Penting Gak Yaa

Maaf, Kami Tidak Sesat

English: Photo of Tabuik festival
Image via Wikipedia

Menjelang subuh, seorang teman mengirimi aku  link artikel di facebook. Artikel tersebut sangat berkaitan dengan kampung halamanku. Sebuah artikel yang membahas tentang syiah di Indonesia. Awalnya aku tidak terlalu menghiraukan artikel ini. Berhubung isi artikel berkait dangan tempat kelahiranku, maka aku tergerak untuk menjelaskan sudut pandangku disini.

Secara garis besar artikel ini menjelaskan bagaimana proses dan penetrasi ajaran syiah di Indonesia. Setidaknya ada empat penetrasi syiah di indonesia, yaitu lewat budaya tabut dan tabot, kawin kontrak (nikah mut’ah), pentrasi kaum intelektual dan lewat narkoba.  Berkali-kali penulis artikel menulis kata sesat sebagai gambaran dari kaum syiah. Secara tidak langsung terkesan bahwa masyarakat yang masih mempertahankan budaya tabut yang berbau syiah ini dianggap sesat pula. 

English: The Tabut festival Nederlands: Repron...
Image via Wikipedia

Disini aku hanya membahas hal yang berkaitan dengan penetrasi budaya, terutama budaya tabut khususnya di Pariaman. Tidak dapat dipungkiri bahwa budaya tabut merupakan tradisi syiah yang dibawah oleh tentara kolonial inggris. Tentara inggris yang berasal dari orang-orang India yang menganut paham syiah juga ikut serta dalam kolonialisasi ini.  Keberadaan mereka di tanah jajahan seperti pariaman dan bengkulu tidak menutup kemungkinan terjadi asimilasi dengan penduduk setempat melalui budaya dan perkawinan.

Salah satu asimiliasi tersebut adalah dengan adanya budaya tabuik dan adanya pemukiman keturunan orang india yang dikenal dengan kampuang kaliang. Pendekatan budaya dan pernikahan itu bukanlah hal biasa dalam pengembangan ajaran islam di nusantara. Tidak hanya dari pengikut syiah saja, tapi pengikut sunni juga menggunakan pendekatan demikian. Perlu diketahui bahwa islam tidak masuk ke nusantara dengan cara-cara kekerasan, melainkan dengan cara damai seperti dengan budaya, perdagangan dan pernikahan dengan penduduk lokal.

Berkait dengan tabut, masyarakat pariaman sudah semenjak dahulu menjalankan budaya ini. Dalam penyelenggaran tidak ada sentimen sekte dalam agama tertentu. Belakangan memang tabut tidak lebih dari sekedar agenda pariwisata kota pariaman. Dengan agenda ini pemerintah dan masyarakat berharap dapat menarik wisatawan lokal dan internasioanl untuk datang ke pariaman kota kecil yang terletak di pesisir barat Sumatra ini.

English: The Tabut festival Nederlands: Foto. ...
Image via Wikipedia

Walaupun masyarakat pariaman menyelenggarakan budaya tabut yang berbau syiah, tidak serta merta masyarakat pariaman menganut paham syiah. Sejauh pengamatan saya sebagai penduduk asli pariaman, belum pernah saya menjumpai aliran syiah disini. Kalaupun budaya tabut ditarik dari segi agama, paling masyarakat pariaman yang mayoritas sunni ini lebih kepada mengenang tewasnya cucu Muhammad SAW, yakni Hasan dan Husain di padang karbala. Walau ada yang menganut paham syiah, tidak seharusnya mereka dihakimii dengan kata sesat. Apalagi menganggap masyarakat yang melakukan budaya berbau syiah dianggap sebagai masyarakat yang sesat.

Aku masih ingat dahulu seorang guru yang menyatakan bahwa pemersatu dari islam adalah akidah. Kita boleh beda secara syariah, tapi tidak secara akidah. Padahal selain itu, Islam juga menghormati mereka yang berbeda secara akidah. Sebab perbedaan adalah sebuah kenisacayaan yang tidak dapat dipungkiri oleh manusia. Janganlah sekali-kali karena alasan perbedaan kita menganggap yang berbeda sebagai orang yang sesat.  Bukankah sesat menyesatkan itu adalah hak prerogatif Allah SWT?

