Ngepos via Hape

Berawal Dari Email

Pada dasarnya tidak ada terbesit keinginan untuk menuliskan kejadian yang dialami sehari tadi. Tiba-tiba saja terlintas untuk menulis. Sayang bila kejadian tersebut dilewati dan berlalu begitu saja. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya putuskan untuk menuliskan.

Cerita berawal sehari yang lalu. Ketika itu seorang maneger membentak anggota dibawahnya tanpa alasan yang jelas lewat telephone. Si atasan membawa-bawa nama staf yang lain. Tentu semua karyawan yang ada disana merasa kurang berkenan dengan ucapan sang atasan.

Perlu diketahui maneger satu ini paling tidak disukai oleh kebanyakan karyawan. Sikap, ucapan dan gaya memimpin yang ditunjukan tidak mencerminkan teladan yang baik. Terlebih si manager tak mampu mempengaruhi karyawan dengan cara yang elegen. Bisanya cuma marah-marah dan menyalahkan karyawannya, lalu lepas tangan.

Oke, saya tidak mau menilai terlalu jauh. Saya pikir ada sisi baik yang melekat pada sosok dirinya. Saya sendiri berprinsip tidak ada orang yang jahat ataupun orang yang buruk di muka ini. Sebab ketika manusia bersifat jahat, tentu ada beberapa nilai baik dalam dirinya.

Sebagai pelajaran, maka saya dengan sengaja mengirim email kepada dirinya dengan struktur kata yang berbeda dari biasanya. Sebuah email lumrahnya memiliki standarisasi dengan adanya kata “dear” dan kata “regrads”. Kemudian ada kalimat pengantar dan kalimat penutup. Selain itu, besar dan kecil huruf harus diperhatikan.

Jika huruf yang ditulis besar semua maka dapat ditafsirkan menjadi dua hal. Pertama, penulis email dalam keadaan “marah” atau isi email adalah sesuatu yang penting. Kedua, penulis email tidak mengerti tata cara menulis dengan baik benar sesuai standar.

Nah, pada kesempatan itu saya sengaja mengirim email dengan huruf besar semua. Disamping itu, pada kata “dear” dan “regrads” saya tulis dengan huruf kecil. Isi email menggunkan huruf besar semua, tanpa menuliskan kata penutup. Ditambah lagi dengan tidak ada panggilan hormat seperti pak atau ibuk di awal emailnya.

Setelah dibaca, ternyata ia merasakan sesuatu keganjilan dalam cara saya menulis email. Sayang ia tidak komplain langsung kepada saya. Malah ia menyampaikan komplain kepada rekan saya. Ia menyuruh saya memperhatikan kepada siapa email itu dikirim, artinya ia menuntut saya untuk mengirim email secara etis.

Padahal saya bermaksud untuk memberikan pelajaran kepada dirinya dengan cara menulis email seperti itu. Lagian tugas mengirim email dan membuat laporan yang dikirim lewat email tersebut bukan wewenang saya. Saya hanya bersifat membantu rekan kerja yang selalu di preasure oleh dirinya.

Walau sudah membantu kerja rekan saya, tetap saja saya dianggap tak pernah membantu. Itu sama saja dengan tidak menghargai apa yang telah saya kerjakan. Itulah sebabnya saya menyebut pemimpin tidak mencerminkan teladan yang baik.

Meskipun demikian, saya merasa maksud mengirimkan email secara kurang etis itu sudah mencapai tujuan. Buktinya si atasan merasakan ada “kemarahan” dalam email tersebut. Semoga kedepan si atasan dapat berinteraksi dengan baik kepada bawahannya agar pekerjaan yang dijalani terasa nyaman.

Salam Email.

Iklan

2 thoughts on “Berawal Dari Email

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s