Gak Penting Yaa

Anak Kampung Lulus di ITB

Anak Kampung Lulus di ITB Sedang Antri Bersama Bapaknya.
Anak Kampung Lulus di ITB Sedang Antri Bersama Bapaknya

Sulit bagi saya untuk tidak menuliskan apa yang terjadi pada foto diatas. Foto diatas saya ambil 2 minggu yang lalu di bank BRI Sungai Sariak, Sumatera Barat. Foto ini di japret tanpa sengaja karena saya melihat seorang anak sekolah yang duduk persis didepan saya sedang menyandang tas robek.

Melihat tas robek itu membuat saya teringat pada masa lalu. Sewaktu masih duduk di sekolah dasar saya juga pernah menyandang tas lusuh yang dihiasi dengan bekas jahitan karena robek. Spontan saja saya langsung menjapret tas anak sekolah itu dengan kamera handphone. Dengan harapan foto ini dapat mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya adalah orang biasa yang dulu pernah memakai tas robek ke sekolah.

Tak lama berselang, datanglah seorang bapak-bapak yang menggunakan baju batik bertanya kepada anak tersebut, sebut saja namanya Yudi. Usut punya usut ternyata bapak itu adalah guru dari Yudi. Hal itu saya ketahui dari pembicaraan mereka berdua. Sang guru bertanya kepada Yudi, kapan ia dan teman-temannya pergi berangkat ke Jawa. Saya sendiri mau tak mau, ikut terlibat dengan obrolan antara guru dan murid yang berlangsung di tempat umum itu, meskipun hanya sebatas sebagai pendengar karena saya tidak mengenal kedua orang tersebut.

Tas Robek Terlihat Dari Dekat

Yudi tidak menjelaskan secara terperinci tujuannya ke jawa, namun berangkat dari pertanyaan gurunya dapat disimpulkan bahwa Yudi pergi ke Jawa untuk menimba Ilmu. Saya menduga bahwa Yudi lulus di salah satu universitas yang ada di pulau jawa. Sedangkan saat itu, pendaftaran untuk penerimaan mahasiswa baru (SNMPTN dan sejenisnya) belumlah dibuka, tapi Yudi dan teman-temanya sudah dinyatakan diterima di perguruan tinggi. Jadi kuat dugaan saya bahwa Yudi dan teman-temannya lulus melalui jalur undangan dari universitas atau PMDK (lupa saya kepanjangan dari PMDK, nyari sendiri ya :D) SNMPTN jalur undangan.

Sambil menduga-duga saya melanjutkan menjapret tas Yudi tanpa sepengetahuan dirinya. Antrian juga masih lama, begitu pula dengan Yudi yang nomor antriannya hanya berjarak tiga angka dari nomor antrian saya. Selang beberapa lama, datang pula seorang teman dari Yudi yang menyapa dirinya. Nah, dari obrolan Yudi dengan temannya itulah saya mengetahui bahwa ternyata Yudi lulus di ITB (Institut Teknologi Bandung).

Wawww… langsung saya kaget mendengar obrolan mereka. Ternyata anak kampung yang menyandang tas robek ini lulus di ITB, sebuah universitas yang diidamkan oleh setiap orang. Ia lulus di kampus yang pernah membesarkan Sukarno dan Habibie. Ia akan merajut masa depan di salah satu universitas terbaik di Indonesia.

Di tempat saya, lulus di ITB merupakan prestise tersendiri di tengah anak-anak muda yang memburu bangku perkuliahan. Mereka yang jebol di ITB adalah anak-anak pintar dan anak-anak yang cerdas di sekolahnya. Banyak anak-anak muda yang ingin berkuliah di ITB, UI dan UGM. Tapi keinginan tersebut tidaklah mudah untuk dicapai karena kompetisi untuk masuk di perguruan tinggi tersebut tidaklah mudah.

Sayang perkembangan dunia pendidikan belakangan ini tidak hanya memungkinkan mereka yang pintar saja dapat berkuliah di perguruan tinggi favorite, tapi mereka yang memiliki kemampuan finansial  lebih dapat dengan mudah masuk perguruan tinggi idaman hanya dengan menggunakan uang. Secara berangsur keberadaan mereka yang pintar, tapi miskin secara materi mulai digusur oleh mereka yang kaya.

Iklan SNMPTN di Salah Satu Koran Lokal
Iklan SNMPTN di Salah Satu Koran Lokal

Lebih tepatnya adalah komersialisasi pendidikan, dimana setiap universitas dituntut lebih mandiri dalam hal pendanaanya. Negara seakan mulai lepas tangan dengan menekan agar pihak universitas mencari dana sendiri untuk bisa bertahan ditengah globalisasi. Ujung-ujungnya mahasiswa menjadi sumber ampuk bagi pemerintah untuk menangguk dana segar dengan menaikan uang kuliah setinggi langit. Dengan berlabelkan BHP (Badan Hukum Pendidikan) negara meminggirkan orang-orang pintar seperti Yudi, untung saja UU BHP dianulir oleh mahkama konstitusi. Tapi negara tidaklah menyerah dengan mencari celah lain agar pendidikan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara dapat lepas dengan segera.

Kesederahanaan yang tergambar dari penampilan Yudi membuktikan kepada kita semua bahwa tidak semuanya dapat diukur dengan uang. Meskipun uang dapat dengan mudah mengantarkan seseorang masuk perguruan tinggi favorite, tapi tanpa uang seorang seperti Yudi sanggup menginjakan kakinya di ITB. Semoga keberadaan orang seperti Yudi ini tidak digusur oleh kebijakan pemerintah yang merampas hak si miskin untuk mendapatkan pendidikan.

Iklan

4 thoughts on “Anak Kampung Lulus di ITB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s