Iklan

32 thoughts on “Maaf, Kami Tidak Sesat

  1. Kalo pandangan saya kita kembali saja ke LAKUM DiiNUKUM WALIYADIN. Daripada memperuncing perbedaan dan saling menyesatkan yang berujung konflik kekerasan, lebih baik saling menghormati dalam perbedaan dengan mengutamakan kerukunan dan memelihara keamanan dan kenyamanan dalam berkeyakinan.

    Adapun jika dipandang sesat, alangkah bagusnya jika saling nasehat menasehati dengan cara yang baik, tidak menggiring opini yang menimbulkan satu sama lain saling membenci. Rasulullah SAW tidak pernah memerintahkan ummatnya berdakwah dengan jalan kekerasan sebagaimana yg beliau contohkan dengan dakwah yang penuh kedamaian. Islam adalah Rahmatan Lil Alamin….

    Suka

  2. Semoga kita semua terhindar dari kesesatan, dan terhindar dari mudahnya menganggap sesat dan menyesatkan. Saling mengingatkan adalah wajib, tetapi “menyesatkan” tahan dulu..

    Suka

  3. Ajo Ramli …
    saya tidak ingin membahas dari segi kaidah agam … karena saya bukan ahlinya

    namun yang ingin saya komentari adalah … Dulu … ketika saya bertugas di Padang selama kurang lebih setahun … saya pernah mendengar acara “Tabuik” di Pariaman ini … dan waktu itu saya takjub sekali … karena banyak sekali khalayak yang menghadiri arak-arakan ini … sangat banyak … Sepengetahuan saya … Ini adalah salah satu event tahunan yang terbesar di Sumatera Barat saya rasa …

    Salam saya Ajo Ramli

    Suka

  4. Saya ingin sekali menonton, atau menjadi bagian malah dari, pagelaran Tabuik ini. Sebuah perayaan seperti ini tentu sangat menyenangkan

    Suka

  5. Sama kayak di Bengkulu, ya Uda … ada tabot pas Muharram.
    Itu memang jejak-jejak Syiah di Indonesia.
    Saya rasa tidak perlu ada sesat menyesatkan, karena justru yang mudah menyesatkan itu biasanya yang paling dekat pada kesesatan.
    Sepanjang iman pada Allah dan berpegang Muhammad Saw sebagai Rasulullah, itulah dia saudara muslim kita …

    Suka

  6. yang berbeda secara akidah saja kita harus tetap saling menghormati, apalagi hanya berbeda syariah.. hmm, semoga tidak ada lagi yang menjudge seperti itu.. salam damai selalu mas 🙂

    Suka

  7. Niat mereka mungkin ingin memurnikan ajaran Islam agar tidak tercampur dengan bid’ah apalagi syirik. Dan Syi’ah sendiri cukup berbahaya karena ada sekte Syi’ah yang menganggap nabi sebenarnya adalah Ali bin Abi Tholib, bukan Muhammad. Sungguh suatu hal yang wajar bila mereka khawatir dengan perkembangan Syi’ah yang bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Bukankah Ali bin Abi Thalib sendiri memerangi Syi’ah?

    Adapun mengenai budaya Tabut yang berbau Syi’ah apakah sesat atau tidak, wallohu a’lam. Saya sendiri tidak terlalu mengerti esensi Tabut ini, apakah ritual memperingati wafatnya Hasan dan Husain seperti yang pernah saya dengar atau bukan.

    Ada baiknya kita tetap berhati-hati tentang masalah aqidah.
    Maaf kalau kata-kata saya ada yang kurang berkenan.

    Suka

    1. Terima kasih atas tanggpannya…
      saya pikir tidak semua sekte syiah yang demikian, hanya sebagian kecil saja seperti yang diperangi ali. Jadi tidak alasan menghukum semua penganut syiah.. terkait tabuik, sekarang tabuik bukan hanya sekedar peringatan hasan dan husain, tapi sudah menjelma menjadi event pariwisata

      Suka

  8. Sudah jelas perbedaan sunni dan syi’ah adalah soal Aqidah… oya yang sudah bilang sesat itu bukan hanya si A si B yg menulis artike.. tapi imam mazhab yg 4pun sudah menyatakan Rafidhah atau syiah itu bukanlah Islam…

    Memang ada syiah itu yanh dinyatakan para ulama tidak keluar dari islam, tapi pertanyaannya apakah syiah sekte itu masih ada? Syiahyang itu sudah tidak ada… mayoritas Syiah yang ada di Dunia ini sekarang adalah Penganut Syiah yang sudah dikafirkan oleh hampir seluruh ulama…

    Suka

  9. Ya akhi wa ukhti jika syariat berbenturan dengan adat seharusnya Adatlah yang harus tunduk kepada syariat bukan syariat yang tunduk kepada adat.

