Ngepos via Hape

Mengenal Prosesi Perjodohan di Minangkabau

Akhirnya saya tergerak kembali untuk menuliskan perihal tradisi pernikahan dalam adat di minangkabau. Kali ini saya akan membahas tentang adat babaur (berbaur).

Sebelum membahas lebih jauh, pertama kali saya mencoba untuk menggambarkan bahwa adat pernikahan di minangkabau tidak mesti sama diantara daerah di minangkabau sendiri. Untuk baju pengantennya saja berbeda corak antara satu daerah dengan daerah lainnya. Jadi, perihal berbaur ini tidak selalu ada di setiap daerah di minang. Disini saya coba untuk menjelaskan tradisi berbaur untuk daerah pariaman saja.

Mungkin para narablog pernah mendengar kisah perjodohan siti nurbaya. Setiap membahas soal kawin paksa karena perjodohan, selalu dikaitkan dengan kisah siti nurbaya. Kisah siti nurbaya karya Marah Rusli ini adalah kisah fenomenal yang dikenal oleh rakyat indonesia.Kita dapat melihat keterkaitan kisah siti nurbaya dengan kenyataan dalam adat di minangkabau. Orang sudah banyak yang tahu bagaimana perjodohan Siti nurbaya, tapi tidak banyak yang tahu seperti apa proses perjodohan di minangkabau. Tradisi berbaur inilah yang merupakan wadah perjodohan di minangkabau.

Hingga kini tradisi berbaur ini masih ada. Tetapi tidak seperti tradisi sebelumnya. Dahulu orang cari jodoh ketika prosesi berbaur ini. Artinya, diadakan dulu acara berbaur, baru bisa dapat jodoh. Sekarang terbalik, dapat jodoh dulu baru bisa diadakan acara berbaur.

Bagi keluarga yang mempunyai anak perempuan dan sudah patut untuk menikah, maka pihak keluarga terlebih dahulu mengadakan acara berbaur. Dalam acara ini pihak keluarga mengundang para ninik mamak, urang sumando (suami\istri dari keluarga besar) alim ulama dan pemuda setempat.
Sebelum perjodohan terjadi, acara berbaur ini dihiasi dengan perang mulut atau istilahnya petatah petitih.

Kemudian, para undangan dipersilahkan mengajukan masing-masing 5 ayam. Maksud ayam disini adalah mengajukan 5 orang bujangan yang akan di jodohkan dengan anak perempuan. Pihak urang sumando mengajukan 5 ayam, ninik mamak 5 ayam dan 5 ayam dari ketua pemuda setempat.

Barulah pihak keluarga memilih mana “ayam” yang cocok untuk anaknya. Si perempuan diberikan kebebasan untuk memilih “ayam” dari pihak mana yang akan ia pilih. Setelah ia memilih satu ayam, maka akan ada lagi proses berikut, yaitu manyisiak (menyisir). Dalam manyisiak, mamak dari si perempuan melakukan “jalan malam”. Jalan malam adalah pergi bertamu ke rumah keluarga pihak laki-laki yang telah dipilih oleh kemenakanya.

Jika si laki-laki setuju dengan perjodohan ini, maka dilanjutkan ke proses berikutnya hingga perkawinan. Jika si laki-laki tidak setuju, maka perempuan tadi dipersilahkan memilih “ayam” lain yang diajukan dalam prosesi berbaur tadi. Begitu seterusnya dari ayam satu ke “ayam” satunya lagi hingga si perempuan menemukan jodohnya.

Begitu prosesi berbaur yang terjadi pada masa dahulu. Masa sekarang jarang dijumpai acara seperti itu. Prosesi berbaur masih tetap berlangsung dan tetap terjaga, tapi dalam pelaksanaanya tidak lagi seperti proses diatas. Dalam acara berbaur tidak ada lagi ajang cari jodoh. Lagian pihak keluarga perempuan mengadakan acara berbaur setelah anaknya menemukan jodoh.

Iklan

27 thoughts on “Mengenal Prosesi Perjodohan di Minangkabau

  1. adakah keuntungan mempertahankan tradisi2 buatan manusia..? yang notabene siapa yang membuat tidak diketahui, apa tujuannya dibuat tidak diketahui, bagaimana moral dan ahlaq orang-orang yang membuat tradisi-tradisi itu oun tak jelas. Islam sebagai life style dan ideologi yang diberikan Allah untuk umat manusia lebih jelas kebaikannya.

