Ngepos via Hape

103

Akhirnya jadi juga saya periksa gula darah. Setelah sekian kali orang terdekat memaksa dan menyuruh saya periksa kadar gula darah.

Awalnya saya berpikir proses periksa gula darah bakal ribet. Belum lagi ngantri di rumah sakit. Makanya saya agak enggan untuk pergi periksa. Seringkali disuruh periksa, seringkali pula saya mangkir.

Jangankan periksa gula darah, golongan darah saja saya tidak tahu bergolongan apa. Kadang saya agak takut dengan jarum suntik, sehingga ketakutan itu membuat saya ogah-ogahan pergi.

Suatu ketika saya dapat pencerahan di sebuah apotik/klinik. Di apotik tersebut terpampang tulisan periksa gula = Rp. 15000. Sontak saya sedikit terkejut, ternyata periksa gula darah bisa pula di apotik. Dan biayanya setara dengan sebungkus nasi.

Sebelumnya saya mempersepsikan bahwa periksa gula itu mahal dan harus di rumah sakit. Dengan melihat tarif itu saya jadi kepincut untuk periksa gula di apotik tersebut. Sayang saat itu saya tidak ada waktu periksa disana. Tapi saya sudah mendapatkan info bahwa periksa gula menelan biaya 15000. Kapan-kapan saya bakal periksa gula darah.

Nasib berkata lain, saya tidak jadi periksa di apotik itu. Tapi saya malah periksa di tempat praktek dokter keluarga di dekat tanah kelahiran.

Ceritanya berawal saat menemani kawan yang sakit untuk berobat ke dokter. Sesampai di meja praktek dokter, terlihat secarik kertas tertempel di meja yang bertuliskan periksa gula = Rp. 15000. Ternyata tarifnya sama dengan apotik tadi. Terbesit dalam pikiran, “kok bisa sama yah”.

Tanpa pikir panjang saya pastikan sama dokternya tarif tersebut. Lalu saya langsung periksa gula disana. Sebelum di tes menggunakan alat khusus, dokter menanyakan riwayat penyakit gula di keluarga saya. Langsung saja saya jawab ada riwayat penyakit gula di keluarga kami, yakni dari nenek saya sendiri.

Sambil bertanya, dokter tersebut begitu lihai memakai alat tes gula yang sederhana itu. Satu tusukan di jari membuat saya terkejut dan setetes darah keluar yang kemudian dicelupkan di alat tes digital. Angka dari alat tes tersebut menujukan 103.

Melihat angka 103 dokter berujar bahwa kadar gula saya masih dalam tahap normal. Bila telah mencapai angka 140, barulah di waspadai terkena penyakit gula.

Walaupun normal, dokter tetap memperingatkan agar mengurangi makanan bergula dan yang manis-manis. Sebab ada riwayat penyakit gula yang membayangi diri. Pertanyaan kemudian adalah sanggupkah mengurangi makanan yang manis-manis agar tidak terserang penyakit gula?

Semoga sanggup kawan.

Iklan

5 thoughts on “103

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s