Ngepos via Hape

Mudik: Dampak Sentralisasi Pembangunan

Mudik adalah eksodus besar-besaran yang berlaku di Indonesia pada idul fitri. Masyarakat berbondong-bondong pulang ke kampung halaman. Berbagai jenis alat transportasi penuh sesak menghantar para pemudik ke rumah masing-masing.

Fenomena mudik selalu terjadi hampir tiap tahun di hari raya idul fitri. Momentum lebaran dimanfaatkan untuk merajut kerinduan kepada keluarga di kampung halaman. Fenomena mudik ini menandakan bahwa masyarakat mempunyai kecendrungan untuk menetap di daerah orang lain.

Orang yang mudik adalah orang yang berada dan tinggal di kampung orang lain. Bila seseorang berdomisili di kampung sendiri, maka gak mungkin mereka bakal mudik.

Fenomena mudik ini sangat menarik diteliti dari berbagai aspek dan sudut pandang keilmuan. Baik itu dari sudut ilmu ekonomi, sosial, budaya, psikologi dan agama. Dinamika yang hampir terjadi tiap tahun ini tidaklah dijumpai pada negara-negara lain. Untuk itu, mudik merupakan realitas menarik yang dialami bangsa ini.

Menurut hemat saya, mudik tidak dapat terlepas dari politik sentralisasi yang dianut pemerintahan pada masa lalu. Pembangunan yang tidak merata, membuat rakyat yang di luar pulau jawa datang ke jawa yang sangat makmur. Perpindahan penduduk dari desa tak dapat dihindari lagi. Ini ibarat pepatah, ada gula ada semut. Jakarta yang merupakan lumbung pembangunan telah membuat rakyat dari berbagai daerah datang ke pulau ini mengadu nasib.

Untuk menghadang laju penduduk ke pulau jawa memaksa pemerintah mengeluarkan kebijakan transmigrasi. Mereka yang tidak beruntung hidup di pulau jawa dipindahkan ke daerah pelosok di kepulauan lain dengan program-program yang telah direncanakan. Sehingga sekarang kita menjumpai kementrian yang mengurus masalah transmigrasi ini.

Kerasnya persaingan tidak mengurungkan semangat orang desa mencari keberuntungan di kota-kota besar. Kepadatan penduduk di kota besar berdampak terhadap besarnya perputaran uang di sana. Alhasil, banyak para pendatang yang mampu menggapai sukses di tanah perantauan. Tentunya mereka tidak melupakan asal muasal mereka, yakni kampung halaman.

Di hari raya ini waktu yang tepat bagi para perantu tersebut melepas rindu kepada tanah kelahiran mereka. Idul fitri mampu mempertemukan kembali sebuah keluarga yang terpisah. Bersilahturahmi dengan keluarga di hari yang fitri memberikan kenikmatan tersendiri.

Setelah puas melepas kangen di kampung halaman, para pemudik balik lagi ke tempat perantauan. Mereka berakitifitas lagi seperti semula. Begitulah seterusnya yang terjadi hampir tiap tahun.

Salam mudik, semoga selamat sampai tujuan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s