Opini

Biaya Berobat Masih Terasa Mahal

Rasanya tidak ada orang yang kepengen masuk rumah sakit. Sebab rumah sakit bukan bak hotel bintang lima yang bisa berleha-leha. Kalaupun ada rumah sakit memiliki fasilitas hotel bintang lima, tetap saja orang gak mau masuk rumah sakit karena bukan fasilitas yang menjadi alasan, tapi penyakitnya itu lho.

Makanya pepatah bilang ingat sehat sebelum sakit. Kalau udah sakit terasa sekali bahwa nikmat sehat itu begitu sempurna. Manakala sedang didera penyakit, barulah kita sadar bahwa hidup sehat itu penting. Kadang penyakit tidak bisa diprediksi kapan datangnya. Penyakit merupakan bentuk lain dari misteri Tuhan. Namun, manusia sebagai makhluk yang berakal tentu memiliki upaya untuk menyembuhkan aneka penyakit yang diderita. Manusia hanya bisa berusaha, toh keputusan untuk menyembuhkan tetap berada di tangan Tuhan.

Kemampuan manusia menangani penyakit dalam tubuh menjadi sebuah ilmu pengetahuan tersendiri dalam dunia medis. Seiring dengan mengakarnya sistem kapitalisme dalam setiap aspek kehidupan, maka dunia medis tidak bisa terhindar dari gerogot kapitalisme ini. Terkadang rumah sakit yang menjadi pintu terakhir untuk mengobati penyakit juga terkotak-kotak oleh sistem kapitalis.

Bagi mereka yang tergolong kaya bisa memporeh akses kesehatan layak yang setara dengan pelayanan hotel bintang lima. Berapapun biaya pengobatan bisa mereka bayar dengan kemampuan ekonomi mereka yang mapan. Sementara mereka yang tergolong kurang mampu dan miskin memiliki akses terbatas dalam pelayanan kesehatan. Jangankan biaya untuk berobat di rumah sakit, biaya untuk makan dan kehidupan sehari-hari mereka saja masih ngos-ngosa.

Disini perlu peranan negara dalam melindungi kaum miskin tersebut untuk bisa memperoleh akses kesehatan dangan mudah, murah dan kapan perlu gratis. Dalam dunia kapitalis, tidak ada yang gratis. Ketika negara tidak mampu membendung sistem ini agar tidak kebablasan dan merugikan rakyat miskin, maka negara tersebut masuk pada jurang kegagalan.

Oleh karena itu, negara melalui komponen yang ada berupaya untuk mengatasi problematika kesehatan rakyat miskin. Namun, kendala yang dihadapi tidak semudah yang dibayangkan. Dibalik kendala-kendala itulah rakyat miskin masih menjerit dengan rasa sakit mereka.

Pilihan terakhir bagi kaum papa adalah berobat melalui jalur alternatif. Dengan pergi ke dukun, tabib dan orang minang menyebutnya dengan barubek kampuang (berobat kampung). Berobat di jalur alternatif ini tidak perlu dipusingkan dengan biaya mahal akibat perang harga industri farmasi yang diberada dibawah kerangka kapitalisme. Cukup dengan membawa sesuatu seusai dengan persyaratan, lalu minta doa kepada “orang pintar” supaya bisa disembuhkan dari penyakit. Toh, yang menyembuhkan penyakit hanya Tuhan. Kenapa tidakย  berobat di jalur alternatif, dalih mereka.

Bisa juga kok, dibawa ke klinikk Tong Fang… hehehehe

Iklan

9 thoughts on “Biaya Berobat Masih Terasa Mahal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s