Gak Penting Yaa

Dari Pariaman ke Lengayang

Tepat pukul 3 sore. Saya meluncur dari kota pariaman menuju lengayang. Sesampai di kawasan teluk bayur hingga bungus berjejer pemandangan indah samudera hindia yang memanjang. Sedikit diantara saudara-saudara kita memetik rezeki dari pesona indah pantai yang telah diciptakan Tuhan Yang Maha Esa.

Tibalah saatnya untuk melepas penat sejenak di sebuah mushala sederhana di bukit lampu. Di sana keikhlasan dan rasa syukur saya benar-benar diuji oleh seonggok kotak yang berdiri setia di pintu masuk toilet yang terletak di sebelah mushala. Di samping kotak berdiri seorang nenek tua yang sekali-kali menimbang dengan tangan lemahnya isi kotak itu. Hati siapa yang tidak tersentuh melihat nenek yang sudah uzur masih berkuras mencari sesuap nasi dengan berdagang dekat mushala. Daya tarik mushala tersebut di mata musafir masih kalah jauh dengan mesjid yang tidak jauh dari sana.

Begitulah kompetisi hidup. Siapa yang kuat merkalah yang bertahan. Kekuatan nenek itu mampu menjadi inspirasi bagi kita yang masih sehat dan muda ini. Bertahan dari ganasnya ombak kehidupan yang menerjang dengan silih berganti.

Laut mengajarkan kepada kita betapa ganasnya kehidupan, betapa damainya kehidupan dan betapa indahnya hidup ini. Dari laut inilah warga pesisir menggeliat dengan menaklukan ombak-ombak kecil dan ombak besar sekalipun. Tak salah kiranya orang-orang pesisir atau yang lebih dikenal dengan sebutan orang pasir adalah orang yang keras. Keras karena alam menuntut mereka untuk bertahan.

Setelah dua jam perjalanan, sampai jua di kota Painan. Kota yang menjadi pusat administratif dan pusat politik penduduk Pesisir Selatan, Sumatra Barat. Menurut pengakuan penguasa daerah, warga Pesisir Selatan rata-rata berprofesi sebagai petani, pedagang, nelayan dan pegawai negeri sipil. Di painan inilah saya bertemu dengan pedagang soto. Dari balik gerobak terlihat seperti soto padang. Selera mamaksa saya untuk memesan satu porsi soto padang. Ternyata oh ternyata, baru kali ini saya berjumpa dengan soto padang yang pakai daging ayam. Rasanya seperti makan soto ayam khas Lamongan. Untuk kedua kalinya saya ketemu lagi dengan soto padang berdaging ayam di lengayang.

Sebelum sampai di lengayang, tepat di Surantih, decak kagum datang menghampiri. Toko-toko berdiri tegap disinari cahaya bulan yang waktu itu sedang terjadi fenomena supermoon. Rasanya tidak lagi berada di kampung, tapi sudah berada di kota-kota yang tersentuh pembangunan. Tiba-tiba kekaguman itu sirna seiring muncul kegelisahan akan terjadi tsunami yang sedianya telah diprediksi oleh pakar terkemuka. Jika tsunami itu benar-benar terjadi, habislah kota ini.

Akhirnya tiba juga di lengayang. Negeri yang beberapa waktu lalu diterpa galodo atau banjir bandang. Bencana yang datang tanpa terduga. Lokasi yang terdampak banjir bandang itu hingga kini belum direkonstruksi. Bisa dikatakan pemerintah daerah setempat tidak peduli sama sekali. Buktinya, saya hampir saja menjadi korban susulan dari ketidakpedulian pemerintah ini. Jalan-jalan yang rusak akibat banjir bandang tersebut yang seharusya diberi rambu-rambu hati-hati untuk pengguna jalan. Setidaknya dengan rambu-rambu dari papan saja atau sejenisnya. Jika saya tidak hati-hati, mungkin saja bisa kecelakaan dan meregang nyawa di lokasi banjir badang tersebut.

Iklan

7 thoughts on “Dari Pariaman ke Lengayang

  1. alam selalu memberi pelajaran pada manusia, sayang yang di beri pelajaranya terkadang tidak selalu mau belajar..

    kalau bicara pemerintah sepertinya sama saja gan, gak mau peduli kecuali ada maunya hehehe….

    Suka

  2. Alam takambang jd guru…jikok alam lah bnyak mandatangan bancano,resek2lah tapi kain kito..apo kah kesalahan yg alah dipabuek,jikok disalahan k pamerintah kasadonyo apogunonyo org tuo,ninik mamak,alim ulama,cadiak pandai…jan lah saliang manyalahan…baa kacaronyo generasi yg kan datang bisa labiah baik…ndak akan barubah nasib suatu kaum jikok kaum tu sendiri yg marubahnyo…akan tbo bancano diateh duya krno dek ulah manusia itu sandiri…baa caronyo hiduik selaras jo alam,alam ndak dirusak ekonomi sajahtera…itu yg harus kto pikian kn….sbb lah bnyak bancano di alam Minangkabau..di mulo kanai tembak patuihnyo istano pagaruyuang,simbol Minangkabau….sampai gampo gadang jo galodo…alam takambang jd guru lah ilang…tingga alam yg k diburu tuk mancari hiduik baduya….

    Suka

  3. Ternyata perjalanan itu kalau diceritakan kembali menjadi sebuah tulisan, bisa menghasilkan sesuatu yang berkesan dan menarik ya!

    Tolong ajaan pulo ciek manulih mode ko….

    Suka

  4. wah, jadi inget Pariaman lagi ni Jo..
    momen setahun lalu yang ngga terlupakan di Pariaman, kec. V Koto Timur.. sayang waktu ngga bisa di putar balik… 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s