Ngepos via Hape

Pulang Habis: Tradisi Mudik Kaum Pinggiran

Sehari-hari Armen menjajakan ikan dari satu kampung ke kampung lain. Bermodalkan sepeda motor tahun 80-an dengan sedikit memodifikasi bangku penumpang untuk peletak ikan, pria separoh baya itu berjualan ikan segar.

Pagi-pagi buta Armen telah sampai di tempat pelelangan ikan (TPI) di Karan Aur, Pariaman. Ia menunggu nelayan tiba dari laut. Menjelang azan subuh berkumandang, satu persatu nelayan mulai menepi ke dermaga. Armen dan pedagang ikan lain mendekati para nelayan sekaligus tawar menawar harga ikan hasil tangkap mereka.

Biasanya Armen mengamati dulu jenis ikan tangkapan nelayan. Barulah kemudian tawar menawar harga dimulai. Pastinya, ikan yang dibeli untuk dijual kembali harus sesuai dengan daya beli masyarakat di kampungnya. Pernah suatu ketika ia ditawari oleh nelayan sekeranjang ikan tuna dan lobster yang menurut ukuran kantong orang kampung terlalu mahal harganya. Lalu, Armen tidak mau menjual karena gak terjangkau oleh pelangan yang rata-rata para petani yang sanggup membeli ikan teri.

Analisis pasar sederhana yang dilakukan Armen diperoleh dari pengalamannya di rantau. Sudah hampir 30 tahun Armen malang melintang di perantauan. Di rantau ia manggaleh (berdagang) apa saja yang bisa dijual, asalkan halal. Semua pulau besar di indonesia pernah ia singgahi. Awalnya merantau ke kalimantan, pindah ke sulawesi dan pindah lagi ke papua dan berakhir di pulau jawa.

Armen menyongsong tanah rantau tanpa bekal pendidikan. SD pun tak tamat, tapi ia mampu bertahan ditengah kerasnya hidup di perantauan selama 30 tahun. Terakhir kali ia berjibaku di ibukota jakarta sebagai pedagang baju kaki lima di pasar cipulir. Namun, nasibnya tak beruntung sebab tempat berdagangnya digusur aparat tepat pada malam idul fitri.

Lebaran dua tahun lalu, Armen lagi mudik bersama keluarga ke ranah minang. Sekembali dari kampung, ia harus menelen kenyataan pahit bahwa tempat berdagangnya di depan pasar cipulir telah digusur. Ketika itu ia merasa gundah, apalagi terlanjur membawa istri dan anak-anaknya ke ibukota. Modalnya pun sudah mulai menipis, sedangkan tempat berdagangnya tidak ada lagi.

Untuk bisa bertahan, Armen berjualan pakaian dalam wanita di pasar malam dan pasar pagi ciputat. Sayang, ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup yang tinggi di ibukota membuat armen tak sanggup lagi bertahan. Dengan terpaksa, Armen beserta istri dan anak-anaknya harus kembali lagi ke kampung.

Lebaran tahun lalu, Armen memutuskan untuk pulang habis bersama keluarganya. Mudik tahun lalu adalah mudik terakhir baginya setelah 30 tahun mengembara di perantauan. Pulang habis adalah tradisi bagi mereka yang tidak lagi sanggup hidup di rantau. Semestinya pulang habis tidak harus dilakukan oleh mereka yang “gagal” saja. Tapi harus pula dilakukan oleh mereka yang “sukses”, karena dengan kesuksesan itu dapat membangun kampung halaman.

Lebaran tahun ini, sudah masuk satu tahun Armen berada di kampung. Alhamdulillah dengan berjualan ikan keliling, cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu, Armen mendapat penghasilan tambahan dengan menggarap sawah milik tetangganya. Disamping itu, ia disibukan pulang dengan beternak kambing dan sapi di belakang rumah milik keluarga istrinya.

Tak selamnya hidup di negeri orang lain lebih indah daripada hidup di kampung sendiri. Orang minang menyebut dengan “hujan batu di kampuang awak, hujan ameh di kampuang urang” (Hujan batu di kampung sendiri, hujan emas di kampung orang). Artinya, meskipun hidup di rantau terasa enak dan nyaman, janganlah sekali-kali lupa dengan kampung halaman. Sebab betapa mewahnya di tempat lain akan lebih nikmat bila berada di tempat sendiri.

Salam Mudik

Iklan

One thought on “Pulang Habis: Tradisi Mudik Kaum Pinggiran

  1. “Tak ada yang mengalahkan keindahan kampung halaman” sebagai orang rantau, saya paham banget rasanya… 🙂

    Salam kenal.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s