Ngepos via Hape

Tukang Pangkas Tua

Image via Vintage Metal Art
Image From Vintage Metal Art

Siapa yang pernah potong rambut, tentu kenal dengan barbershop. Itu versi bahasa inggrisnya, kalau versi bahasa minang disebut dengan Pangkeh Rambuik (Pangkas Rambut). Orang yang memotong rambut disebut dengan Tukang Pangkas. Sebagian orang mungkin tidak terbiasa potong rambut Barbershop tapi  biasa di salon, selain bisa keramas juga bisa rebounding.. 😀

Belakangan ini saya seringkali memperhatikan tempat pangkas rambut. Perhatian saya bukan pada tempat pangkas rambutnya, tapi pada tukang pangkas nya. Saya menemukan tempat pangkas rambut yang tukang pangksanya sudah tua, terutama pangkas rambut yang berada di pedesaan. Tukang pangkas tua itu kelihataan masih kuat, rambutnya yang memutih memastikan bahwa usianya tidak muda lagi.

Tukang pangkas tua tersebut sudah sarat pengalaman soal potong memotong rambut. Model yang paling ia gemari adalah model ABRI, sebuah model rambut ala tentara. Biasanya model seperti ini seringkali ia praktekan kepada pelanggan anak-anak. Selain pelanggan anak-anak, tukang pangkas tua ini memiliki pelanggan yang juga berusia tua. Kemana pelanggan yang berusia muda?

Sepertinya dapat dikatakan bahwa pelanggan dari segmentasi usia muda tidak ada di tempat pangkas rambut ini. Entah kenapa, banyak anak-anak muda yang enggan untuk mempercayakan rambutnya kepada tukang pangkas tua. Mungkin karena alasan mode atau mungkin karena takut terjadi resiko tergores pisau cukur bila memotong rambut dangan tukang pangkas tua. Entahlah!!!

Hari-hari tukang pangkas tua di sebuah desa ini terasa suram dan lengang. Tidak ada yang mau singgah ke tempat pangkas rambutnya.  Untung saja istri tukang pangkas tua ini berjualan barang harian di halaman rumah yang kebetulan bersebelahan dengan tempat pangkas rambut milik bapak tua itu. Jadi dengan berjualan barang harian itu setidaknya sudah menutupi kebutuhan sehari-hari, selain berharap uang kiriman dari anaknya di rantau.

Siapa yang berani potong rambut dengan tukang pangkas tua?

Iklan

25 thoughts on “Tukang Pangkas Tua

  1. Jujur saja deh, saya juga gak berani pangkas rambut ke tukang cukur yang belum tahu tren mode rambut, meski begitu saya tetap menghargai usaha mereka itu, karena sudah barang tentu masih banyak orang yang suka dengan mode-mode rambut zaman dulu 🙂

    Suka

  2. Saat di Indo suamiku juga lebih suka memangkas rambut di tukang pangkas terdekat, cukup berumur dan tempatnya tidak se-wah salon di mall, katanya biar usaha kecil tetap berjalan. Tapi kalau disini suami musti mandiri, beli alat pangkas sendiri dan memangkas sendiri, karna kalau mau ke salon harganya bisa hampir 25x lebih mahal daripada tukang pangkas langganannya. 🙂

    Suka

    1. pilihan yang tepat mbak, tetap belanja dan memkai jasa usaha kecil biar tetap bertahan ditengah persaingan kapitalis yang ganas…
      btw, apa bisa potong rambut sendiri ya mbak? apa ndak buruk hasilnya….

      Suka

  3. Waktu kecil saya juga potong rambut seperti ini di DPR (Di bawah Pohon Yang Rindang). Entah mengapa sekarang saya jadi takut dengan pisau cukurnya 🙂

    Suka

  4. aku biasa memotong rambut suamiku sendiri, jadi nggak perlu ke tukang pangkas rambut, krn di sini beda sama di tanah air

    Suka

  5. saya biasa potong rambut dengan teman atau ibu dirumah aja.
    di daerah saya, memang orang muda semua,he.. jarang bpk-bpk tua.
    bpk-bpk tua paling jadi tukang pangkas rambut keliling, itu pun sudah jarang, bahkan hampir ga ada.

    Suka

  6. Ya ampun, kayaknya sekarang udh ga ada yg percaya sama tukang pangkas tua.

    Hehehehe.

    Secara banyak bgt tempat pangkas yg lbh modern.

    Tapi suka terenyuh kalo liat yg kayak gini 😦

    Suka

  7. Jujur, saya ragu kalau menyerahkan kepala ke tukang pangkas yang sudah tua … selain itu juga faktor tempat. Kalau gak meyakinkan, lebih baik tidak … khawatirnya sama saya disulap sama tuanya kayak Bapak Tukang Pangkasnya hehehe 😀 #jahat

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s