Gak Penting Yaa

Gajiku Terkuras Hanya untuk Beli Buku


Bagi saya pribadi, buku memiliki nilai yang tinggi. Dengan buku kita dapat mengetahui sesuatu. Buku sumber pengetahuan yang tak akan pernah mati. Manusia bisa mati, tapi pikirannya tidak. Pikiran-pikiran itu tertuang dalam buku yang dapat menambah wawasan dengan membaca pemikiran sebelum kita.

Saya tidak tahu persis awal mula menyukai buku. Seingat saya, dulu semasa kecil saya sering membaca koran yang dibeli oleh kakak saya. Melalui koran itulah minat baca berawal. Setelah menginjak perguruan tinggi barulah saya sadar ternyata membaca itu penting, terutama membaca buku. Semenjak itu saya mulai gemar membaca dan mengoleksi buku.

Saat kuliah, uang jajan saya sisihkan untuk membeli buku-buku yang berkaitan dengan perkuliahan. Membeli buku begitu berbeda dengan membeli baju. Ketika membeli baju kadang saya merasa tidak puas dan menyesal setelah membeli baju tersebut. Namun, berbeda halnya dengan membeli buku, hampir tidak pernah saya menyesal setelah membeli buku. Bahkan buku-buku yang tidak sesuai dengan harapan, seperti buku yang bagus judulnya tapi biasa isinya pun tidak pernah saya sesali setelah membeli buku seperti itu. Walaupun buku tersebut kurang memuaskan tetap saja saya tidak menyesal membelinya karena buku adalah investasi masa depan.

Selepas kuliah hasrat untuk mengoleksi buku tidak memudar. Bila saat kuliah membeli buku dengan uang jajan dari orang tua, maka selepas kuliah harus membeli buku dengan uang sendiri. Berhubung belum ada beban tanggungan alias masih bujang maka sebagian uang gaji dialokasikan untuk membeli buku.

Suatu ketika hasrat membeli buku begitu menggelora sehingga belanja buku tidak terkontrol dan menguras uang gaji. Meskipun demikian tetap saja tidak ada rasa sesal walau sebagian besar gaji tersedot hanya untuk membeli buku. Itulah salah satu kekuatan buku yang berbeda dengan barang-barang lainnya. Mungkin dengan membelanjakan uang gaji dengan barang lain akan ada penyesalan tapi tidak dengan buku.

Buku memberikan manfaat yang amat besar. Melalui buku kita melatih pikiran dengan membaca. Buku adalah gudang pengetahuan yang tidak akan pernah kosong dengan ide-ide. Aneka jenis ilmu pengetahuan terhimpun dalam sebuah buku. Tak heran bila rasa penyesalan tidak pernah muncul setelah membeli buku. Satu hal yang sangat disayangkan adalah harga buku saat ini cukup mahal.

Meskipun gaji pas-pasan dan harga buku kian mahal tetap saja keinginan memiliki dan membaca buku tak terbendung. Sebetulnya trik agar lebih efisien tanpa membeli buku ada caranya, yakni dengan meminjam buku, baik itu di perpustakaan maupun kepada teman-teman. Akan tetapi cara demikian rasanya hampir mustahil karena saya sendiri berdomisili di daerah yang kurang terakses oleh buku-buku berkualitas yang bisa dipinjam. Jadi, mau tak mau harus membeli bila ingin membaca buku.

Kurangnya akses buku membuat minat baca masyarakat terhadap buku semakin minim. Terlebih lagi dengan ekonomi masyarakat yang mayoritas bertani, tentu profesi ini tidak memungkinkan bagi mereka untuk menyisihkan hasil panen mereka untuk membeli buku. Apalagi minat mereka untuk membaca kurang, sehingga mustahil bagi mereka untuk membeli buku.

Sempat terbayang oleh saya petani-petani ini menyisihkan hasil panen untuk membeli buku dan dibaca oleh anak-anak mereka. Tentu anak-anak petani itu akan menjadi anak yang hebat, walaupun orang tua mereka bertani tak ada halangan bagi mereka untuk bisa mengakses buku. Anak petani itu meski diberi kesempatan seperti anak-anak perkotaan yang begitu mudah mengakses buku.

NB: Tulisan ini diperuntukan pada lomba menulis the power of book di kompasiana

Iklan

6 thoughts on “Gajiku Terkuras Hanya untuk Beli Buku

  1. Aku dan Buku, tak ada buku seakan sepi, terlebih ketika ga ada kerjaan.
    Boleh usul nih? Kenapa ga buat perpustakaan gratis aja untuk anak anaknya petani yang di sebutkan tadi? Dengan buku yang sudah banyak menghabiskan uang. Toh, pahalanya InsyaAlloh bisa mengalir, meskipun sudah meninggal šŸ™‚

    Suka

  2. Ha..ha..ha… Saya dulu juga pernah ngalamin hal yang sama: punya penyakit book impulsive buyer. “Sembuh” kira2 dua tahun lalu gara2 bongkar2 lemari buku dan nemu ada sekitar 80-an buku belum terbaca. Sebagian malah masih terbungkus plastik! Sekarang kalau beli buku saya pilih2.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s