Gak Penting Yaa

Paskibra

Bagi alumni pengibar bendera (paskibra) merah putih pada 17 agustus di tahun yang lampau tentu tidak akan melupakan momen setiap kemerdekaan. Menjadi kebanggan tersendiri bagi mereka karena telah diberikan kesempatan untuk menjulangkan merah putih ke angkasa.

Selama perayaan kemerdekaan itu ada, maka selama itu pula akan selalu ada acara pengibaran bendera. Merah putih bukan hanya sekedar bendera, tapi merah putih sudah menjadi pemersatu bangsa.

Anggota paskibra merupakan siswa pilihan dari berbagai sekolah menengah di seantro negeri. Skala pengibar bendera bermacam-macam pula, ada paskibra setingkat kota/kabupaten, paskibra tingkat provinsi dan paskibra tingkat nasional. Semuanya betugas menunaikan merah putih dengan atraksi baris-berbaris layaknya militer.

Sekilas upacara bendera terkesan sebagai formalitas belaka. Tapi tidak bagi anggota paskibra, sebab terdapat kebanggan tersendiri bagi mereka setelah diberi kepercayaan mengibarkan sang saka merah putih.
Apalagi bagi anggota paskibra di tingkat nasional yang secara langsung disaksikan oleh berjuta-juta rakyat indonesia.

Kabarnya, mantan presiden megawati juga merupakan alumni paskibra. Hal ini menjadi catatan tersendiri bagi alumni paskibra bahwa setelah menjadi anggota pengibar bendera, profesi mereka sangat beragam. Melalui profesi mereka itulah wujud dari pengabdian kepada bangsa bermula.

Formalitas upacara bendera tidak cukup mereperesentasikan pengabdian mereka kepada negara. Dengan melakukan yang terbaik di masing-masing bidang yang digeluti, telah mencerminkan pengabdian terhadap bangsa dan negara.

Saya memberikan satu contoh seorang teman yang merupakan alumni paskibra. Sebut saja namanya Rio, dulu ia merupakan anggota paskibra di kota kami. Bahkan Rio dipilih sebagai anggota terbaik yang dipercaya membawa bendera merah putih. Kini ia berpofesi sebagai peternak, yakni peternak ayam.

Ketika rekan-rekannya yang telah sarjana tengah sibuk mencari kerja. Rio malah disibukan dengan mengurus ayam-ayam di kandang. Rio hanya tamat SMA, namun ia telah bergelimang sukses. Karyawan kadangnya saja sudah mencapai 66 orang secara keseluruhan. Sebagian karyawan sudah ada yang berkeluarga, sementara Rio sebagai juragan ayam masih bujang karena memang umur Rio belum mencapai 25 tahun. Artinya, Rio mampu menjadi penggerak ekonomi di kampungnya yang dapat menyerap tenaga kerja yang berasal dari warga sekitar.

Rio menjelama menjadi seorang enterpreuner sukses di usia muda. Salah satu indikator maju tidaknya sebuah negara adalah seberapa banyak negara tersebut memiliki enterpreuner. Karena para enterpreuner mampu menggerakan ekonomi negara menjadi lebih baik dan kuat. Kekuatan negara kecil seperti singapura terletak pada enterpreuner di negara itu yang begitu banyak bila dibandingkan dengan indonesia.

Sosok seperti Rio yang merupakan alumni paskibra telah mengabdikan diri kepada bangsa dan negara ini sebagai seorang peternak ayam. Hal ini terasa kontras bila dibandingkan dengan oknum pejabat negara yang hanya bisa mengabdikan diri kepada negara dengan cara mengkorupsi uang rakyat.

Salam Merdeka

Sumber : My Kompasiana

Iklan

6 thoughts on “Paskibra

  1. Salut dengan sosok Rio yang lebih memilih untuk menjadi seorang pengusaha. Saya pribadi sempat ikut seleksi paskibra, namun hanya bisa sampai tingkat kabupaten karena sudah harus bertemu saingan dari SMA Taruna Nusantara. Sekarang beberapa tahun berlalu saya pun bekerja di sebuah peternakan,namun bukan sebagai pengusaha, hanya sebagai pekerja.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s