    Wallohu a’lam

    Suka

  10. Syi’ah

    Para pembaca rahimakumullah, akhir-akhir ini banyak orang membicarakan tentang Syi’ah, banyak juga pernyataan dari sebagian tokoh yang menganggap bahwa Syi’ah itu tidak sesat dan bahkan menganggap sebagai salah satu madzhab yang diakui dalam Islam. Apakah memang demikian?
    Berbicara tentang kelompok Syi’ah tidak lepas dari sosok pendiri pertamanya yaitu Abdullah bin Saba’ atau dikenal juga dengan Ibnu Sauda’. Abdullah bin Saba’ pada asalnya adalah seorang Yahudi berasal dari Shan’a, ibukota Yaman. Ia berpura-pura masuk Islam pada akhir-akhir pemerintahan Khalifah Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Abdullah bin Saba’ juga dikenal dengan sebutan Ibnu Sauda’ (anak seorang wanita hitam) karena ibunya berkulit hitam, berasal dari Ethiopia.
    Al-Imam ‘Izzuddin Ibnul Atsir dalam al-Kamil fit Tarikh (2/526) memaparkan bahwa setelah Ibnu Sauda’ berpura-pura masuk Islam, lalu ia pergi berkeliling ke negeri-negeri kaum muslimin seperti Hijaz (Mekkah dan Madinah), Bashrah, Kufah, dan Syam guna mengampanyekan keyakinan-keyakinan sesatnya. Namun dia tidak sanggup melakukan makarnya tersebut hingga akhirnya harus diusir dari Syam secara terhina.
    Kemudian Abdullah bin Saba’ pindah ke Mesir dan menetap di sana. Disebabkan jauhnya penduduk Mesir dari ilmu ketika itu, maka sedikit demi sedikit Abdullah bin Saba’ berhasil menyusupkan akidah sesatnya kepada masyarakat Mesir.
    Dalam al-Bidayah wan Nihayah (7/188) juga diceritakan bahwa Abdullah bin Saba’ menghasut masyarakat Mesir untuk memberontak kepada Khalifah Utsman bin Affan. Dalam orasinya dia menyatakan, “Bukankah telah tetap bahwa Isa bin Maryam akan kembali ke dunia? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mulia darinya, maka atas dasar apa engkau mengingkari bahwa Muhammad akan kembali lagi ke dunia?! Dan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan (kepemimpinan) kepada Ali bin Abi Thalib. Muhammad penutup para nabi sedangkan Ali penutup para penerima wasiat, tentu ia lebih berhak atas kepemimpinan ini daripada Utsman, dan Utsman telah melampaui batas dalam kepemimpinan yang bukan miliknya.”
    Banyak dari masyarakat Mesir yang terprovokasi, mereka mengirimkan surat kepada kabilah-kabilah awam di Kufah dan Bashrah berisi kritikan-kritikan terhadap kebijakan-kebijakan Utsman dan mengajak kudeta sehingga akhirnya mereka pun melakukan pemberontakan yang berujung dengan terbunuhnya Khalifah Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu.
    Pembaca rahimakumullah, setelah terbunuhnya Utsman bin ‘Affan dan digantikan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Abdullah bin Saba’ kembali berulah dengan menyebarkan keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah titisan tuhan, ia juga menyebarkan keyakinan bahwa Ali adalah Pencipta, Pemberi rejeki, dan Pengatur alam semesta.” (Lihat Fathul Bari 12/270)
    Dia juga mencela, menghina, dan mengafirkan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma. (Ar-Risalah fir Raddi ‘ala ar-Rafidhah)
    Demikianlah keadaan Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam dan bertujuan untuk menghancurkan Islam dari dalam, sebagaimana Baulus seorang Yahudi yang berpura-pura masuk agama Nasrani dan memunculkan keyakinan Lahutsiyah (adanya sifat ketuhanan pada diri Isa).

