Ngepos via Hape

Sedekah dari seorang nenek

Ditengah panas nan terik, seorang nenek berjalan menghampiri pintu mesjid tanpa memakai mukenah. Ia tertatih berjalan sambil menggengam secarik kertas berwarna kecoklatan. Rupanya kertas tersebut selembar uang lima ribu rupiah.

Saat yang lain tengah khusyuk salat zuhur, si nenek malah tampak kebingungan. Bingung mencari kotak amal mesjid. Lalu, ia bertanya kepadaku. Lantas aku tunjuk saja salah satu dari tiga kotak amal yang terletak tak jauh dari pintu mesjid.

Dengan gemetaran si nenek memasukan uang kertas yang sedari tadi ia genggam. Lalu si nenek kembali berjalan menjauhi mesjid.

Jiwaku serasa dihantam banjir bandang. Nenek yang serenta itu saja begitu semangat untuk bersedekah. Meskipun ia ke mesjid tidak untuk salat berjamaah, tapi ia telah menunaikan ibadah melalui sedekah.

Siapa yang tau nenek itu pikun atau tidak? Kalau tidak pikun, kenapa ia kambali dan tidak salat berjamaah. Atau bisa saja nenek tersebut jelmaan malaikat berupa manusia yang menguji diriku. Mana sedekahku?

Entah dari mana asalnya. Yang jelas sedekah sebuah keniscayaan. Sedekah merupakan bentuk syukur atas karunia dan rezeki yang kita dapat. Tuhan tidak akan menuntut seberapa banyak kita bersedekah, tapi seberapa ikhlas kah kita akan harta yang kita keluarkan untuk amal.

Ketika kehilangan sesuatu barang atau apapun itu. Maka aku langsung berpikir, kehilangan yang menimpaku apakah karena aku kurang bersedekah. Itulah efek kurangnya sedekah yang terasa dalam kehidupan nyata, pikirku.

Iklan

22 thoughts on “Sedekah dari seorang nenek

  1. β€œAllah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. ” (TQS. Al-Baqarah : 276).

    Suka

      1. samo samo, hhe, kuliah di UIN yo ? eja caliak dari fb banyakn mutal friend nyo anak UIN,,heheh πŸ™‚

        Suka

  2. itu yg namonyo tapuak dado tanyo salero….jikok tajadi sesuatu kadiri awak jan sampai manyalahi yg lain…kembali suruik kabalakang…..dapek nikmat ndak basyukur sm cando kacang lupo jo kulik…..” la’in syakartum laazhidannakum wa la’in kafartum inna ‘azhabi la syadid”… saketak bagi bacacah banyak bagi babilang…kok saketek razaki basarakah kok bnyak bajakaiklah…tp yg terpenting bersyukur

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s