Ngepos via Hape

Perempuan Tangguh

Hujan tak bisa menghentikan langkah nenek berbaju kuning ini menjajakan dagangannya. Ditengah rintik hujan, ia berlari mengejar mobil yang berhenti sambil berharap agar orang didalam mobil membeli dagangannya.

Rekan sepedagang nenek ini nyeletuk memberi peringatan. “Jangan hujan-hujanan nek, nanti sakit!”. Nenek tidak peduli, ia tetap bersemangat menjual setumpuk telor asin, beberapa ikat pisang rebus dan sekantong sala lauak.

Betapa tangguhnya nenek-nenek ini. Meski telah menginjak usia di fase uzur, mereka tetap berusaha mengais rezeki.

Iklan

41 thoughts on “Perempuan Tangguh

  1. Banyak wanita-wanita tangguh di sekitar kita.
    Btw kalau baca cerita Guisti, ingat kalau jalan ke Bukiittingi mampir/berhenti di Sicincin yang paling saya cari Telur Asinnya yang benar-benar mantaaap. Terbayangkan kuningnya berwarna orange atau kemerahan dan di tengah-tengahnya seperti titik yang agak lembek. Nikmaaat sekali….
    Sala lauak apalagi…. 🙂

    Suka

    1. foto ini saya ambil di sicincin uda ded… banyak ibu-ibu yang berjualan disana, sebab ciri khas di sicincin ini adalah telur asinnya.. biasanya dijual bareng pisang rebus… tapi sekarang udah ada sala ikan (sala lauak) dan kue bika juga.. 🙂

      Suka

  2. kadang jadi malu menjadi pribadi yang lemah, bahkan nenek saja masih gigih berjuang kita yang masih muda malah mudah patah semangat

    satu hal yang kuamati dari foto di atas, si nenek keren ya….berbaju panjang dan berjilbab 😀

    Suka

  3. Yang seperti ini yang harusnya kita ‘kasih’ lebih sbg bentuk penghargaan atas perjuangannya. Bandingkan dgn pengemis dijalan2? padahal masih muda, sehat jiwa raga, eh..dgn seenaknya menyodorkan tangan dgn wajah memelas…

    Suka

  4. Semoga nenek itu selalu diberi kelancaran rezeki…
    Wah, saya jadi inget seorang nenek di dekat kos saya. Dia terkenal sbg pengemis di perempatan jalan raya. Bahkan dia mendidik cucunya utk menjadi pengemis. Sejauh pengamatan saya sih, kehidupan keluarga itu cukup makmur. Pendapatan salah satu cucunya saja dlm sehari mencapai 90 ribu, dengan mengemis.

    Suka

  5. di sicincin dekat kampungku… selalu terpukau dengan semangat para penjual talua asin.. karena mak tuo ku adalah salah satu pedagang di sana sekian tahun lamanya… sampai akhirnya beliau meninggal dunia satu tahun yang lalu…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s