Gak Penting Yaa

Stigma Tentang Rok Mini

Sedikit terperangah saya mendengar berita saat sarapan pagi tadi. Pagi nan dingin membuat saya terduduk disudut lapau kopi di Balai Sungai Sariak. Ketika tengah asyik menyuap lontong soto, mata saya tertuju ke sebuah televisi yang menggantung dinding lapau. Sekelompok aktifis berdemonstrasi di bundaran HI dengan mengenakan rok mini.

Tindakan tersebut sebagai bentuk protes terhadap stigma yang berkembang di masyarakat yang menyalahkan perempuan sebagai biang keladi dari pemerkosaan. Perempuan sering kali dianggap sebagai penyulut atas maraknya pemerkosaan di Indonesia. Apalagi perempuan yang mengenakan pakaian seksi, sering dianggap sebagai biang kerok yang membuat pria tergoda melakukan perbuatan mesum. Artinya, persepsi tentang hukum sebab akibat menjadi landasan di tengah masyarakat. Pemerkosaan tidak akan terjadi bila tidak disebabkan oleh ulah perempuan yang selalu berpakaian seksi. Pemahaman demikianlah yang berkembang sehingga tidak mengherankan bila perempuan masih dianggap sebagai sumber masalah.

Untuk itu, sekelompok aktifis yang mengenakan rok mini ini mencoba menggugah publik bahwa pemerkosaan itu bukan disebabkan oleh pakaian perempuan. Bahkan banyak korban perkosaan malah tidak memakai rok mini atau pakaian seksi. Kebanyakan korban perkosaan hanya memakai pakaian biasa-biasa saja. Itu menunjukan bahwa pemerkosaan bukan disebabkan oleh perempuan. Perempuan tidak boleh disalahkan atas ulah bejat para lelaki hidung belang.

Terkait masalah rok mini ini saya teringat kembali dengan tulisan beberapa waktu lalu yang berjudul Kenapa mau memakai pakaian seksi, kalau tidak mau dilihat orang lain. Tulisan tersebut merupakan kisah fiksi seorang Rina yang berjuang melawan pelecahan seksual diatas angkutan di kota Padang. Dalam lubuk hatinya, Rina sesungguhnya enggan untuk memakai pakaian seksi. Apalah daya, ia sendiri tidak mampu melawan keadaan. Meskipun rok mini yang dikenakan mengundang perhatian kaum adam, tapi tidak semestinya rok mini itu dianggap sebagai sumber masalah. Karena sumber masalahnya terletak di dalam pikiran kotor pelaku pemerkosaan yang bejat.

Saya sendiri juga tidak mendukung penggunaan rok mini. Tapi saya juga tidak bisa pula terima bila rok mini yang dikenakan perempuan sebagai penyebab maraknya tindakan pemerkosaan. Stigma yang berkembang di tengah masyarakat yang memarginalkan kaum perempuan harus diubah. Salah satunya sitgama bahwa penyebeb pemerkosaan adalah ulah dari perempuan. Stigma tersebut meski dihilangkan agar hak-hak perempuan dapat terpenuhi.

Iklan

3 thoughts on “Stigma Tentang Rok Mini

  1. saya setuju klo rok mini bkn penyebab lgsg pemerkosaan, tapi rok mini bisa jadi pemicu untuk kaum adam jadi ngeres,korbannya bisa siapa aja dilabrak,bahkan nenek2pun banyak yg jadi korban..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s