    Awal-Mula Syi’ah
    Perlu diketahui bahwa madzhab Syi’ah tidak pernah ada di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, karena ia baru muncul di akhir-akhir kepemimpinan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.
    Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim rahimahullah menyatakan, “Paham Syi’ah Rafidhah dibuat oleh Ibnu Saba’ yang zindiq. Dia menampakkan sikap ekstrim mendukung Ali dengan propaganda bahwa Ali yang berhak atas kepemimpinan dan adanya wasiat (khusus) bagi Ali.” (Al-Fatawa 4/435)
    Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah dari Madzhab Syafi’i juga berkata, “Abdullah bin Saba’ termasuk zindiq yang ekstrim. Dia memiliki pengikut yang disebut As-Sabaiyah yang meyakini adanya sifat ketuhanan pada diri Ali bin Abi Thalib.” (Lisanul Mizan 3/360)

    Slogan “Mencintai Ahlul Bait” Jembatan Menyebarkan Paham Syi’ah
    Setelah berlalu masa Abdullah bin Saba’ dan para pengikutnya menyebar di berbagai negara, kaum Syi’ah tidak ingin dikenal sepanjang masa sebagai produk seorang Yahudi. Agar madzhab dan keyakinan mereka diterima masyarakat umum, mereka melancarkan propraganda bahwa mereka adalah satu-satunya kelompok yang mencintai ahlul bait dan membela mereka.
    Dengan berkedok mencintai ahlul bait maka dengan leluasa kaum Syi’ah menyebarkan keyakinan-keyakinan sesat yang telah diwarisi dari para pendahulunya; mulai dari mencela, menghina, dan mengafirkan para sahabat, kawin mut’ah, tuduhan ‘Aisyah berzina, taqiyyah, ber-thawaf di kuburan, sampai tingkatan merubah tata cara wudhu’, adzan, dan shalat, serta berbagai keyakinan yang bertentangan dengan ajaran ahlul bait.
    Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Janganlah kalian mencela para sahabatku. Jika salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud maka tidak akan menyamai infak salah seorang dari mereka yang hanya satu mud, dan tidak pula menyamai separuhnya.” Muttafaq ‘alaih
    Berbagai macam tuduhan dan hinaan mereka layangkan kepada pembawa panji Islam, para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sekaligus ulama muslimin. Semua itu mereka lakukan dengan berlindung di balik slogan pembelaan terhadap ahlul bait (keluarga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam).

    Antara Syi’ah dan Ahlul Bait
    Sebagian masyarakat atau pelajar yang tidak mengetahui hakekat sebenarnya paham Syi’ah akan tertipu dengan slogan mereka. Padahal jika ditelusuri ternyata Syi’ah sangat berbeda dengan ahlul bait. Berikut ini beberapa buktinya.
    Seperti diketahui bahwa kaum Syi’ah sangat membenci bahkan mengafirkan Abu Bakar, Umar, juga Utsman. Berbeda dengan ahlul bait, dalam hal ini Ali bin Abi Thalib, sikapnya terhadap Abu Bakar dan Umar adalah seperti yang dikisahkan oleh Abu Ishaq al-Fazari dengan sanadnya sampai kepada Zaid bin Wahb, bahwa Suwaid bin Ghaflah masuk menemui Ali di masa kepemimpinannya. Lantas dia berkata, “Aku melewati sekelompok orang yang menyebut-nyebut Abu Bakar dan Umar (dengan kejelekan). Mereka menganggap bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan seperti itu terhadap mereka berdua. Di antara mereka adalah Abdullah bin Saba’ dan dia lah orang pertama yang menampakkan hal itu.” Lantas Ali menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari menyembunyikan sesuatu terhadap mereka berdua kecuali dengan kebaikan.” (Ar-Risalah fir Raddi ‘ala ar-Rafidhah)
    Bahkan, pendirian Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu di atas juga dinukilkan dalam kitab mereka berjudul Biharul Anwar (32/324), “Ibnu Tharif dari Ibnu ‘Ulwan dari Ja’far dari bapaknya bahwa Ali ‘alaihis salaam pernah berkata tentang orang-orang yang memeranginya, “Sesungguhnya kami tidak memerangi mereka (‘Aisyah dan Mu’awiyah beserta pasukan keduanya) karena mengafirkan mereka, bukan pula karena mereka mengafirkan kami. Namun, karena kami yakin bahwa kami di atas al-haq dan mereka juga yakin bahwa mereka di atas al-haq.”
    Berikutnya, termasuk kebiasaan kaum Syi’ah ialah membangun kuburan seperti istana kemudian berthawaf mengelilinginya. Adapun madzhab ahlul bait adalah sebagaimana wasiat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, “Janganlah kamu biarkan satu patung pun melainkan harus kamu hancurkan, jangan pula kuburan yang ditinggikan melainkan harus kamu ratakan.“ HR Muslim
    Bukti lainnya adalah tentang kawin mut’ah, kaum Syi’ah seperti yang telah diketahui menghalalkan kawin mut’ah. Adapun madzhab ahlul bait adalah seperti yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada perang Khaibar telah melarang melakukan mut’ah kepada wanita.” Muttafaq ‘alaih