    Suka

  2. Uda, saya ini berdarah Minang 100% tapi gak tau sama sekali adat dan tradisi Minang karena saya lahir dan besar di Medan. Tapi saya sangat ingin belajar dan mendalami adat Minang, Uda punya referensi dimana saya bisa belajar tentang adat Minang?

    Suka

    1. sebetulnya banyak tempat belajar tentang adat minang, apalagi zaman internet yang memudahkan untuk mengakses informasi dengan mudah… untuk bisa belajar secara langsung, mungkin bisa belajar dengan perkumpulan minang yang ada di rantau dan sekarang juga banyak buku tentang budaya minangkabau…

      Suka

  3. hmmm,…sayang sekali tulisan ini tidak, didukung data empiris, seperti dimana, siapa, kapan terjadinya cerita ini. dengan demikian cerita ini tergolong HOAX…..
    Kepada yang membuat tulisan, saya sarankan kedepn carilah topik yg lebih otentik dan lebih bisa dipertanggunjawabkan. Bila ingin disebut penulis beneran…..Kalau yg begini sih, murahan sekali, sudahlah tidak berkualitas, mengandung kebohongan pula..anak kecil aja gak mau berbuat seperti ini…. just send your respond if any to my email muharmein@yahoo.com.

    Suka

    1. Saya suka dengan komentar yang kiritis dan membangun, tapi tidak asal kritis dan langsung menghakimi, seperti layaknya main hakim sendiri…:) Kalaupun, ada sesuatu yang keliru, semestinya diluruskan dengan bahasa yang elegan. Bagi saya masa bodoh dengan kualitas, toh saya menyampaikan apa yang saya pahami dari pengalaman sehari-hari,
      Terkait masalah referensi, cerita ini saya peroleh secara verbal dari beberapa orang yang pernah mengalaminya, itu berangkat dari pengalaman mereka yang diperjodohkan dengan cara seperti itu. Bagi saya itu sudah cukup sebagai data awal untuk saya menceritakannya disini, di rumah saya sendiri. Saya berhak untuk tidak menuliskan orang yang menceritakan itu, karena alasan menjaga pirvasi mereka.
      Satu lagi, apa yang saya tulis disini merupakan tanggung jawab saya sepenuhnya. Bila ini terkait dengan hukum, saya pun juga siap mempertanggung jawabkannya. Toh, negara ini sudah mempunyai UU ITe…

      Suka

  4. Kalau di Lombok adat yang paling terkenal adalah Perari’an (dilarikan).
    yaitu jalan yang dilakukan oleh calon pengantin pria bila tidak disetujui oleh orang tua calon pengantin wanita. kira-kira begitu Mas. πŸ˜‰

    Suka

  5. Kalau saya baca dari atas sampai selesai, adat ini sudah mengalami perubahan, perubahan ada karena cara pandang yang sudah semakin berkembang, dan sepertinya perkembangan ini baik adanya… karena perjodohan tidak pyurr perjodohan seperti pada siti nurbaya tapi masih ada pilihan… kalo bahasa jawanya Change to Choice…

    Suka

  6. Jujur …
    Saya baru tau kalah ada prosesi adat seperti ini …
    walaupun kini mungkin sudah di “modifikasi” … namun saya rasa … filosofinya patut kita renungkan bersama …
    menurut saya … adat ini mengajarkan kita untuk … Berhati-hati dalam memilih jodoh … atau memilihkan jodoh untuk keluarga kita …

    5 Jejaka dari masing-masing pihak … ini saya rasa juga mengandung makna … bahwa masyarakat/pihak akan menilai … siapa nominasi pemuda-pemuda yang paling siap dan paling layak untuk menikah saat itu …

    Terima kasih telah menceritakan adat-istiadat ini

    Salam saya Gusti “Ajo” Ramli

    Suka

  7. Semoga tradisi ini masih dijaga selamanya, karena menurut saya perjodohan merupakan jalan yang masih efektif untuk mendapatkan pasangan hidup yang baik, karena pilihan orang tua pasti menginginkan anak nya bahagia…

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s