Gak Penting Yaa

Refleksi Hari Anak

Hari ini bertepatan dengan hari anak. Belum terlambat kiranya memperingati hari anak ini dengan merefleksikannya melalui kesempatan menulis di hari ini. Kesempatan yang mungkin hanya bisa terulang satu tahun kedepan, yakni pada peringatan hari anak di tahun mendatang.

Untuk itu, di tahun ini tepat pada hari ini diperingati sebagai hari anak di indonesia, refleksi itu saya tuangkan dalam tulisan kali ini. Tak surut rasanya untuk menuliskan tentang anak, meskipun hari anak internasional diperingati pada 1 juni dan 20 November sebagai hari anak universal.

Ketidakseragaman memperingati hari anak tidak melunturkan semangat untuk mempedulikan dan sedikit merenung tentang hak anak, baik dalam skala nasional maupun internasional.

Kita masih menyaksikan betapa hak anak masih dirampas oleh pihak yang berkepentingan. Banyak kita saksikan anak-anak yang diterlantarkan oleh negara. Dengan mudah kita menemukan anak-anak di setiap persimpangan jalan tanpa mengecap pendidikan. Bahkan tak sedikit pula kita menyaksian para orang tua mengesploitasi anak-anak mereka agar mampu menghasilkan keuntungan secara ekonomi.

Anak yang seharusnya mengenyam pendidikan harus gigit jari untuk dapat bersekolah. Walaupun pendidikan telah gratis, masih banyak orang tua yang kurang begitu peduli dengan anak mereka. Tingkat pendidikan orang tua tentu akan mempengaruhi sikap dan prilakunya terhadap anak. Orang tua yang tidak mempedulikan pendidikan anak-anaknya dengan terpaksa menjadikan anaknya sebagai pekerja yang seharusnya dilakukan oleh orang dewasa.

Beberapa waktu yang lalu, saya melihat dua orang anak sedang mencuci motor di tempat pencucian motor. Saat itu masih jam sekolah, tapi kedua anak itu malah bekerja mencuci motor. Apakah ia tidak sekolah? Pertanyaan itulah yang kemudian menggelantung dalam pikiran. Melihat situasi dan keadaan, memang kedua anak itu tidaklah sekolah karena di jam sekolah ia masih bekerja di tempat pencucian motor.

Lalu saya merenunkan betapa tega pemilik cucian motor mempekerjakan anak dibawah umur. Mestinya pekerjaan itu dilakukan oleh orang dewasa. Parahnya kedua anak tersebut tampak seperti anak perempuan. Hal ini semakin mendiskreditkan hak anak yang semestinya dilindungi oleh negara.

Kejadian diatas bukanlah kali pertama saya menyaksikan anak-anak yang diekploitasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Hampir di setiap perempatan kota yang padat terdapat anak-anak yang mengemis bersama saudara dan orang tua mereka. Bahkan eksplotasi ini tidak menyentuh masyarakat perkotaan, tapi juga mulai mewabah di daerah pedesaan. Kejadian dua anak perempuan yang bekerja ditempat pencucian motor diatas terjadi di sebuah kampung.

Jadi, bukan hal aneh lagi kita menyaksikan eksploitas anak dimana-mana. Pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh orang dewasa harus dibebankan kepada mereka yang semestinya belum menjadi beban mereka untuk dikerjakan. Dengan hari anak ini kita berharap eskploitasi anak tidak lagi kita jumpai dan hak-hak anak dapat terpenuhi.

Salam Anak

Iklan

One thought on “Refleksi Hari Anak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s