Ngepos via Hape

Tempat Makan Murah, Tapi Tidak Murahan.

Disinilah tempat dimana saya menghabiskan jam makan siang. Tempat yang sederhana dan asri karena disekitar pondok berdiri pohan nan rimbun. Ini bukanlah kantin, apalagi cafe. Tempat ini adalah pondok biasa dimana para petani, buruh bangunan dan kurir pos menikmati makan siang.

Sebelumnya saya pernah menuliskan tempat ini sebelumnya disini. Bahkan kisah beruk juga terinspirasi dari lokasi ini. Dan cerita ini berawal dari pondok sederhana ini.

Harga makanannya cukup murah dibandingkan dengan rumah makan yang ada disekitarnya. Cukup dengan menguras kantong 6.000 rupiah, maka sudah dapat sepring nasi beserta ikan sebagai lauknya. Walau murah, rasanya tak kalah dibandingkan dengan rumah makan lainnya.

Satu hal yang selalu menjadi perhatian saya adalah pengunjung di lapau (warung) nasi ini. Setiap hari pengunjungnya itu-itu saja, tidak ada yang baru. Selalu bapak-bapak tua dimakan usia yang saya temukan di tempat ini. Untuk skala rumah makan kampung, tempat ini dikatakan tidak lebih dari kata ramai. Ramai oleh warga sekitar yang tidak memasak di rumah. Sepertinya segment pasar dari lapau nasi ini adalah para pakiah. Pakiah adalah para santri yang mondok di pesantren yang berada didekat lapau nasi.

Semoga pada kesempatan berikutnya saya bisa menuliskan kisah tentang pakiah ini. Tentunya dengan menggali bahan tulisannya di lapau nasi ini.

 

Iklan

30 thoughts on “Tempat Makan Murah, Tapi Tidak Murahan.

  1. Makan di tempat yang semi terbuka itu memang enak …
    dan jika saya lihat fotonya … sepertinya ini dinaungi rimbun pepohonan …

    jika saya makan disana …
    pasti saya akan “liyer-liyer” (bahasa jawa yang berarti terkantuk-kantuk)
    (bahasa Minangnya … takalok)(eh bener nggak ya ?)

    Salam saya

    Suka

    1. Iya bu monda, bahkan diperkotaan banyak restoran yang bikin konsep seperti warung tempo dulu, tapi disini warungnya alami karena terletak di pedesan. rajin makan disitu karena harga murah dan rasa tak kalah dengan rasa restoran.. πŸ˜€

      Suka

  2. jadi inget warung nasi di kampus yang harganya beda tipis. Jaman semester awal 5000 udah bisa makan pakai ayam goreng. kalo sekarang mah udah 7000an kayanya. udah lama ga ke kampus. hehehe
    btw anak pesantren emang menjadi segment yang menggiurkan untuk di garap. terbukti di kampung saya banyak masyarakat yang buka usaha kaya laundry, warung nasi dll. pokoknya selama ada anak pesantren ekonomi bakalan bergerak maju disini. tumben komen saya panjang :mrgreen:

    Suka

  3. Terakhir saya makan di tempat seperti ini tahun lalu di belakang komplek perumahan Jondul Air Tawar.Makan β€œLauak Pukek”, saat itu menunya adalah pangek masin dan goreng tandeman plus kerupuk jengkol balado. . Katanya tempat makan seperti ini sudah banyak di sekitar pantai di Padang. πŸ™‚

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s