Gak Penting Yaa

Benarkah Gaji 2,2 Juta Membuat Rumah Tangga Aman

Data Badan Pusat Statistik menunjukan bahwa pada tahun 2010 pendapatan terendah mencapai 2 dolar (18.000 ribu per hari/kurs sekarang) sebanyak 43,3 persen dari 237 juta jiwa penduduk Indonesia. Artinya, 102 juta jiwa berpenghasilan mencapai 2 dolar. Angka ini lebih bagus daripada tahun 2003 yakni 62.2 persen. Sementara itu penduduk yang berpenghasilan menengah, yakni 2-20 dolar (18.000-180.000 ribu per hari/kurs sekarang) sebanyak 56,5 persen, sedangakan pada tahun 2003 hanya 37,7 persen. Disamping itu, masyarakat berpenghasilan diatas 20 dolar (180.000 per hari/kurs sekarang) sebanyak 0,2 persen.

BPS mengukur angka garis kemiskinan berdasarkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar makanan dan non makanan. Tolak ukur garis kemiskinan dihitung dari tingkat konsumsi penduduk. Jika konsumsi makanan dan non makanan tidak mencapai 211.000 ribu per bulan/per kapita atau 2.100 kalori per hari maka dikategori sebagai penduduk miskin. Dengan indikator itu BPS menyatakan bahwa 13,3 persen atau 31 juta penduduk berada dibawah garis kemiskinan.

Dari angka diatas terlihat bahwa penduduk yang berpenghasilan di bawah 2 dolar perhari cukup banyak. Sementara yang berpenghasilan diatas 2 dolar relatif lebih banyak dan yang berpenghasilan tinggi hanya sedikit.

Bila kita hitung angka rata-rata seseorang agar tidak tergolong miskin adalah konsumsi harus lebih dari 211.000 ribu per bulan atau konsumsi 2100 kalori per hari. Bila seseorang bergaji 2 dolar atau 540.000 perbulan/perkapita, maka ia sudah berada diatas garis kemiskinan. Asumsinya jika orang tersebut berkeluarga maka ia setidaknya harus memperoleh gaji minimal Rp. 2.160.000 per bulan (540.000 x 4) dengan catatan mempunyai satu istri dan dua orang anak. Dengan gaji sebanyak itu satu keluarga tersebut aman dari kata miskin.

Jadi dengan gaji 2,2 juta bahtera rumah tangga masuk kategori aman dari kemiskinan. Lebih kurang seperti itu hitung-hitungan yang saya baca dari sebuah artikel. Standar gaji sebanyak itu dianggap dapat membuat bahtera rumah tangga berjalan mulus dan pemerintah gak pusing lagi mikirin keluarga miskin yang masih banyak di Indonesia.

Realitasnya kemiskinan memang tidak mutlak diukur dari uang dan angka. Kadang mereka yang mempunyai banyak uang masih saja merasa kurang. Banyak bahtera rumah tangga yang berpenghasilan lebih dari standar gaji diatas rata-rata runtuh karena persoalan materi. Disisi lain, banyak kita temukan mereka yang berpenghasilan dibawah satandar gaji diatas tetap merasa bahagia dan tentram. Lantas rata-rata gaji menurut data statistik tersebut bukan tolak ukur menentukan langgeng tidaknya rumah tangga, melainkan hanya  batasan tertentu agar sebuah keluarga “aman” terkena dampak kemiskinan.

Sementara itu, makna kemiskinan sendiri masih jadi perdebatan di kalangan ahli. Salah satunya defensi miskin menurut versi BPS dengan indikator tertentu telah menghasilkan angka-angka diatas. Dari sudut tertentu angka-angka dapat menjelaskan kepada kita fenomena sosial yang terjadi. Perkembangan teknologi telah membawa kita menggali apa yang terjadi disekitar kita dengan hitungan matematis. Tentu tidak selamanya angka-angka tersebut menjadi hal yang menentukan, ia hanya alat untuk menjelaskan kepada kita.

Misalnya, gaji minimal 2,2 juta tidak dapat menjadi jaminan bagi kita tidak terjebak pada jurang kemiskinan. Andai saja dengan gaji sebanyak itu dibelanjakan kepada hal-hal yang tidak dibutuhkan, apalagi dipertaruhkan di meja judi maka sama saja gaji sebesar itu tidaklah cukup mengangkat derajat kemiskinan. Sedangkan mereka yang berpenghasilan dibawah rata-rata tetap merasa berkecukupan karena mereka membelanjakan uang mereka sesuai dengan kebutuhan.

Hal ini mengingatkan saya dengan defenisi rezeki yang ditulis oleh Ibnu Khaldun. Menurutnya rezeki adalah sabagian dari penghasilan (nilai) yang digunakan sesuai dengan kebutuhan. Bila bergaji 2,2 juta, sementara kebutuhan cuma 1 juta maka sebanyak itulah rezeki kita, sedangkan 1,2 juta lagi bukanlah bagian dari rezeki kita. Seandainya gaji 2,2 juta, sementara kebutuhan lebih besar dari 2,2 juta maka angka gaji rata-rata diatas belum dapat membuat keluarga “aman” dari kemiskinan.

Disamping itu, saya juga teringat dengan ayat Al Quran yang menyebutkan bahwa “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan” (QS. Al-Isra: 31). Siapapun takut dengan yang namanya miskin, bahkan kemiskinan bisa membuat sesorang membunuh. Padahal Allah telah memberikan rezeki kepada kita semua sesuai dengan kadar yang kita butuhkan. Sesungguhnya miskin dan kaya adalah rezeki dari Allah SWT. Bagi mereka yang rajin berusaha akan diberi imbalan kekayaan, sedangkan mereka yang malas berusaha akan dianugrahi kemiskinan.

Iklan

4 thoughts on “Benarkah Gaji 2,2 Juta Membuat Rumah Tangga Aman

  1. jadi bingung waktu baca awal awalnya, penuh dengan itungan.
    Yaa, bisa jadi miskin harta lebih baik daripada miskin hati. Toh, yang pertama kali di hisab entar pada hari kiamat adalah orang orang kaya, yaitu di pertanyakan untuk apa hartanya, darimana, dan bagaimana cara dapatnya.. (uuw, ngerinya, adakah orang yang sadar akan ini?)

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s