Gak Penting Yaa

Untuk apa merindu bila harus berakhir pilu

Map picture

Bismillahirrahmanirahim

Di kota inilah aku dilahirkan. Kota kecil yang terletak dibibir pantai barat sumatra. Kini kota yang menjadi tempat hidup ribuan manusia ini tidak lagi menjadi menarik bagi diriku. Perasaannya pengen bangat pergi jauh dari kota ini. Pergi mencari kebahagian yang entah dimana letaknya.

Bayangan negeri rantau nan jauh disana terasa menggiurkan. Namun, tidak mudah untuk meninggalkan kota yang telah mendewasakan diriku ini. Berjuta kisah terukir di kota ini. Meski satu persatu teman telah pergi tanpa ada jejak untuk kembali.

Mereka semua telah terhanyut oleh arus waktu. Hanya aku yang tinggal disini menatap ketidakpastian. Sesekali kisah mereka datang menghampiri. Gelak tawa yang dulu terjalin kini tinggallah sunyi.

Begitukah perjalanan takdir. Tanpa diketahui dan sangat sulit untuk ditebak. Kita semua berdiri diatas takdir masing-masing yang terjalin satu dengan yang lainnya. Keterikatan itu tidak serta merta membaut kita bersua terus menerus karena pada kenyataanya waktu telah menghalangi jalinan kasih kita.

Wahai teman, ukirlah kisahmu untuk menjadi buluh perindu bagi anak cucu mu di kemudian hari. Suatu saat kita akan ditelan oleh zaman. Jangan lupa, sejarah tidak akan merindukan kita bila tidak menebar benih cinta.

Kota ini adalah tanah suci bagi kita yang jauh dari kata sengketa. Meski dulu aku sering berselisih paham dengan kalian. Tapi itu tidak menjadi alasan bagi kita untuk bercerai. Indahnya perbedaan telah terbangun bersama di kota ini yang mengalahkan bangunan megah dari rumah pejabat negara.

Hai kawan, aku coba menghapus luka lara yang menggerogoti jiwaku. Namun, aku tak sanggup melenyapkanya. Sehingga kegelisahan selalu membayangi setiap gerak langkahku. Kita semakin mekar dan mendewasa. Kedewasaan ini membuat saya masih menyimpan suara tawa kita.

Tawa itu selalu terngiang di lubuk sanubari. Melengking seiring dengan detak jantung yang berujung rindu. Tapi untuk apa merindu bila harus berakhir dengan pilu.

Iklan

25 thoughts on “Untuk apa merindu bila harus berakhir pilu

  1. wah mengingatkan temen saya ne… yang sekarang sudah saling berjauhan… bisa berkumpul kembali paling setaun sekali itu juga tidak melulu hehe.

    iya emang kita hanya punya mimpi tapi tak semua terbeli, tapi tak jarang yang tak pernah kita mimpikan malah itu yang jadi kenyataan..

    Suka

  2. teman-teman yang dirantau belum tentu bahagia loh Jo ninggalin kampung halaman. Hal yang sama seperti yang aku rasakan. Walaupun ibukota seperti memberi banyak hal yang tidak bisa aku dapat dikotaku, tapi tetap saja aku punya cita-cita sendiri untuk kembali suatu saat nanti…

    Suka

  3. saba jo kun….bilo mbo pulkam,reunian kito….tmpek mbo marantau kn ko secara ekonomi lumayanlah,tp secara perilaku/tabiat masyarkatnya jauh dr kampuang kito(bukan nyombong lho)..semua prilaku manusia basobok jo mbo dsiko klu ndak taguah iman dsiko bsa msk lurah,agamo antah no yg kbara dsiko samantaro klu mangecek soal agamo ndak tangguang2,po lai bnyak dsiko urang pai suluak tp dlm kehidupan sahari2 ndak nampak makna dr ba suluak…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s