Ngepos via Hape

Ngobrol Bareng Nasib

Hujan semenjak sore telah mengantarkan saya bertemu dengan nasib. Bukan nasib baik maupun nasib buruk, tapi nasib benaran yaitu seseorang yang bernama nasib. Awalnya saya mengira orang itu bernama nasip, ternyata aslinya memang bernama nasib. Ia begitu bangga dengan nama yang unik itu, sebab nama itu tidak akan pernah dilupakan oleh orang. Setiap orang akan selalu bersentuhan dengan nasib hingga hayat mereka (bukan bersentuhan dengan si nasib ini lho).  Jadi gak bakal mungkin orang bakal lupa dengan kata nasib.

Nasib berboncengan dengan istrinya yang berasal dari betawi. Kerena kehujanan dan gak bawa mantel pula, akhirnya ia berteduh. Kebetulan tempat berteduh si nasib sama dengan tampat saya berteduh. Kami berteduh disebuah pondok dekat jembatan yang merupakan perbatasan antara kota dan kabupaten pariaman. Si Nasib bertugas di SMP Kayu Tanam (kabupaten), hari itu ia kebetulan sedang ada urusan di kota bersama istrinya.

Di pondok itu saya ngobrol panjang lebar dengan si nasib beserta istrinya sembil menunggu hujan teduh. Perbincangan dengan si nasib mengingatkan saya akan nasib saya sendiri. Gak salah orang itu bernama nasib. Ia begitu jago mengungkit nasib orang lain.

Kegagalan saya untuk memperbaiki nasib dua bulan yang lalu kembali terungkit oleh si nasib ini. Tanpa sengaja ia mempertanyakan komitmen saya sebagai anak muda yang masih mempunyai waktu yang panjang untuk merajut masa depan. Dengan sedikit rayuan, ia memotivasi saya untuk meraih mimpi yang sangat ingin saya capai.

Si Nasib berseloroh “mumpung masih muda, lanjutkalah kuliahmu“. Sebagai orang yang sudah merasa tua, si nasib melihat pintu untuk melanjutkan kuliah itu tertutup. Dengan menanggung tanggung jawab seorang istri dan beberapa orang anak membuat si nasib berpikir dua kali untuk melanjutkan kuliahnya.  Apalagi ia hanya pegawai negeri bisa yang bergolongan rendah. Walaupun belum mampu melanjutkan kuliah S2, si nasib ini ingin menularkan keinginan kuliah itu kepada orang lain, terutama kepada mereka yang masih muda.

Saya adalah salah satu korban dari si nasib ini. Si nasib ini termasuk satu dari sekian orang yang memegang prinsip “dimana ada kemauan, disitu ada jalan“. Prinsip itu yang meyakini si nasib bahwa mimpi untuk melanjutkan kuliah ke jenjang berikutnya bukanlah hal mustahil jika ada kemauan yang kuat.

Sekarang saya di uji dengan seberapa kuat kemauan saya untuk kembali berkuliah. Ujian pertama itu adalah ujian bertemu dengan si Nasib ini. Karena bertemu si nasib inilah saya dapat mengintropeksi kemauan yang ada dalam diri saya sindiri. Seberapa kuatkah kemauan itu???

 

 

Iklan

3 thoughts on “Ngobrol Bareng Nasib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s