Ngepos via Hape

Menulis Sebebas-Bebasnya

Mulailah menulis sebebas-bebasnya. Tanpa ada tekanan, tanpa ada ketakutan dan kapan perlu tanpa titik sekalipun. Ehh, kalau tanpa titik jadi susah donk bacanya.

Eko deh, upss salah maksudnya oke deh. Mulai menulis bebas seperti masa sekolah dulu yang disuruh guru mengarang bebas. Namanya sih bebas juga, tapi topik tulisan masih dibatasi. Terlebih lagi menulis hanya karena berharap dapat nilai. Nggak jadi bebas donk.

Mungkin sampai sekarang gak ada pelajaran yang mengkhususkan murid untuk menulis. Paling saat selingan mata pelajaran bahasa indonesia disuruh mengarang bebas. Itupun disuruh dikerjakan di rumah. Jadi hasilnya yang pernah jebol sekolah kurang terasah kemampuan menulisnya.

Dengan terpaksa harus belajar diluar sekolah. Mengasah kemampuan menulis dengan catatan diary. Bagi yang sedang dimabuk asmara belajar nulis dengan berkirim surat cinta.

Itu dulu, sekarang beda lagi men. Zaman udah berubah, surat gak laku lagi. Kini masanya ngirim sms dan online di internet. Namanya sih nulis juga, tapi nulisnya cuma secuil. Makin banyak kata yang ditulis, makin mahal bayarnya. Kalau begini makin ogah khan orang untuk nulis. Sama dengan dunia maya yang cuma nulis status aja. Itupun status gak penting, seperti “lagi makan es krim nih”. πŸ˜€

Pengen yang lebih panjang? Makanya nulis di blog. Menulis di blog gak segampang yang dipikirkan. Maksudnya, gak mudah loh.. Lo harus kerja keras dan punya komitmen yang tinggi. Lengah sedikit, lo bakal jatuh alias malas untuk menulis.

Ketika malas sudah datang, jangan harap jari bakal lancar bergoyang. Bahkan otak bisa mendadak tumpul. Tak mampu menyusun kata demi kata.

Bagi gue, kendala yang sering dihadapi dalam menulis di blog ada beberapa hal; pertama, lagi gak mood atau sedang malas. Kedua, ketika mulai menulis sering kehilangan kata-kata diawal tulisan. Ketiga, saat dipertengahan mendadak kehilangan ide. Keempat, kesibukan di dunia nyata membuat kesempatan untuk menulis tidak ada.

Yang paling gue gak suka adalah alasan yang terakhir ini. Jika boleh gue bilang ini alasan yang gak masuk diakal. Zaman secanggih ini kita bisa memanfaatkan sedikit waktu di dunia nyata menuliskan sesuatu di dunia maya dengan menggunakan teknologi.

Sedangkan untuk alasan lainnya gue menyiasatinya dengan melatih diri untuk menulis sebebas-bebasnya. Tanpa perlu memikirkan dibaca orang atau tidak. Sudah sesuai dengan ejaan atau belum. Pokoknya gue menuliskan apa yang ada dalam otak gue. Persolan aturan menulis itu urusan belakangan.

Apa yang terlintas dalam pikiran langsung tulis saja. Jangan ada sensor saat menulis, sebab mensensor tulisan dilakukan setelah tulisan itu selesai atau sebelum tulisan itu di publish. Maksudnya sih supaya menghindari hal-hal yang berbau SARA dalam tulisan kita. Dalam dunia tulis menulis disebut dengan proses editing yang dilakukan oleh seorang editor.

Enak khan nulis di blog! Kita bisa jadi seorang penulis sekaligus sebagai seorang editor. Ayo mari ngeblog dan menulis sebebas-bebasnya.

Salam GaramManis

Iklan

4 thoughts on “Menulis Sebebas-Bebasnya

  1. untuk yg surat cinta itu, kayaknya emang lebih berkesan kalau pake surat gitu. lebih berasa ketimbang klo sebatas lewat sms atau sosial media.

    selamat menulis bang πŸ˜€

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s