Gak Penting Yaa

Saya Bangga Tidak Lulus Ujian Nasional

Lagi-lagi potret pendidikan di negeri ini diwarnai beragam persoalan yang seakan tidak pernah henti. Banyaknya bangunan sekolah yang roboh, mahalnya biaya pendidikan, tingginya angka putus sekolah hingga polemik Ujian Nasional (UN) membuat sistem pendidikan negeri ini semakin muram. Belakangan mengemuka lagi persoalan UN yang semakin membuktikan kepada kita semua bahwa ada sesuatu yang salah dalam sistem pendidikan negeri ini.

Kasus Siami, seorang ibu yang membongkar contek masal di SDN Gadel II/577 Tandes, Surabaya adalah sekilas gambar muram sistem pendidikan bangsa ini. Tragisnya keluarga Siami diusir oleh warga Gadel karena sikap jujurnya yang mengadukan kecurangan yang dilakukan oleh pihak sekolah. Kasus ini berawal dari seorang siswa bernama Alif yang disuruh oleh gurunya untuk memberikan contekan kepada teman-temanya saat UN, lalu Alif mengadukan perbuatan tersebut kepada ibunya. Siami kemudian melaporkan kecurangan tersebut kepada kepala sekolah dan komite sekolah, sayang pengaduan tersebut tidak digubris. Pada akhirnya masalah ini sampai ke publik, bahkan menarik perhatian walikota Surabaya yang memberikan sanksi kepada kepala sekolah dan guru yang terkait. Warga Gadel marah dengan kejujuran Siami dengan mengusir keluarganya dari Gadel.

Ironis, hanya itu kata yang dapat terlontar mendengar kisah Siami yang berjuang menegakan kejujuran. Dikucilkannya keluarga Siami menyiratkan kepada kita bahwa betapa mahal harga kejujuran di negeri ini. Sistem pendidikan tidak mengajarkan kepada kita pentingnya nilai moral dan kejujuran itu. Malah semenjak adanya UN kecurangan semakin meningkat, sekolah berlomba-lomba menargetkan kelulusan 100 persen dengan mengenyampingkan nilai moral dan nilai keagamaan.

Satu Sekolah Tidak Lulus UN

Bicara persoalan UN membuat saya teringat dengan kisah 8 tahun yang lalu. Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah menengah di SMK Surya Utama, Pariaman. Tepatnya pada tahun 2003 dimana tahun itu adalah periode pertama diberlakukan UN. Kami merupakan generasi pertama merasakan pahitnya Ujian Nasional.

Di pertengahan semester semua siswa dikejutkan dengan kabar bahwa untuk bisa lulus sekolah harus memenuhi nilai lebih dari 3 untuk masing-masing mata pelajaran dan harus lebih dari angka 6 untuk nilai rata-ratanya. Kabar itu membuat kami kaget, sehingga para guru mendorong semua siswa, terutama siswa kelas 3 untuk belajar tambahan dengan sekolah sore. Kami digenjot dengan pelajaran tambahan selama tiga bulan sebelum dilaksanakannya Ujian Nasional.

Ketika Ujian Nasional tiba, para siswa kelabakan dengan soal yang dihadapi apalagi dengan soal matematika yang cukup sulit untuk dikerjakan oleh kebanyakan siswa. Ujung-ujungnya siswa mencari contekan kepada teman-temanya di kamar mandi. Menariknya di salah satu kelas (saat itu kelas yang saya tempati) ada pengawas yang membolehkan peserta ujian untuk membuka buku catatan dengan syarat tidak boleh ribut. Di lain kesempatan ada pula pengawas yang membiarkan peserta ujian menyontek kepada teman-temannya di dalam kelas.

Saat pengumuman kelulusan, tidak ada satupun yang lulus ujian selain 15 orang siswa di sekolah saya itu. Artinya, hanya 15 dari 150 orang siswa yang lulus ujian nasional di SMK Surya Utama. Sedangkan 135 siswa tidak lulus UN, saya termasuk salah satu dari 135 siswa yang tidak lulus itu.

Meskipun tidak lulus, beberapa diantara kami tetap melakukan aksi coret-coret seragam seperti layaknya mereka yang telah lulus sekolah. Tidak ada air mata, tidak ada raut kesedihan yang nampak di wajah-wajah mereka yang tidak lulus itu. Mungkin karena kami masih diberi kesempatan untuk memperbaiki nilai-nilai kami yang tidak memenuhi standar UN dangan ujian susulan.

Ketika ujian susulan kami masih dimanjakan dengan aneka ragam kecurangan. Pertama, saat ujian kimia kami diberikan kunci jawaban oleh guru kami dari luar kelas. Kunci jawaban ini digilir kepada teman-taman lain sehingga jawaban soal kimia kami hampir mirip. Kedua, pengawas masih memberikan celah dan kesempatan kepada peserta ujian untuk berbuat curang dangan aksi contek-mencontek.

Ketidakjujuran yang telah kami lakukan itu berangkat dari keterpaksaan dan tuntutan supaya kami harus lulus UN. Aksi guru kami yang memberikan kunci jawaban merupakan bentuk dari tuntutan agar murid-muridnya dapat lulusan ujian. Sedangkan sikap yang kami pertontonkan dengan mencontek saat ujian adalah dorongan agar kami tidak dianggap “sampah” dalam dunia pendidikan negeri ini. Siapakah yang salah? Kami? Guru kami? atau, sistem pendidikanya?.

Pengakuan Dosa Masa Lalu

Semua manusia tidak terlepas dari dosa, mungkin aksi itu merupakan dosa masa lalu kami yang hingga kini masih membekas dalam ingatan. Kadang saya dan teman-teman tertawa sendiri mengingat saat-saat dimana kami tidak lulus ujian nasional. Kami mentertawakan kebodohan kami, kami mentertawakan kemunafikan sistem pendidikan negeri kami.

Kejadian yang kami lalui memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada kami bahwa kejujuran itu sangatlah penting. Bahkan kejujuran lebih penting dari pada nilai ujian nasional yang terpampang pada ijazah kami. Percuma saja di ijazah tertera nilai tinggi kalau tidak ada kejujuran yang melekat di dalamnya. Untuk apa menggotong ijazah tersebut ke dunia kerja tanpa adanya kejujuran yang dapat menjadi modal dasar untuk bertahan hidup.

Kami merasa bangga tidak lulus ujian nasional. Betapa tidak, ketidaklulusan yang terjadi pada kami semua adalah harga yang harus dibayar atas kecurangan yang kami lakukan saat ujian nasional. Jauh dari itu, kami merasa bangga atas tindakan yang dilakukan ibu Siami. Kebanggan atas kejujuran ibu Saimi lebih besar dari pada kebanggan atas ketidaklulusan kami.

Iklan

6 thoughts on “Saya Bangga Tidak Lulus Ujian Nasional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s