    Ucapan Ulama Ahlus Sunnah tentang Syi’ah
    ‘Alqamah bin Qais an-Nakha’i rahimahullah (62 H), “Sungguh Syi’ah telah berlebihan terhadap Ali sebagaimana Nashara berlebihan terhadap ‘Isa bin Maryam.” (As-Sunnah, 2/548)
    ‘Amir Asy-Sya’bi rahimahullah (105 H), “Saya peringatkan kalian dari hawa nafsu yang menyesatkan dan dari kejelekan Syi’ah Rafidhah, karena di antara mereka ada seorang yahudi yang berpura-pura masuk Islam untuk menyebarkan kesesatan mereka sebagaimana Baulus bin Syamil (atau disebut juga dengan Paulus-pen) seorang raja Yahudi yang berpura-pura masuk agama nashara untuk menyebarkan kesesatan mereka.” (Lihat Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah al-Lalika`i, 8/1461)
    Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah (179 H), ketika ditanya tentang seorang yang berpemikiran Syi’ah Rafidhah beliau menjawab, “Jangan kamu berbicara dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan hadits dari mereka karena mereka adalah pendusta.” (Minhajus Sunnah, 1/61)
    ‘Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah (198 H) berkata, “Keduanya adalah agama lain, yaitu: “Jahmiyah dan Syi’ah Rafidhah.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad)
    Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (204 H): “Aku tidak pernah melihat dari para pengikut hawa nafsu yang lebih dusta di dalam ucapan, dan bersaksi dengan saksi palsu dari Syi’ah Rafidhah.” (Al-Ibanah al-Kubra, 2/545)
    Al-Khallal rahimahullah meriwayatkan dari Abu Bakar al-Marwazi, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (yakni Imam Ahmad) tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar, dan ‘Aisyah. Beliau menjawab, “Aku tidak memandangnya dalam Islam.” (As Sunnah karya al-Khallal, 3/493)

    Penutup
    Demikianlah pembahasan ringkas tentang Syi’ah. Sampai detik ini, masihkah kita menilai bahwa Syi’ah tidak sesat atau hanya berbeda dalam masalah fiqih?
    Para pembaca rahimakumullah, walaupun kita telah meyakini kesesatan Syi’ah akan tetapi dalam menyikapinya tetap kita harus mengikuti tuntunan syariat yaitu dengan menjauhi tindakan-tindakan anarkis. Kembalikan urusan mereka kepada pemerintah.

    Wallahu a’lamu bish shawab.

