Ngepos via Hape

Kisah Seorang Kakek dan Cucu Berebut Angpao

Meskipun mereka beda iman, saya tak peduli. Toh, keyakinan yang kita anut adalah urusan kita dengan tuhan. Apa mungkin hidup di dunia ini hanya dengan satu agama. Selama saya berpegang teguh pada keyakinan sendiri, maka saya tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan sepotong angpao berwarna merah itu.

Memang nilainya tidak seberapa di mata orang kaya. Bagi saya sangatlah berharga dan cukup memenuhi kebutuhan makan saya dan cucu untuk beberapa hari. Warnanya yang memerah membuat saya bertenaga berdesak-desakan dengan kaum papa yang lebih muda.

Kulit saya boleh keriput, tapi tidak dengan semangat saya untuk bertahan hidup. Kadang dibalik kertas angpao berwarna merah itu terselip kertas bergambarkan sukarno-hatta. Banyak orang yang tidak tahu, semasa muda saya pernah dipuji oleh Hatta karena pandai mengaji. Semenjak itu, saya tak pernah lagi berjumpa dengan beliau walau hanya sekedar gambar saja.

Saya ingin menyimpan uang kertas bergambarkan Hatta tersebut dibawah bantal. Semoga dalam tidur saya dapat berjumpa kembali dengan beliau dan menasehati saya seperti dahulu kala agar selalu bersyukur dalam mengarungi hidup ini. Sepertinya tidak mungkin, sebab uang itu penyambung hidup kami.

Saya tidak pernah mengeluh terlahir sebagai orang miskin. Mulai dari orang tua saya, sampai kepada cucu masih tetap konsisten terlahir sebagai orang miskin. Bahkan cucu kedua dari anak tunggal saya harus meregang nyawa dalam masa persalinan karena tidak sanggup membayar biaya operasi yang begitu mahal.

Saya anggap itu bagian dari takdir Tuhan yang telah Dia rencakanakan sebelumnya. Karena suratan hidup, Dia menitipkan saya seorang cucu yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya bunuh diri karena tidak sanggup lagi hidup miskin. Ia adalah kakak dari cucu saya tadi yang meninggal dalam rahim ibunya.

Bersama cucu semata wayang ini saya pergi ke satu-satunya klenteng yang ada di kota kami. Letak klenteng tak jauh dari muara, orang menyebut daerah ini dengan sebutan pondok atau kampung China. Memang banyak orang China tinggal disana, menjelang imlek begitu banyak pengunjung.

Di luar klenteng berjejer para kaum papa yang berharap angpao dari mereka. Saya dan cucu adalah satu dari sekian puluh orang yang antri disana mengharapkan secuil kebahagian dari saudara tionghoa di hari raya mereka berupa amplop berwarna merah itu. Usia uzur tidak menghalangi saya untuk berebut dengan pengemis dan anak jalan lainnya.

…….

Begitulah cerita dari seorang kakek tua dan cucunya yang saya “jumpai” sepulang kerja di taman kota ranah minang.

Iklan

26 thoughts on “Kisah Seorang Kakek dan Cucu Berebut Angpao

  1. tersentuh bgd…. :’)
    prjuangan seorang kakek yg harusx dimiliki oleh kita yang muda ini.
    teringat kta2 trakhir kakek di RS sblum mninggalkan kami “sia nan jadi garin di musajik (mesjid) wak salamo ambo sakik?”

    Suka

  2. Hmmm, menyentuh sekali ceritanya πŸ™‚ . Dari kakek tersebut, kita bisa belajar bagaimana seharusnya bersyukur dan tidak mengeluh menjalani hidup πŸ™‚

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s