Gak Penting Yaa

Kenangan Indah Seorang Loper Koran

“Hati-hati bawa mobil, nanti nabrak pejalan kaki.” “Semen padang kemarin menang atas arema.” “Sembilan orang tewas ditabrak mobil xenia”.

Begitu bunyi teriak seorang loper koran di pasar tradisional yang saya jumpai tadi pagi. Dengan menarasikan topik berita, si loper berharap ada yang tertarik untuk membeli koran.  Koran lokal yang harganya cukup terjangkau bagi pengunjung warung kopi di pasar tradisional.

Di tangan tersisa tiga koran lagi. Entah berapa yang sudah laku semenjak pagi. Raut muka si tukang koran tampak sumringah yang penuh dengan senyum. Ia tak peduli dengan anggota DPR yang tengah sibuk beli kursi baru seharga miliran rupiah. Baginya cukup dengan uang 2.500 rupiah saja yang perlu dikeluarkan untuk membeli koran yang dijualnya, maka ia akan senang.

Senyumnya semakin mengembang bila satu persatu koranya habis terjual. Untung satu koran hanya diambil sebesar Rp. 500 per koran. Jika terjual sebanyak 2o eksemplar, maka selamatlah makan siangnya. Bila hari telah siang, maka ia akan mencari pekerjaan lain yang bisa menyelamatkan makan malamnya. Kadang jadi buruh panggul, kadang jadi tukang parkir dadakan yang penting bisa bertahan dari ganasnya kehidupan.

Seperti itulah seterusnya siklus hidup yang terus dijalani hari demi hari. Malam boleh berganti dengan siang, tapi tidak dengan nasib si loper koran. Nasibnya tak pernah beranjak dari masa-masa kelam. Masa yang membuat hidupnya menjadi suram. Walau demikian, ia tetap bahagia dengan kehidupan ini.

*******

Ketika melihat si loper koran ini, saya jadi teringat semasa kuliah dulu. Masa dimana saya pernah juga menjajal bagaimana rasanya menjadi seorang loper koran. Waktu itu ada teman sekampung yang menjadi agen koran di dekat kampus. Ia menawarkan kepada kami untuk menjual koran di kampus. Hanya beberapa teman saja yang berminat untuk jualan koran. Kami membagi area jualan, dan berkeliling menjajakan koran kepada para mahasiswa di kampus.

Siang kuliah, paginya jualan koran dulu. Ada yang pagi kuliah, sepulang kuliah jualan koran. Walau tidak banyak, hasil jualan koran cukup menambah uang jajan kami. Tidak ada kata gengsi ataupun minder berjualan koran di kampus sendiri. Bahkan ada dosen yang tahu muridnya jualan koran sebelum masuk kuliah.

Selepas kuliah, teman-teman yang sama-sama jualan koran itu sudah ada yang bekerja di bank, ada yang menjadi pimpinan redaksi sebuah majalah, ada yang menjadi guru dan ada juga yang sedang mencari jati diri. Nasib mereka lebih beruntung daripada loper koran yang saya jumpai di pasar tradisional tadi.

Saya akui metode jualan loper koran di pasar tradisonal tersebut lebih hebat dari pada cara berjualan mahasiswa loper koran seperti kami. Ia begitu menguasai isi pemberitaan, sementara kami tidak. Walau waktu itu mahasiswa, kami jarang sekali peduli dengan isi pemberitaan yang terjadi. Mungkin karena lelah dengan materi kuliah yang padat, sehingga tidak mendalami segala peristiwa yang ditulis dalam koran yang dijual.

Bagaimanapun, pekerjaan loper koran bukanlah pekerjaan hina. Bekerja sebagai loper koran bisa memperkaya wawasan, walau tidak bisa menjadi orang kaya. Setidaknya pengetahuan akan apa yang terjadi dalam kehidupan ini dapat dijumpai dalam seeksemplar koran. Meski koran mulai terancam dengan keberadaan media online, profesi loper koran masih tetap eksis.

Salam.

Iklan

31 thoughts on “Kenangan Indah Seorang Loper Koran

  1. Sekedar bernostalgia, sayapun dulu sempat merasakan Indahnya menjadi loper koran. yah 2 tahun saya menjalaninya mulai jam 4 subuh sampai jam 10 pagi dan sorenya disambung dengan menjadi pengamen cilegon-kebonjeruk-cilegon.
    Alhamdulillah akhirnya bisa berubah menjadi saya sekarang. “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak mengubahnya”

    Suka

  2. jadi loper koran mirip2 sama pekerjaan saya wkatu jadi operator warnet. Ada keuntungan yang bisa kita ambil dari profesi tersebut. Kita bisa menjadi orang yang pertama tau informasi yang beredar. Sekaligus bisa baca gratis 😀

    Suka

  3. saya selalu salut pada kawan2 kita yang loper koran.. Ketika di sudut lain kita sering lihat dengan usia dan perawakan relatif sama, mereka lebih senang meminta2..

    Salam, dan trims atas kunjungannya.. 🙂

    Suka

  4. di tempat saya tinggal ada seorang loper koran yang bekerja sebagai PNS, dia sangat mengutamakan pendidikan bagi anak2 nya hingga perguruan tinggi, sekarang dia sudah tidak me loper lagi, sudah pensiun dan digantikan oleh anaknya, yang masih kuliah, keren bukan.

    satu lagi, pengetahuan sang loper ini sangat luar biasa lho, dia gak segan memberikan opininya kepada para langganannya ^_^

    Suka

  5. Salut untuk kepada mereka yang rela bekerja demi sesuap nasi dengan cara yang halal… 🙂 semoga bisa terus istiQomah untuk itu… dan semoga perjuangan kita tak pernah berhenti untuk menjadi lebih baik. 🙂

    Suka

  6. Lagi-lagi, setiap orang selalu bisa kita jadikan cerminan 🙂 . Dan kali ini sang loper koran. Semoga Allah selalu melapangkan hati dan rizkinya, amin 🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s