye tidak bijak menanggapi suatu isu maka akan berakibat fatal nantinya.

Berbeda dengan elit politik di Amerika. Dengan cerdas Clin Eastwood seorang aktor dan sutradara ternama menyindir obama pada konvensi Partai Republik dengan berbicara pada kursi kosong yang digambarkan sebagai kebijakan Obama yang gagal memenuhi janji politiknya dan membangun ekonomi Amerika.

Sindiran tersebut tidak dibalas dengan responsif oleh Obama maupun tim kampanye Obama. Menimpali sindiran itu, tim kampanye Obama membalas dengan menampilkan Obama yang duduk di kursi Presiden melalui akun twitter Obama. Selain itu, dalam pernyataanya Obama bukannya berang, tapi malah memuji Clin Eastwood sebagai aktor yang hebat dan sutradara yang sangat hebat.

Hal-hal sepele inilah yang jarang kita temui pada elit politik di negeri ini. Menyikap dengan bijak segala tudingan, cacimaki dan sindiran. Hal tersebut akan berdampak bagus bagi proses pendidikan politik dinegeri kita ini bila elit politik santun dalam bersikap dan berkampanye. Jangan cuma saling sikut untuk kursi pemimpin.

Iklan

20 thoughts on “Kursi Kosong Elit Politik

  1. “Kuris Kosong Elit Politik”
    Kuris itu apo da ajo?
    saya juga nggak suka bahas politik dan lebih tepatnya nggak mengerti walau bekerja di pemerintahan dengan latar belakang pedidikan science :mrgreen:

    Suka

  2. Kalo dari segi demokrasi mah kita emang kalah jauh ya uda, dari pemilihan pemimpin daerah aja misalkan kita seperti memilih kucing dalam karung. Aspirasi rakyat pun terkadang sulit untuk masuk “seutuhnya”

    Suka

  3. Saya sebenarnya tipe orang yang nggak suka politik. Kenapa? Karena menurut saya, politik itu sesuatu yang ribet dan banyak orang yang doyan ngomong didalamnya. Politik sesuatu yang membingungkan! -_-‘

    Namun, selama kuliah, pelan-pelan saya mulai belajar memahami politik. Yah, walau nggak banyak dan nggak ngerti-ngerti amat, hehe… Minimal tahu sedikit tentang dasarnya dan berita terkini. Biar nggak apatis πŸ™‚

    Suka

  4. Elit politik itu gambaran dari pemilihnya Jo. Jadi secara garis besar kita rakyat ini jelek, kurang cerdas dan kurang taktis. akibatnya yah begitu pulalah kualitas pemimpin yg kita pilih, cuma pandai bermain emosi dan tidak dilengkapi otak πŸ™‚

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s