Gak Penting Yaa

Resiko Berobat ke Dokter Kulit dan Kelamin

Poli Kulit dan Kelamin (sumber gambar: http://media.viva.co.id)Seorang nenek tua terheren-heran melihat sosok anak muda yang tampak sehat dan gagah duduk di ruang tunggu rumah sakit. Kursi ruang tunggu tersebut persis berada dekat pintu masuk poli kulit dan kelamin. Berhubung dokter spesialis kulit dan kelamin belum datang, maka satu persatu kursi ruang tunggu terisi penuh oleh pasien.

Anak muda itu tampak resah dan gelisah. Sementara nenek tua tidak memalingkan pandangannya kepada anak muda itu. Untuk memecah kebuntuan, nenek tersebut mengajak si anak muda berbincang sembari menunggu kedatangan dokter. Dengan nada curiga, si nenek bertanya penyakit anak muda tersebut. Si anak muda mengaku ia menderita penyakit kulit. Namun, nenek tak percaya. Lalu, ia bertanya ia bertanya kembali dimana letak penyakit kulit anak muda itu.

Tak lama berselang, anak muda itu menjulurkan tangannya kehadapan si nenek. Lagi-lagi nenek tak percaya karena tangan anak muda tadi tampak mulus dan sehat. Lalu ia bartanya lagi, apakah ada di tempat lain. Anak muda menjawab ada dibagian kakinya. Tapi kali ini ia enggan memperlihatkan kakinya kepada nenek nyinyir itu.

Keengganan itu membuat nenek semakin curiga bahwa anak muda itu bukan untuk mengobati kulitnya, tapi mengobati kelaminnya. Beginilah salah satu resiko berobat ke dokter spesialis kulit dan kelamin.

Perihal tentang kata yang menyangkut kelamin ini masih merupakan hal yang tabu ditengah masyarakat kita. Kalaupun ada masyarakat yang mengalami penyakit kelamin, kemungkinan mereka tidak mau berobat ke dokter karena rasa malu. Biasanya penyakit kelamin rata-rata disebabkan oleh hubungan seksual yang tidak sehat. Hubungan bukan suami istri atau seringkali berasal dari hubungan yang terjadi dalam industri sex yang berserak dipinggir jalan tanpa menggunakan “pengaman”.  Jika tidak ingin malu, maka jangan sekali-kali berkecimpung di dunia industri yang tersebut diatas.

Jangankan penyakit kelamin, mengalami penyakit kulit saja masih dituduh sama orang menderita penyakit kelamin. Apakah ini karena pengetahuan tentang kulit dan kelamin itu merupakan satu kesatuan dalam ilmu medis? Entahlah!! Kenapa tidak dipisahkan saja dokter kulit dengan dokter kelamin atau dokter kelamin sudah dikenal pula dengan dokter spesialis urologi. Mungkin ada bisa yang membantu untuk menjawab pertanyaan diatas!

Iklan

26 thoughts on “Resiko Berobat ke Dokter Kulit dan Kelamin

  1. Saya saja yg tua enggan duduk di depan tempat praktek dokter kulit dan kelamin. pernah telapak tangan saya eksim gara2 megang sabun cucian, terus harus ke dokter. maka saya paksa suami ikut ngantar…

    Suka

  2. Kalau diperlakukan seperti itu ya gimana orang mau ke dokter yak.. hmmmm…. seharusnya masyarakat indonesia lebih empati dengan orang lain yang sedang berobat, bukan malah menuduh.. ckckckck

    Suka

  3. iya ya … jadi bisa mbayangin tuh gimana gak enaknya ditatap2 orang seperti itu
    andaipun penyakit kelamin, ada urusan apa coba
    emang neneknya aja yang usil

    tapi kalau dipisah tempat praktek dokter kelamin dan kulit kayaknya boleh juga tuh, jadi ngantrinya gak terlalu panjang hehehe

    Suka

  4. antara neneknya yang usil atau si anak muda yang terlalu malu, padahal kalau mau normal, biasa aja juga gak apa (kayaknya c gitu)
    *sambil ngebayangi kalau sy yang ke dokter kulit

    Suka

      1. kalo menuru logika saya. mungkin sengaja di jadikan 1 supaya org yg kena penyakit kelamin itu tidak malu klo sedang mengantri . seolah2 dia mau berobat karna penyakit kulit. mungkin klo penyakit kelamin di pisah .dan banyak yg ngantri itu akan jadi hal negatif dr pandangan masyarakat

        Suka

  5. seharusnya dia tingga nunjuk ke arah kelaminnya kalau memang sakitnya disitu. biar si nenek gak nanya2 lagi. atau bilang ke si nenek “kasitau gak ya…” 😆

    Suka

  6. Penyakit kulit digabung dengan kelamin karena keduanya sama-sama menangani infeksi luar dan penyakit antar keduanya juga mirip2.. Kalau urologi itu menangani kasus dalam terutama untuk pria, kalau untuk wanita biasanya ke ginekologi.

    Suka

  7. Dok saya laki laki umur 27 tahun,masih perjaka, saya lum pernah pacaran apa lagi melakukan hal itu, di bagian selangkangan saya di area ketiak dekat telor sering gatel dok itu kenapa ya

    trims…

    Suka

  8. Mungkin saya bisa jelaskan, hampir semua efek penyakit kelamin itu larinya ke kulit sehingga spesialisasi tersebut digabungkan. Jika spesialisasi disfungsi ereksi ke urologi.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s