Gak Penting Yaa

Makna Merdeka Bagi Korban Gempa

Ilustrasi/Admin (KOMPAS)
Ilustrasi/Admin (KOMPAS)

Sudah hampir dua tahun mak upiak tinggal di rumah hunian sementara yang dibangun oleh LSM mancanegara. Mak upiak hidup sebatang kara, hanya sebidang tanah peninggalan suami yang ia punya. Mak upiak ditinggal pergi oleh suami tercinta yang meninggal tertimpa reruntuhan bangunan pada gempa padang tahun 2009 lalu. Selama pernikahan mereka, belum satupun dikarunia anak.

Di usia yang sudah uzur, mak upiak masih semangat mengais rezeki. Tanpa lelah mak upiak menjajakan makanan pabukoan (berbuka) dari rumah ke rumah. Makanan pabukoan diperoleh dari juragan ketupat yang tinggal di belakang pasar. Mak upiak membawa dulu barang dagangan, setelah laku terjual barulah ia membayar kepada juragan. Di luar ramadhan, biasanya mak upiak berjualan ketupat sayur di pagi hari.

Bila ada acara di kampung kami misalnya acara panjat pinang, maka mak upiak tidak pernah ketinggalan untuk berjualan kerupuk balado di tengah keramaian itu. Kini ia harus mengurut dada, sebab tidak ada lagi acara tujuh belasan karena hari kemerdekaan tahun ini bertepatan dengan bulan ramadhan. Tapi, mak upiak tidak pernah mengeluh. “Indak disitu ciek sek razaki amak doh yuang” (Nak, bukan ditempat itu saja rezeki emak) kata mak upiak kepadaku ketika aku lontarkan pertanyaan tentang pendapatnya atas tidak adanya acara tujuh belasan.

Selain itu aku bertanya perihal bantuan gempa yang seharusnya didapat. Mak upiak menjelaskan bahwa urusan gempa sudah ia wakilkan sepenuhnya kepada anak dari pelanggannya yang bekerja di kantor kelurahan.

Sayang tidak sepenuhnya bantuan diterima sebesar 15 juta untuk kerusakan berat yang menimpa rumahnya. Bantuan yang sampai ke tangan mak upiak talah disunat sana-sini oleh para pejabat kecamatan dan kelurahan. Baru 40% uang bantuan tahap pertama yang ia terima, uang sebanyak itu tidaklah cukup membangun kembali rumahnya seperti semula.

Hanya rumah mak upiak saja yang belum dibangun kembali. Rumah tetangga mak upiak sudah bersolek dan sudah selesai dibangun lagi dengan tambahan biaya dari sanak family mereka yang berada di perantauan. Karena keterbatasan biaya, mak upiak hanya bisa merenovasi ala kadarnya rumah hunian sementara yang ia dapat dari bantuan lembaga sosial dari negara asing.

Ironis, mak upiak malah mendapatkan bantuan yang layak dari negara lain. Sedangkan bantuan dari negara sendiri telah habis di korupsi oleh pejabat kelurahan yang tak bertanggung jawab.

Mau dibawa kemana negara ini, jika sosok seperti mak upiak yang tua renta masih saja direbut haknya. Banyak “mak upiak” lainnya yang telah dizalimi oleh oknum-oknum negara yang serakah. Mereka seperti mak upiak ini tidak bisa merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Merdeka dari kezaliman, merdeka dari korupsi dan merdeka dari penindasan saudara dan bangsanya sendiri.

Sumber : Kompasiana

Iklan

One thought on “Makna Merdeka Bagi Korban Gempa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s