Ngepos via Hape

Menguak Perselingkuhan Investor dan Pejabat di Pasar Raya Padang

Gempa tidak hanya meninggalkan luka bagi warga padang, tapi gempa menyisakan sekelumit persoalan yang hingga kini belum juga terpecahkan. Persoalan yang menghinggapi ribuan pedagang pasar inpres II, III dan IV.

Pasar inpres merupakan pusat perekonomian kota padang. Di pasar ini kebutuhan pokok warga padang terpenuhi mulai dari sayur mayur, beras, minyak dan berbagai macam kebutuhan lainnya. Pasar inpres adalah pasar tradisional yang terbesar di kota padang.

Ketika gempa berguncang, pedagang dan pembeli di pasar inpres berhamburan keluar. Untung saja bangunan pasar yang telah puluhan tahun itu masih berdiri kokoh. Sementara bangunan lain seperti kantor pemerintahan dan bangunan pasar disekitarnya telah luluh lantak.

Gempa tidak membuat pedagang gentar berjualan. Demi sesuap nasi, para Pedagang berjuang melawan rasa takut.

Sayang rasa takut itu bukan berasal dari gempa, malainkan datang dari pejabat pemerintahan kota padang sendiri. Gempa yang dibuat pemko padang lebih hebat goncangannya dibandingkan dengan gempa september 2009 silam. Pihak pemko secara sepihak ingin meruntuhkan bangunan pasar inpres II, III dan IV.

Dengan menggunakan cara yang picik, pihak pemko dan aparat keamanan melakukan penggusuran pasar inpres tersebut di saat para pedagang sedang merayakan hari idul fitri di hari rabu (31/08/11) yang lalu. Bukannya bermusyawarah dengan para pedagang untuk mencapai kata mufakat, pihak pemko padang malah mengedepankan ego kekuasaan dengan mengerahkan aparat kepolisan menggusur para pedagang.

Sebelumnya, pemko padang telah “meneror” para pedagang dengan menghentikan segala fasilitas pasar inpres seperti, listrik, air bersih dan tenaga kebersihan. Walaupun fasilitas tersebut diblokir, pungutan retribusi pasar masih tetap jalan.

Awalnya para pedagang menginginkan agar pasar inpres dilakukan perbaikan saja. Namun, pihak pemko tetap bersikeras untuk membangun ulang pasar tersebut. Kalaupun dibangun ulang, pedagang berharap ada mekanisme yang jelas agar pedagang lama (pemegang kartu kuning) dapat mendapatkan tempat di bangunan yang baru dan pengelolaan pasar juga harus jelas.

Indikasi atas harapan itu ternyata tidaklah jalan. Kredit dengan bunga ringan untuk pedagang hanya retorika belaka. Pasar penampungan yang dibangun jauh dari kata layak. Jika pedagang ingin menempti kembali toko mereka, maka diharuskan membeli toko dengan keringanan harga di bawah standar. Tapi harga beli toko baru itu malah jauh diatas standar kemampuan para pedegang.

Tengok saja pada kasus pembangunan pasar inpres I. Hingga saat ini proses pengelolan pasar yang baru dibangun itu tidaklah jelas. Hanya orang-orang yang berduit saja yang mampu membeli toko, sementara padagang lama yang hanya berjualan pisang, sayur dan buah-buahan tidak akan sanggup untuk membeli toko baru walau dengan kredit yang katanya berbunga ringan.

Kengototan pemko padang membangun ulang pasar inpres II, III dan IV menimbulkan isu ditengah masyarakat. Gonjang-ganjing adanya permainan antara pejabat pemko padang dengan investor sulit untuk dielakan. Dengan membangun pasar baru, investor akan meraup untung yang besar. Jadi, dengan segala kekuatannya investor akan berusaha mempengaruhi kebijakan terhadap persoalan pasar raya padang.

Siapakah yang bermain dibelakang penderitaan para pedagang di pasar raya padang???

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s