Ngepos via Hape

Ndak Kerja, Ndak Makan.

Matahari tepat berada di atas puncak ubun-ubun. Panas semakin terik, seakan membakar siapa saja yang disinarinya. Ditengah panas terik, meluncur sebuah motor usang menuju warung nasi.

Si pengendara bergegas turun dari motornya sambil mengaruk kantong celana. Dari kantong celananya keluar uang ribuan. Uang itu bukan untuk beli nasi, tapi untuk bayar hutang. Hutang atas sepering nasi yang ia makan beberapa hari yang lalu.

Ketika itu ada yang menyela. Kenapa bayar hutang saja pak? Apa gak makan?

Bapak itu menjawab; sekarang gak kerja, ya gak (bisa) beli makan. Mendingan makan di rumah saja, katanya. Makan di rumah lebih efisien dibandingkan makan di warung. Kalau di rumah, anak dan istri juga bisa ikut makan. Jika di warung, hanya ia saja yang bisa makan.

Logika demikian membuat bapak itu harus rela menahan selera. Biarkan dapur rumah terus mengepul, asal gak makan di warung. Pekerjaan yang tak pasti memaksa ia harus pintar-pintar mengatur keuangan agar keluarga di rumah tidak kelaparan.

Itulah sekelumit kisah dari mereka yang belum dihinggapi keberuntungan.

Iklan

37 thoughts on “Ndak Kerja, Ndak Makan.

  1. memang makan di rumah lebih menyenangkan, mengalami sendiri setelah hidup di sini, selain terjamin semuanya memang lebih murah dibandingkan kalau makan di luar

    salut buat bapak itu yg masih mau membayar hutang makannya, semoga rejeki selalu datang ke beliau, makan di rumah juga tak kalah enaknya sama makan di warung

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s