Gak Penting Yaa

Mendaki Gunung Merapi

Dari mana kita harus memulai? Tanya Andi sambil memegang sepotong kayu. Dengan sigap Rita mengeluarkan peta dari tas sandangnya. Belum sempat Andi bicara, Herman langsung merebut peta dari tangan Rita.

Mata mereka bertiga tertuju pada peta yang merupakan satu-satunya harapan untuk dapat menjadi petunjuk agar keluar dari hutan belantara ini. Malam semakin larut, lentera berbahan bambu mulai meredup sehingga jalur di peta terlihat samar.

“Jika kalian tidak ceroboh, mungkin gak bakal tersesat jauh seperti ini” keluh Rita. Andi dan Herman diam membisu. Sebelum mereka berdua bersuara, Rita mulai membahas kemana arah tujuan selanjutnya. Tas berisi peralatan lengkap seperti kompas, alat komunikasi dan alat lainnya hilang ditelan arus sungai yang kian deras. Itu kerena kelalaian mereka berdua.

Minggu demi minggu mereka lewati ditengah hutan tanpa bekal sedikitpun. Naluri memaksa mereka untuk bertahan hidup dengan memanfaatkan apa yang ada disekitar hutan. Herman sudah mulai frustasi dan merasa menyesal mengajak mereka berdua mendaki gunung merapi. Keganasan hutan di gunung merapi mampu menelanjangi watak mereka.

Andi mulai kesal dengan sikap herman belakangan ini yang tidak mempedulikan temannya. Padahal hermanlah yang membujuk mereka berdua ikut pendakian gunung. Perihal yang membuat Andi berang adalah kebohongan yang dilakukan herman sebelum pendakian. Herman bilang bahwa ia sudah sering mendaki gunung merapi ini. Nyatanya setelah tersesat, barulah herman mengakui bahwa ia sama sekali belum pernah mendaki gunung.

Kemarahan Andi makin memuncak ketika menyaksikan Herman memakan biawak bakar miliknya. Karena kejadian itu mereka berdua berkelahi dibalik semak, Rita mencoba untuk melerai kedua pemuda berbadan kekar itu. Apa lacur, pisau yang berada dalam genggaman Rita menusuk jantung Andi. Badan kekar andi langsung jatuh tergeletak di semak.

Rita tak percaya atas apa yang telah ia lakukan. Tangannya gemetar berlumuran darah. Kini tinggal mereka berdua. Luka yang dialami herman cukup parah. Tulang kakinya patah dan tak sanggup lagi berjalan.

Sehari setelah perkelahian itu, mereka berdua tak pernah beranjak dari lokasi tewasnnya andi. Jasad andi belum jua terkubur, tubuh lemah Rita tak berdaya memakamkan jasa Andi yang begitu besar. Sementara itu herman sudah sekarat dengan luka yang parah. Tak tega melihat penderitaan herman, Rita memenggal leher herman dengan sebilah pisau yang sebelumnya menikam jantung andi.

Jika tidak karena permintaan herman, ia tidak akan mungkin membunuh laki-laki yang telah membohonginya itu.

“Beginilah suratan takdir” bisik rita dalam hatinya untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak salah atas kematian dua rekannya itu.

Iklan

20 thoughts on “Mendaki Gunung Merapi

  1. tulisannya seperti bertemakan gender dan kekerasan…
    laki2 tetap sbagai perannya, adu kekuatan, terus perempuan disamakan derajatnya, perempuan juga bisa melakukan apa yg laki2 lakukan… jadi gk ada perbedaan gender.(hehe. ngarang makna)
    bagus tulisannya 🙂

    Suka

  2. Waw … topnotch!!

    Memang kalau manusia terdesak, sifat alamiah mereka semuanya keluar! jadi inget kata teman saya yang sering mendaki gunung, kalau dalam pendakian gunung, kita menjadi tahu segala sifat manusia :mrgreen: saya pikir itu filosofis atau apalah, tapi pas nonton film vertical Limit, saya jadi tahu apa yang dibicarakan teman saya :mrgreen:

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s