    Suka

  11. Syi’ah

    Para pembaca rahimakumullah, akhir-akhir ini banyak orang membicarakan tentang Syi’ah, banyak juga pernyataan dari sebagian tokoh yang menganggap bahwa Syi’ah itu tidak sesat dan bahkan menganggap sebagai salah satu madzhab yang diakui dalam Islam. Apakah memang demikian?
    Berbicara tentang kelompok Syi’ah tidak lepas dari sosok pendiri pertamanya yaitu Abdullah bin Saba’ atau dikenal juga dengan Ibnu Sauda’. Abdullah bin Saba’ pada asalnya adalah seorang Yahudi berasal dari Shan’a, ibukota Yaman. Ia berpura-pura masuk Islam pada akhir-akhir pemerintahan Khalifah Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Abdullah bin Saba’ juga dikenal dengan sebutan Ibnu Sauda’ (anak seorang wanita hitam) karena ibunya berkulit hitam, berasal dari Ethiopia.
    Al-Imam ‘Izzuddin Ibnul Atsir dalam al-Kamil fit Tarikh (2/526) memaparkan bahwa setelah Ibnu Sauda’ berpura-pura masuk Islam, lalu ia pergi berkeliling ke negeri-negeri kaum muslimin seperti Hijaz (Mekkah dan Madinah), Bashrah, Kufah, dan Syam guna mengampanyekan keyakinan-keyakinan sesatnya. Namun dia tidak sanggup melakukan makarnya tersebut hingga akhirnya harus diusir dari Syam secara terhina.
    Kemudian Abdullah bin Saba’ pindah ke Mesir dan menetap di sana. Disebabkan jauhnya penduduk Mesir dari ilmu ketika itu, maka sedikit demi sedikit Abdullah bin Saba’ berhasil menyusupkan akidah sesatnya kepada masyarakat Mesir.
    Dalam al-Bidayah wan Nihayah (7/188) juga diceritakan bahwa Abdullah bin Saba’ menghasut masyarakat Mesir untuk memberontak kepada Khalifah Utsman bin Affan. Dalam orasinya dia menyatakan, “Bukankah telah tetap bahwa Isa bin Maryam akan kembali ke dunia? Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih mulia darinya, maka atas dasar apa engkau mengingkari bahwa Muhammad akan kembali lagi ke dunia?! Dan adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan (kepemimpinan) kepada Ali bin Abi Thalib. Muhammad penutup para nabi sedangkan Ali penutup para penerima wasiat, tentu ia lebih berhak atas kepemimpinan ini daripada Utsman, dan Utsman telah melampaui batas dalam kepemimpinan yang bukan miliknya.”
    Banyak dari masyarakat Mesir yang terprovokasi, mereka mengirimkan surat kepada kabilah-kabilah awam di Kufah dan Bashrah berisi kritikan-kritikan terhadap kebijakan-kebijakan Utsman dan mengajak kudeta sehingga akhirnya mereka pun melakukan pemberontakan yang berujung dengan terbunuhnya Khalifah Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu.
    Pembaca rahimakumullah, setelah terbunuhnya Utsman bin ‘Affan dan digantikan oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Abdullah bin Saba’ kembali berulah dengan menyebarkan keyakinan bahwa Ali bin Abi Thalib adalah titisan tuhan, ia juga menyebarkan keyakinan bahwa Ali adalah Pencipta, Pemberi rejeki, dan Pengatur alam semesta.” (Lihat Fathul Bari 12/270)
    Dia juga mencela, menghina, dan mengafirkan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma. (Ar-Risalah fir Raddi ‘ala ar-Rafidhah)
    Demikianlah keadaan Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam dan bertujuan untuk menghancurkan Islam dari dalam, sebagaimana Baulus seorang Yahudi yang berpura-pura masuk agama Nasrani dan memunculkan keyakinan Lahutsiyah (adanya sifat ketuhanan pada diri Isa).

    Awal-Mula Syi’ah
    Perlu diketahui bahwa madzhab Syi’ah tidak pernah ada di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan Umar radhiyallahu ‘anhuma, karena ia baru muncul di akhir-akhir kepemimpinan Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu.
    Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim rahimahullah menyatakan, “Paham Syi’ah Rafidhah dibuat oleh Ibnu Saba’ yang zindiq. Dia menampakkan sikap ekstrim mendukung Ali dengan propaganda bahwa Ali yang berhak atas kepemimpinan dan adanya wasiat (khusus) bagi Ali.” (Al-Fatawa 4/435)
    Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah dari Madzhab Syafi’i juga berkata, “Abdullah bin Saba’ termasuk zindiq yang ekstrim. Dia memiliki pengikut yang disebut As-Sabaiyah yang meyakini adanya sifat ketuhanan pada diri Ali bin Abi Thalib.” (Lisanul Mizan 3/360)

