Ngepos via Hape

Kemiskinan Bukan Karena Tidak Shalat

“Andaikata penyebab rakyat miskin karena tidak shalat, sementara ia mengaku beragama islam. Ini tentunya tanggung jawab bagian kesra bersama kementrian agama mencari solusinya.”

Sepenggal paragraf diatas saya kutip dari koran lokal. Tiba-tiba saya tergelitik untuk mengkaji apa yang ditulis dalam paragraf tersebut.

Dalam paragraf diatas terkesan bahwa miskin disebabkan karena tidak shalat. Meski ada kata “andaikata”, tapi kata tersebut lebih sebagai sebuah kemungkinan. Bisa juga diganti dengan kata “jika” atau “seandainya”. Jadi dengan adanya kata “andaikata” tersebut cukup menggambarkan bahwa tidak ada kemiskinan disebabkan karena tidak shalat.

Walaupun demikian, saya menganalisa bahwa masih ada persepsi atau pola pikir yang menganggap kemiskinan disebabkan karena jarang shalat. Parahnya lagi, persoalan keyakinan ini malah dibebankan kepada institusi negara.

Negara sama sekali tidak berhak mencapuri keyakinan seseorang jika itu berada di ranah privat. Negara cuma berhak mengatur hubungan antar sesama manusia, bukan mengatur hubungan antara manusia dengan tuhan.

Kemiskinan adalah perihal yang menjadi domain negara. Miskin di mata kita belum tentu miskin dihadapan tuhan. Negara mengukur kemiskinan dari sudut materi yang diindikasikan dari pendapatan per kapita. Sedangkan Tuhan tidak membedakan umatNYA, kecuali ketaqwaan mereka.

Sementara disisi lain, agama tidak menutut seseorang menjadi miskin. Apapun agamanya tentu menganjurkan setiap pemeluknya untuk berusaha mencari rezeki.

Untuk lebih tepatnya kemiskinan adalah persoalan sosial, bukan persoalan keyakinan. Orang yang kita anggap miskin secara harta belum tentu merasa miskin dihadapan TuhanNYA. Mungkin saja mereka yang kurang beruntung itu diberikan kelebihan yang lain berupa non materi.

Berkali-kali Allah menjelaskan dalam al quran bahwa Ia menyempitkan rezeki kepada sebagian umatNYA dan melapangkan kepada sebagian lainnya. Hal ini dapat dipetik hikmah bahwa mereka yang diberikan kelapangan rezeki agar berbagi kepada sesama seperti berzakat, infak dan sedekah.

Sebagian dari kita pernah menemukan seseorang yang jarang shalat tapi kaya raya. Dan begitu pula sebaliknya, rajin shalat tapi masih miskin. Hal ini menunjukan bahwa permis yang mengatakan bahwa miskin disebabkan tidak shalat adalah hal yang keliru.

Bila shalat dijadikan sebagai bentuk upaya mencari kaya, maka hal demikian sudah menyesatkan. Sebab, orang shalat bukan lagi mengharapkan ridho Allah, tapi mengharapkan kekayaan. Itu sama artinya menyekutukan Allah.

Iklan

2 thoughts on “Kemiskinan Bukan Karena Tidak Shalat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s