Ngepos via Hape

Prahara Nasi Sop

Sudah lama sekali saya tidak mencicip nasi sop. Rasa kangen dengan masakan yang berkuah ini langsung terobati. Sebab di hari rabu ini ada sebuah lapau nasi di tengah balai sungai sariak yang menyediakan menu nasi sop.

Tanpa pikir panjang saya pesan satu porsi nasi sop. Di depan saya, ada seorang ibu dan anaknya yang masih kecil tengah menikmati nasi sop dengan sepotong tulang iga. Si anak begitu lahap menggigit daging yang tertempel ditulang dan mengulum ujungnya.

Melihat anak itu langsung mengundang selera. Sepiring nasi sop sudah terhidang di depan saya. Saya gak mau kalah melahap seperti anak-anak didepanku. Bedanya sop yang saya nikmati tanpa tulang, kebanyakan dikasih kentang. Tapi kuahnya terasa lezat, walau dagingnya sedikit.

Awalnya saya berpikir bahwa harga seporsi nasi sop cukup murah dan terjangkau. Hanya 8 ribu rupiah saja kita dapat menyantapnya. Bandingkan dengan sebungkus nasi padang yang berkisar diatas 10 ribu. Cukup murahkan!!!

Ternyata pikiran saya tersebut harus saya kaji ulang. Murah menurut kita belum tentu murah menurut orang lain. Begitulah hukum relativitas yang kadang tidak pernah sama.

Kebetulan, sepasang suami istri (sepertinya) tiba-tiba duduk disamping saya. Tampaknya mereka baru pulang mengemis. Dari raut wajah mereka terpancar rasa lelah. Usia yang sudah uzur memaksa mereka mengais rezeki dengan mangharap derma dari pengunjung balai.

Sang suami langsung memesan seporsi nasi sop. Sementara istrinya terlihat ragu-ragu untuk memesan. Entah kenapa, mungkin si istri mengkalkulasikan keinganan menyantap nasi sop dengan ukuran kantong mereka. Bisa saja uang mereka tidak cukup membayar dua porsi nasi sop. Untuk itu, si istri coba memesan setengah saja sambil tawar menawar harga.

Tadinya harga nasi sop yang saya kira murah tidak berlaku bagi sepasang pengemis berusia senja tersebut.

Jika demikian, nikmat apalagi yang saya dustakan. Bukankah tuhan telah menebar petunjuk bagi umat-NYA yang berserak dipenjuru bumi.

Kedatangan sepasang suami istri yang kurang beruntung itu seperti petunjuk bagi saya untuk tetap mensyukuri nikmat-NYA. Semoga saya mampu menjadi orang-orang yang bersyukur.

Salam.

Iklan

2 thoughts on “Prahara Nasi Sop

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s