    Slogan “Mencintai Ahlul Bait” Jembatan Menyebarkan Paham Syi’ah
    Setelah berlalu masa Abdullah bin Saba’ dan para pengikutnya menyebar di berbagai negara, kaum Syi’ah tidak ingin dikenal sepanjang masa sebagai produk seorang Yahudi. Agar madzhab dan keyakinan mereka diterima masyarakat umum, mereka melancarkan propraganda bahwa mereka adalah satu-satunya kelompok yang mencintai ahlul bait dan membela mereka.
    Dengan berkedok mencintai ahlul bait maka dengan leluasa kaum Syi’ah menyebarkan keyakinan-keyakinan sesat yang telah diwarisi dari para pendahulunya; mulai dari mencela, menghina, dan mengafirkan para sahabat, kawin mut’ah, tuduhan ‘Aisyah berzina, taqiyyah, ber-thawaf di kuburan, sampai tingkatan merubah tata cara wudhu’, adzan, dan shalat, serta berbagai keyakinan yang bertentangan dengan ajaran ahlul bait.
    Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Janganlah kalian mencela para sahabatku. Jika salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud maka tidak akan menyamai infak salah seorang dari mereka yang hanya satu mud, dan tidak pula menyamai separuhnya.” Muttafaq ‘alaih
    Berbagai macam tuduhan dan hinaan mereka layangkan kepada pembawa panji Islam, para sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sekaligus ulama muslimin. Semua itu mereka lakukan dengan berlindung di balik slogan pembelaan terhadap ahlul bait (keluarga Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam).

    Antara Syi’ah dan Ahlul Bait
    Sebagian masyarakat atau pelajar yang tidak mengetahui hakekat sebenarnya paham Syi’ah akan tertipu dengan slogan mereka. Padahal jika ditelusuri ternyata Syi’ah sangat berbeda dengan ahlul bait. Berikut ini beberapa buktinya.
    Seperti diketahui bahwa kaum Syi’ah sangat membenci bahkan mengafirkan Abu Bakar, Umar, juga Utsman. Berbeda dengan ahlul bait, dalam hal ini Ali bin Abi Thalib, sikapnya terhadap Abu Bakar dan Umar adalah seperti yang dikisahkan oleh Abu Ishaq al-Fazari dengan sanadnya sampai kepada Zaid bin Wahb, bahwa Suwaid bin Ghaflah masuk menemui Ali di masa kepemimpinannya. Lantas dia berkata, “Aku melewati sekelompok orang yang menyebut-nyebut Abu Bakar dan Umar (dengan kejelekan). Mereka menganggap bahwa engkau juga menyembunyikan perasaan seperti itu terhadap mereka berdua. Di antara mereka adalah Abdullah bin Saba’ dan dia lah orang pertama yang menampakkan hal itu.” Lantas Ali menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari menyembunyikan sesuatu terhadap mereka berdua kecuali dengan kebaikan.” (Ar-Risalah fir Raddi ‘ala ar-Rafidhah)
    Bahkan, pendirian Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu di atas juga dinukilkan dalam kitab mereka berjudul Biharul Anwar (32/324), “Ibnu Tharif dari Ibnu ‘Ulwan dari Ja’far dari bapaknya bahwa Ali ‘alaihis salaam pernah berkata tentang orang-orang yang memeranginya, “Sesungguhnya kami tidak memerangi mereka (‘Aisyah dan Mu’awiyah beserta pasukan keduanya) karena mengafirkan mereka, bukan pula karena mereka mengafirkan kami. Namun, karena kami yakin bahwa kami di atas al-haq dan mereka juga yakin bahwa mereka di atas al-haq.”
    Berikutnya, termasuk kebiasaan kaum Syi’ah ialah membangun kuburan seperti istana kemudian berthawaf mengelilinginya. Adapun madzhab ahlul bait adalah sebagaimana wasiat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, “Janganlah kamu biarkan satu patung pun melainkan harus kamu hancurkan, jangan pula kuburan yang ditinggikan melainkan harus kamu ratakan.“ HR Muslim
    Bukti lainnya adalah tentang kawin mut’ah, kaum Syi’ah seperti yang telah diketahui menghalalkan kawin mut’ah. Adapun madzhab ahlul bait adalah seperti yang diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada perang Khaibar telah melarang melakukan mut’ah kepada wanita.” Muttafaq ‘alaih

