Ngepos via Hape

Tidak ada laki-laki di surau kami

Matahari seakan enggan terbenam takala menyaksikan umat manusia yang sibuk dengan urusan dunia. Jarang peduli dengan panggilan azan magrib yang menandakan pergantian waktu. Siklus waktu sulit untuk dihentikan, malam berganti siang dan siang pun bertukar kembali menjadi malam. Siklus tersebut akan terus berlangsung hingga manusia ini punah dari muka bumi.

Surau kami memang belum roboh. Ia masih berdiri dengan kokoh walau berbentuk bangunan yang jauh dari kata layak. Setumpuk kitab suci dan buku lusuh tergeletak disudut ruang. Tak ada yang melirik bahkan menyentuh selain dua bocah kecil yang ikut bersama neneknya ke surau.

Senja itu, surau masih tampak lengang. Suara azan sayup-sayup terdengar ditengah deret rumah yang berjejer dipinggirnya. Selangakah demi selangkah kaki ini terus tergerak menuju surau yang terletak ditengah rimbunan rumah. Sesampai di tujuan tak ada seorang pun laki-laki kecuali imam surau yang sekaligus merangkap sebagai marbot. Ia adalah orang yang sering di jumpai disana.

Entah kemana para laki-laki penghuni rumah itu. Panggilan untuk para laki-laki agar berbondong-bondong ke rumah ibadah sudah mulai memudar. Surau kami tidak lagi seramai dulu. Surau kini bagaikan bangunan tua yang jarang dikunjungi. Ajakan pak ustadz sewaktu bulan ramadhan lalu supaya salat berjamaah di surau tak pernah dihiraukan.

Sepertinya surau sudah mirip dengan buah durian yang tumbuh sesuai dengan musimnya. Begitu pula dengan surau yang ramai saat bulan ramadhan saja. Imbalan pahala yang berlipat ganda pada bulan ramadhan mampu menjadi magnet tersendiri yang menarik para laki-laki datang ke surau. Setelah ramadhan usai, surau kembali kosong melompong.

Keberadaan surau mulai ditelan zaman. Anak-anak muda lebih memilih duduk berjam-jam di warnet dari pada duduk mengaji di surau. Di surau tidak ada facebook apalagi twitter. Para tetua kampung terlalu konservatif untuk menampung kemajuan teknologi. Surau kurang diminati anak-anak muda karena dipersepsikan hanya sebagai tempat ibadah saja. Aktifitas diluar ibadah yang dilakukan di surau dianggap sebagai perbuatan tabu.

Oleh karena itu, surau tidak lagi ramai. Lelaki muda enggan ke surau karena surau dianggap tidak menawarkan apa-apa selain urusan akhirat saja. Sementara bapak-bapak mereka terlalu lelah bekerja seharian sehingga tak sempat salat berjamaah di surau. Akankah surau terus menerus seperti ini yang kian lengan ditelan waktu?

Iklan

12 thoughts on “Tidak ada laki-laki di surau kami

  1. Mari diramikan….
    Buek pulo geng mudo surau, aktifkan pulo fesbuk dan twitter an nyo.
    Kalau indak ado yang mudo, mari kito yang jadi mudo. Mudah-mudahan ada yang mengikuti.

    Suka

  2. kalau begitu bikin saja warnet di samping surau
    tiap adzan terdengar warnet ditutup, bisa jadi sedikit di antara mereka yang ke warnet ‘terpaksa’ datang ke surau
    hari gini memang mengajarkan kebaikan butuh dengan sedikit paksaan ๐Ÿ˜€

    di kampung saya anak mudanya suka tenis meja, pemudanya jarang datang ke masjid
    takmir masjid akhirnya punya inisiatif beli meja tenis dan diletakkan di samping masjid
    akhirnya masjid sekarang ramai oleh anak muda yg main pingpong, setiap kali adzan mereka harus berhenti bermain dan ikut sholat berjamaah

    Suka

  3. dahulu wkt saya msh kecil surau lumayan jama’ahnya…palagi klu ngaji dlu kami hbz maghrib mulainya…skrng jamaah lbh rame lg sampai2 melimpah kwarung2,warnet & dipersimpangan…..
    program pemerintah nagari menyemarakkan “kembali ka surau”
    tp kenyataannya msh jauh dr yg diharapkan….

    Suka

  4. diMinangkabau surau/mushalla dahulu berfungsi ganda..tempat mengaji Al-Qur’an,tempat belajar bersilat lidah,smpai2 surau jg sbg tempat tidur bg pemuda2 yg blm berumahtangga dsb…

    Suka

      1. ndak ado urang lalok dsurau lai..sbb surau kn lantainyo lah pakai marmer/keramik,klun surau dlu cuma lantai papan tp bsa makmurkan lain surau kn yg bnyak dpamerkan kmegahannyo…

        Suka

  5. sekadar saran utk pengelola masjid/surau, seiring perkembangan jaman dan ilmu, inovasi cara utk mengajak anak2 muda laki2 ke masjid juga perlu, CMIIW ๐Ÿ™‚ salam…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s