Ngepos via Hape

Dua Bengkel, Dua Rezeki

Berkali-kali aku dibuat takjub dengan fenomena rezeki. Hingga kini aku belum dapat memahami apa itu rezeki. Semakin aku tidak memahami, maka semakin kuat dorongan dalam diri untuk mempelajarinya, baik secara tekstual maupun secara kontekstual.

Ketika aku berada ditengah keramaian, selalu terbesit dalam pikiranku bagaimana Tuhan mengatur rezeki umatNYA yang begitu banyak. Bukankah sudah ditentukan kepada setiap makhluk hidup di dunia ini telah mendapatkan porsi rezeki sesuai takaran masing-masing. Bahkan jauh sebelum kita lahir, rezeki kita sudah ditentukan oleh tuhan yang maha kuasa.

Kalaupun sudah ditentukan, kenapa kita diharuskan untuk berburu rezeki. Sebagian orang meyakini bahwasanya rezeki itu harus di jemput, ia tidak datang dengan sendirinya. Mungkin berburu rezeki ini lebih dikenal dengan sebutan melakukan usaha. Akan tetapi, sebagian lainnya berpendapat bahwa ada beberapa rezeki yang tidak mesti dijemput dengan usaha, ia akan datang dengan sendirinya.

Mungkin kisah yang saya alami saat ini sedikit menggambarkan tentang rezeki tersebut. Apakah dipandang sebagai sesuatu yang diusahakan atau tidak.

Ceritanya bermula disaat aku tertimpa musibah di perjalanan menuju pulang ke rumah. Baru mulai jalan, ban kendaraan langsung bocor. Tak jauh dari tempat bocor ban, terdapat dua bengkel tambal ban.

Entah kenapa, aku malah memilih bengkel yang paling jauh dari tempat ban bocor. Padahal bengkel yang satu lagi sangat dekat dengan tempat aku mengalami kebocoran ban.

Aku pun berpikir, mungkin ini bukan rezeki bengkel tambal ban yang pertama, tapi rezeki bengkel tambal ban kedua yang letaknya jauh dari kejadian. Lalu aku coba untuk merenungkan lebih mendalam, kenapa mesti harus memilih tempat yang jauh padahal ada tempat terdekat.

Disitulah keajaiban rezeki, ia kadang datang dengan sendirinya. Tanpa adanya usaha dari pemilik bengkel untuk memasarkan jasanya, tetap saja ada datang pelanggan untuk menambal ban. Bukankah itu dapat dikatakan ada unsur tidak sengaja atau tanpa usaha yang menjadi komponen dari rezeki.

Oke. Mari kita anggap pemilik bengkel sudah melakukan usaha dengan membuka bengkel tambal ban. Itu bukan berarti secara otomatis pemilik bengkel mendapatkan rezeki. Kemudian yang menjadi pertanyaan, apakah dengan usaha menjamin pemilik bengkel akan mendapatkan rezeki??

Jawabnya, tidak menjamin karena sekuat apapun usaha yang dilakukan, kalo rezekinya sedikit tetap aja memperoleh penghasilan sedikit. Disisi lain orang yang kurang berusaha kadang memperoleh rezeki yang banyak. Dengan sedikit berusaha, ia kadang memperoleh penghasilan yang banyak.

Kembali lagi kepada dua bengkel tadi. Bengkel pertama dan bengkel kedua sama-sama berusaha dengan membuka bengkel. Tidak menjamin kedua bengkel akan memperoleh penghasilan yang sama. Walaupun tingkat usaha kedua bengkel sama, tetap saja rezekinya tak sama.

Oleh karena itu, ada faktor yang menyebabkan rezeki itu datang, baik itu melalui faktor usaha maupun tanpa usaha. Selain itu, rezeki selalu mangaitkan kita dengan manusia lainnya, dengan lingkungan dan dengan tuhan yang maha kuasa.

Ketertarikan saya untuk menambal ban pada bengkel terjauh membuktikan bahwa ada semacam keterkaitan rezeki saya dengan bengkel kedua, walau berada pada tempat yang berjauhan. Contoh lain iala para TKI yang bekerja diluar negeri akan membagi rezekinya kepada keluarganya di kampung halaman.

Jadi, jangan anggap semua yang kita miliki adalah rezeki kita semua kerena dalam harta kita terdapat rezeki orang lain yang mesti kita tunaikan. Tanpa kita sadari, kita telah saling berbagi rezeki dengan sesama. Kisah tambal ban diatas adalah contoh sederhana berbagi rezeki yang tak pernah kita sadari.

Salam Rezeki

Iklan

One thought on “Dua Bengkel, Dua Rezeki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s