    Ucapan Ulama Ahlus Sunnah tentang Syi’ah
    ‘Alqamah bin Qais an-Nakha’i rahimahullah (62 H), “Sungguh Syi’ah telah berlebihan terhadap Ali sebagaimana Nashara berlebihan terhadap ‘Isa bin Maryam.” (As-Sunnah, 2/548)
    ‘Amir Asy-Sya’bi rahimahullah (105 H), “Saya peringatkan kalian dari hawa nafsu yang menyesatkan dan dari kejelekan Syi’ah Rafidhah, karena di antara mereka ada seorang yahudi yang berpura-pura masuk Islam untuk menyebarkan kesesatan mereka sebagaimana Baulus bin Syamil (atau disebut juga dengan Paulus-pen) seorang raja Yahudi yang berpura-pura masuk agama nashara untuk menyebarkan kesesatan mereka.” (Lihat Syarh Ushul I’tiqad Ahlus Sunnah al-Lalika`i, 8/1461)
    Al-Imam Malik bin Anas rahimahullah (179 H), ketika ditanya tentang seorang yang berpemikiran Syi’ah Rafidhah beliau menjawab, “Jangan kamu berbicara dengan mereka dan jangan pula meriwayatkan hadits dari mereka karena mereka adalah pendusta.” (Minhajus Sunnah, 1/61)
    ‘Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah (198 H) berkata, “Keduanya adalah agama lain, yaitu: “Jahmiyah dan Syi’ah Rafidhah.” (Khalqu Af’alil ‘Ibad)
    Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah (204 H): “Aku tidak pernah melihat dari para pengikut hawa nafsu yang lebih dusta di dalam ucapan, dan bersaksi dengan saksi palsu dari Syi’ah Rafidhah.” (Al-Ibanah al-Kubra, 2/545)
    Al-Khallal rahimahullah meriwayatkan dari Abu Bakar al-Marwazi, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (yakni Imam Ahmad) tentang orang yang mencela Abu Bakar, Umar, dan ‘Aisyah. Beliau menjawab, “Aku tidak memandangnya dalam Islam.” (As Sunnah karya al-Khallal, 3/493)

    Penutup
    Demikianlah pembahasan ringkas tentang Syi’ah. Sampai detik ini, masihkah kita menilai bahwa Syi’ah tidak sesat atau hanya berbeda dalam masalah fiqih?
    Para pembaca rahimakumullah, walaupun kita telah meyakini kesesatan Syi’ah akan tetapi dalam menyikapinya tetap kita harus mengikuti tuntunan syariat yaitu dengan menjauhi tindakan-tindakan anarkis. Kembalikan urusan mereka kepada pemerintah.

    Wallahu a’lamu bish shawab.

    Suka

  12. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara tegas telah melarang kita meniru-niru orang kafir (tasyabbuh).
    Beliau bersabda,مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ“
    Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [HR. Ahmad dan Abu Daud.]

    Suka

  13. maaf.bleh ikut nimbrung kan….begini, saya dlunya waktu msh muda dlu pernah masuk syi,ah di pariaman,tepat nya di balai baru ,toboh mandahiling sekitar tahun 1987-1992….dan terus terang sy katakan syi,ah itu sesat dan menyesatkan karna mereka sudah begitu jauh larinya dari aqidah islam….mereka masuk melalui tarekat syatariyah…dan bersembunyi dlm salah satu ibadah tertinggi mereka yaitu taqiyah…yaitu kondisi luar seseorang dgn yg ada di dalam batinnya tidaklah sama.alias berbohong demi menyelamatkan sekte mreka…bahkan orang2x syatariyah sendiri tdk menyadari klo mereka bersama2x dgn syi,ah….mereka sangat disiplin hanya orang2x tertentu yg bsa berkmunikasi dgn mreka..sementara sy sendiri dlu adlah utusan dri tasikmalaya jabar…tugas sy adlh memprakarsai,pikiran2x syi,ah ke dlm adat istiadat masyarakat pariaman melalui pemuka2x agama di pariaman, pd waktu itu media yg sangat cocok adlh tarekat syatariyah. akn tetapi kmi masuk secara bertahap dan metode agak diperlunak…dan sy mempermainkan mereka sedikit dgn metode hipnotis..bayangkan kmi membutuhkan waktu 3 thn hanya mendapatkan 2 ulama …tdk perlu sy sebutkan siapa namanya….tpi yg jelas disini sy pribadi nyatakan syi,ah sangat sesat..allahuallam……..

    Suka

  14. Tabuik asli budaya syirik, Islam indak ado toleransi bagi pelaku kecuali kekal dinarako. Bagi angku2 meraso halal tabuik ini…pelajari akidahmu sblum ajal menarik ubun2mu.. apakah angku2 ingin jadi orang merugi diakhir nanti..hanya membela budaya syirik ini.. na’u zubillah !!

    Angku2 pembela tabuik akan mati, sy juga akan mati…diakhirat kita lihat siapa diantara kita yg benar dihadapan Allah SWT.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s