Ngepos via Hape

Penjaga Kuburan

Setiap kali melewati kubaran di perbatasan kampung, saya langsung ingat dengan kematian. Kesan angker masih melekat semenjak saya kecil hingga sekarang. Sehabis magrib, tak ada seorang pun yang berani lewat kecuali pak Samsul.

Pak Samsul adalah penjaga kuburan itu. Waktu kecil, saya mengira pak samsul orang gila. Saya dan teman-teman sangat takut dengan pak samsul, melebihi ketakutan pada guru matematika yang paling galak di sekolah kami.

Sosok pak samsul yang pendiam membuat ia semakin misterius. Suatu ketika kami terperogok dengannya di pinggir sungai. Betapa gemetarnya kami, saat ia menghardik kami agar tidak mandi lagi di sungai.

Semenjak kejadian itu, tak ada sepatah kata pun terucap diantara kami. Langkah semakin lunglai menapakai jalan bebatuan. Ketakutan terus menghantui sampai tiba di rumah.

Perjumpaan dipinggir sungai itu adalah terakhir kalinya saya melihat pak samsul. Sejak kematian istrinya, ia tidak lagi tinggal sebagai penjaga kuburan. Tak ada satupun warga yang tahu kemana pak Samsul menghilang. Pondok ditengah pekuburan itu tampak kosong ditinggal penghuninya.

Lima belas tahun kemudian, garis takdir menuntun saya ke belantara metropolitan. Dengan modal semangat menutut ilmu, akhirnya saya digarisakan kuliah di ibu kota. Enam tahun kuliah, belum juga lulus. Walau tinggal merampungkan skripsi, tatap saja di cap sebagai mahasiswa abadi.

Skripsi saya dibimbing oleh dosen senior bergelar profesor. Saat bimbingan terakhir sebelum sidang, saya mendapatkan nasehat dari profesor. “Meski kita dianugrahi rasa takut, tapi jangan biarkan rasa takut itu menguasai dirimu” kata profesor sambil menandatangani skripsi saya.

Keeskoan harinya, tiba-tiba saya terhenyak dengan kabar meninggalnya profesor. Pesannya semalam membuat saya penasaran. Ia tak pernah takut kepada apapun, selain pada Tuhan Maha Pencipta. Saya menghantar kepergian beliau hingga ke pemakaman.

Di tempat pemakaman umum itu saya bertemu dengan pak Samsul. Awalnya saya ragu, pria penggali kubur profesor adalah pak samsul. Setelah memperhatikan dengan seksama, barulah saya yakin bahwa itu adalah pak samsul yang dulu penjaga kubur di kampung kami.

Ia sudah lupa dengan saya, tapi saya tidak pernah lupa dengan sosoknya. Saya mencoba mengungkit ingatan masa lalu beliau dengan menceritakan kejadian di pinggir sungai yang merupakan perjumpaan terakhir saya dengan pak samsul.

Semasa kecil saya tak pernah bicara dengan pak samsul. Baru kali inilah saya pertama kali bercakap dengan beliau walau sudah kenal begitu lama. Ternyata ia seorang yang bersahaja. Jika tidak saya yang mulai bertanya maka ia tak akan bicara.

Sifatnya yang pendiam membuat saya nyinyir bertanya dari hal sepele sampai pada hal yang bersifat pribadi. Ketika saya bertanya tentang pilihannya berprofesi sebagai penjaga kubur, ia memberikan jawaban yang mengesankan.

Penjaga kubur adalah pekerjaan yang ia nikmati. Setiap kali menggali kuburan, ia merasa dekat dengan pencipta. Ayunan cangkul semakin memperdalam kesadarannya bahwa kematian itu tidaklah menakutkan. Kematian adalah jembatan penghubung jiwa menuju kedamaian. Jangan takut mati, sebab kematian adalah sebuah keniscayaan yang tak dapat dielakan. Yang ditakutkan adalah bagaimana persiapan menemui kematian itu. Apakah sudah siap atau belum?

Iklan

11 thoughts on “Penjaga Kuburan

  1. Wah tulisannya bagus sekali. Rasa takut memang sebuah mekanisme perlindungan yang Tuhan ciptakan kepada manusia agar selalu waspada dan tidak celaka. Tapi jika rasa takut itu lebih dominan, maka dia akan menghalangi kita untuk terus maju dan berkarya. Ya, kita memang harus bisa mengendalikan rasa takut itu.

    Salam kenal. Terima kasih sudah berkunjungi ke blog saya.

    Suka

    1. iya bro lambert. mekanisme yang masbro bilang itu ada di bawah sadar kita. Tapi pada awalnya tidak inheren dengan kita. Lingkungan sekitarlah yang menanamkan ketakutan itu pada individu2 anggota lingkungan tsb.

      Suka

  2. Cerita yang menyentuh hati. Jika setiap orang punya pandangan yang sederhana seperti pak Syamsul, dan bekarja dengan hati, betapa bahagia nya orang tersebut.

    Suka

  3. kata-kata pak Samsul di alinea terakhir itu menyentuh sekali……very touching masbro πŸ˜€

    Kematian adalah jembatan penghubung jiwa menuju kedamaian. Jangan takut mati, sebab kematian adalah sebuah keniscayaan yang tak dapat dielakan

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s