Ngepos via Hape

Susahnya Jadi Ustadz

Ada beban moral yang melekat bagi para lulusan universitas islam, apalagi lulusan IAIN (Institut Agama Islam Negeri) yang sekarang bermetamorfosa menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Dalam masyarakat telah terbangun persepsi bahwa lulusan kampus islam pandai berceramah di mesjid. Banyak penceramah, terutama di bulan ramadhan ini yang jebolan universitas islam.

Berceramah bukan sekedar orasi layaknya juru kampanye. Ceramah di mesjid merupakan salah satu metode dakwah dari sekian banyak metode. Banyak cara berdakwah lainnya, tidak hanya berceramah di mesjid. Selain memahami tentang agama, perlu juga diperkuat dengan ilmu dakwah. Supaya yang disampaikan efektif dan tepat sasaran.

Jarang sekali dijumpai ceramah yang inspiratif dan menyentuh sisi kemanusian para pendengarnya. Islam tidak hanya bisa dilihat dari kaca mata fiqih saja yang kebanyakan dibahas oleh para ustadz. Islam bisa pula dipahami dari sudut sosial, ekonomi, filsafat dan sains. Dari sudut pengetahuan yang rumit inilah perlu penyederhanaan yang mudah dipahami oleh masyarakat awam.

Ilmu agama yang luas saja tidak akan cukup jikalau tidak dibarengai dengan cara penyampaian yang tepat. Selain itu, tak sedikit ceramah yang menebar kebencian. Sehingga berujung dengan respon kekerasan bagi para masyarakat awam yang tidak bisa menyaring ceramah tersebut.

Untuk itu, menjadi seorang penceramah bertitel ustadz itu tidaklah gampang. Tanggung jawab moralnya cukup besar. Gak lucu khan, seorang ustadz mengajak kebaikan sementara sikap dirinya jauh dari kata baik. Disitulah beratnya menjadi seorang penceramah berstatus ustadz.

Suatu ketika, seorang ibu baru sadar bahwasnya saya adalah lulusan universitas islam. Mendengar kata IAIN langsung si ibu mengaanggap saya pandai berceramah layaknya ustadz di mesjid. Anggapan tersebut keliru sama sekali. Tidak semua mahasiswa jebolan IAIN terlahir menjadi ustadz. Sebab jalan dakwah tidak hanya di mesjid, tapi bisa juga berdakwah di tempat lain. Disinilah beratnya beban moral sebagai lulusan IAIN. @garammanis

Iklan

22 thoughts on “Susahnya Jadi Ustadz

  1. tugas semua muslim emang berdakwah, bukan?
    menyampaikan, dan mengingatkan…
    sukses terus kuliahnya Kak.
    dimanapun kita berada, jadikan itu ladang dakwah untuk kita ^^

    Suka

  2. hmm, bisa juga dibalik mas, kalo masyarakat udah berpikir gitu, ayo berlomba2 bisa memberi nasehat kepada yg lain, kalo ustadz (guru) bisa ceramah dimana2, kan bagus kalo lulusan UIN bisa segala macam, apalgi kalo bisa ceramah, wahh kereen banget 🙂

    salam semangat jadi penceramah (ustadz=guru) bukanperantau

    Suka

      1. Semangat mencari pengetahuan 🙂

        mari sama-sama belajar

        salam hangat bukanperantau 🙂 🙂

        Suka

  3. baatua jo kunn….mbo sendiri mnjalani wlupun mbo cuma tamatan MAN tp org kampung menganggap kt it mampu…tp kta jg hrus ttp berusaha & beljar…sampaikanlah yg baik it walau satu ayat…….

    Suka

  4. terkadang sebagian masyarakat (terutama orang di kampung) beranggapan bahwa sekolah agama tinggi berarti pandai berceramah.padahal kenyataannya tidak semua orang punya kemampuan untuk berceramah yang baik..saya juga mengalami hal serupa,padahal saya cuma beberapa hari di pesantren..tapi tetap saja kita tidak boleh menjadikan ini sebagai alasan bahwa berceramah itu tidak penting,dakwah memang bukan cuma berceramah,yg lebih baik adalah bil haal..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s