Gak Penting Yaa

Dari Ban Bocor Hingga Pesawat Kepresidenan RI

Tak ada sesuatu yang istimewa di pagi hari ini, semua berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Malahan tadi pagi ketiban sial, tiba-tiba saja ban sepeda motor bocor. Untung sajak kesialan ini tidak terlalu parah karena jarak antara tempat tambal ban dan tempat bocornya ban sepeda motor tidak terlalu jauh. Jadi karena itu, dengan terpakasa harus nunggu tiga motor pula sehingga aktifitas di hari ini sedikit tertunda.

Saya mencoba untuk memahami kenapa di hari senen ini tidak ada perubahan signifikan dari pada hari-hari sebelumnya. Pertama, mungkin dalam satu minggu ini kurang begitu update dengan perkembangan-perkembangan berita terbaru baik berita lokal, nasional dan internasional. Kedua, mungkin belakangan ini intensitas membaca jauh menurun sehingga ada saja rasanya yang kurang terutama di dalam otak ini. Ketiga, perasaan gelisah hampir menggerogoti diri ini karena alasan yang memang tidak terlalu jelas. Kuat dugaan alasanya mungkin selama dua hari ini tidak ada satupun tulisan, ya tulisan yang mampu mengobati segala jenis kegalauan di hati.

Begitulah sekiranya berbagi perasaan di pagi yang sangat cerah ini. Meskipun cuaca dalam keadaan cerah, tapi tidak dengan suasana hati yang saat ini dalam keadaan muram. Entah apa yang terjadi, hanya Allah yang tahu segalanya.

Untuk keluar dari suasana hati yang kurang mendukung ini, maka saya intip beberapa artikel untuk menyegarkan aktifitas di hari ini. Baca berita sana sini, isinya tak terlapas dari kasus korupsi, kriminal, berebut jabatan dan berita-berita kurang bagus. Bahkan penguasa negeri ini silih berganti bersolek diri dengan membangun gedung, pemerintah juga tak mau ketinggalan dengan membeli pesawat kepresidenan. Ya… Ujung-ujungnya pakai uang rakyat juga.

Bila dilihat dari satu sisi fasilitas pejabat itu memang perlu untuk mendukung pekerjaan para pejabat ngurus rakyat. Sayang rakyat yang diurus tak kunjung sejahtera, malah para pemimpin bergelimang harta dan dimanjakan dengan kemewahan yang dibayar dengan uang rakyat. Rakyat dengan terpakasa harus gigit jari melihat ulah pemimpinya tanpa bisa memberi perlawanan karena kekuasaan sudah sepenuhnya berada ditangan elite bukan lagi ditangan rakyat. Oleh karena itu, skala prioritas pembangunan insfrastruktur fasilitas pejabat negara  patut dikaji ulang dengan mengedepankan pembangunan infarastruktur vital yang bersentuhan langsung dengan rakyat.

Analogi sederhananya seperti bocornya ban sepeda motor, seperti yang saya alami di pagi ini. Jika ban sepeda motor itu masih memungkinkan untuk dipakai meski sudah banyak tambalnya. Maka tidak harus menggganti ban baru, cukup dengan di tambal lagi dimana bocornya. Kita tidak harus membeli ban baru, hanya karena perosoalan bocor saja. Selama masih bisa digunakan seusai dengan fungsinya, maka tak usah diganti dengan yang baru. Begitu pula dengan gedung DPR, selama yang lama masih bisa digunakan kenapa harus bangun yang baru. Tak berbeda halnya dengan pesawat kepresidenan, kenapa harus beli pesawat baru bila pesawat yang ada, seperti pesawat komersil yang biasa digunakan masih layak untuk menerbangkan orang nomor satu di negeri ini.

Sekedar kita ketahui, pemerintah membeli pesawat kepresidenan Boeing Business Jet 2 seharga US$ 58 juta. Pesawat ini akan efektif digunakan oleh sang presiden pada akhir 2013. Pesawat udah dipesan ke perusahaan Boeing dan tinggal rakit, harga udah cocok, rakyat sudah “angguk-angguk” yang diwakili oleh wakilnya di DPR. Uang pun sudah disisihkan untuk membeli pesawat sang presiden, termasuk pula uang perawatan selama pesawat itu ditunggangi oleh petinggi negeri ini. Sementara rakyat jelata hanya bisa menyaksikan pemimpinya bergelimang fasilitas mewah. Apa salahnya, sang presiden berbaur dengan rakyatnya dengan cara menumpangi pesawat komersil, ya pesawat yang sama dengan pesawat yang digunakan rakyatnya.

Demokrasi di negeri ini selalu berkaca dengan demokrasi ke negeri adidaya Amerika Serikat. Kuat dugaan latar belakang pembelian pesawat kepresidenan ini tidak terlepas dari watak membeo pemerintah kepada lifestyle pemerintahan Amerika Serikat yang mempunyai Air Force One, sebuah pesawat kepresidenan fenomenal. Untuk negara seperti Amerika sudah sepatutnya mempunyai pesawat kepresidenan khusus karena industri pesawat terbang mereka sudah cukup maju, artinya sanggup bikin pesawat sendiri. Sedangkan kita hanya bisa mengkonsumsi dengan membeli segala sesuatu ke luar negeri, bahkan untuk berobat saja kita masih berkunjung ke luar negeri apalagi dengan pesawat terbang.

Apa yang salah dengan negeri ini, sesunggunya kita berpotensi mandiri dalam hal industri pesawat terbang. Buktinya anak negeri ini mampu membuat pesawat terbang hasil karya sendiri. Kita mempunyai IPTN yang sekarang dikenal dengan PT Dirgantara Indonesia yang pernah menghasilkan pesawat terbang kebaanggan negeri. Sayang beribu sayang, industri pesawat terbang negeri ini tampak melesu dan dililit berbagai masalah. Kini dengan enteng pemerintah membeli pesawat ke luar negeri, sementara pesawat yang diproduksi di negeri ini tak laku-luku.

Iklan

3 thoughts on “Dari Ban Bocor Hingga Pesawat Kepresidenan RI

  1. waw analogi yang tepat sasaran :O
    terkadang memang pemerintah Indonesia ini suka sok kebanyakan uang
    huh padahal masih banyak infrastruktur pendidikan di pedalaman sana yang belum layak dan juga kemiskinan masih merajalela

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s