Ngepos via Hape

Ibu Buta Aksara yang Beruntung

Pada tahun 2004 penduduk buta aksara (buta huruf) di Indonesia mencapai 15,4 juta jiwa, artinya 10,21 dari jumlah penduduk Indonesia tidak bisa membaca. Dua tahun kemudian jumlah penduduk buta aksara turun menjadi 12,88 juta atau 8,44 persen, lalu di tahun 2007 mencapai 11,87 juta (7,33 persen). Data terakhir menyebutkan bahwa tahun 2010 diperkiran penduduk buta aksra yang berusia diatas 15 tahun tersisa 8,3 juta orang (4,79 persen).

Data statistik tersebut, penduduk buta aksara mayoritas berasal dari kaum perempuan yang mencapai 64 persen. Sebagian besar berusia diatas 45 tahun. Penduduk buta aksara berasal dari kelompok masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dan terisolasi. Disamping itu, kemiskinan menjadi faktor lain penyebab tingginya angka buta aksara di Indonesia. Dengan program wajib belajar sembilan tahun sedikit menekan angka buta aksra untuk tingkat umur di bawah 45 tahun. Sementara range usia diatas 45 tahun tidak bisa membaca karena saat kecil dulu tidak menamatkan sekolah dasar dan kemauan belajar membaca di luar sekolah juga sangat rendah. Sehingga pada masa tua mereka masih belum bisa membaca.

Salah satu diantara penduduk buta aksara itu bernama Tina. Ia seorang ibu yang tinggal di daerah perkampungan. Tina termasuk penduduk buta aksara yang beruntung. Meski ia tidak bisa membaca, tapi anaknya dapat baca tulis. Saya sendiri mengenal tina di sebuah bank BRI yang ada di kecamatan. Ibu tina pergi sendirian ke bank desa untuk mengambil uang. Saat itu ia bingung mau minta tolong sama siapa untuk mengisi blangko penarikan uang. Kebetulan di dalam bank itu ada seorang kenalan ibu Tina, lalu ia minta tolong kepada kenalannya untuk mengisikan balangko tersebut. Sayang orang itu tidak menggubris atau tidak memenuhi permintaan ibu Tina. Saya sendiri bingung, entah kenapa ia tidak memenuhi permintaan tersebut.

Kebetulan saat posisi saya berdiri berdekatan dengan ibu Tina. Oleh karena itu, ia meminta saya untuk mengisikan blangko penarikan uang. Sambil mengisi ia bercerita bahwa biasanya ia pergi ke bank bersama anaknya dan anaknya pula yang biasanya mengisikan blangko. Saat itu anakanya tidak bisa menemani sehingga ibu Tina terpaksa pergi sendiri. Ibu tina tidak bisa membaca dan menulis, bahkan untuk tanda tangan saja ia tidak bisa. Tentu untuk menarik uang di bank butuh tanda tangan, setidaknya cap jari. Lalu saya tanya kepada ibu itu seperti apa biasanya ia mengambil uang di tabungan simpedes sebelumnya. Ternyata ibu Tina hanya bisa membuat tanda tangan dengan menulis empat huruf yang bertulis “T-I-N-A”. Dalam menulis keempat huruf itu saja ibu itu tampak kesusahan.

Saya sendiri merasa heran, meski tidak bisa membaca ibu Tina termasuk dalam ibu yang bisa dikatakan cukup secara ekonomi. Hal itu terlihat dari jumlah uang yang ditarik sebesar dua juta rupiah. Nominal tersebut cukup besar untuk ukuran di kampung. Mungkin saya menduga bahwa ia mengambil uang yang dikirim oleh anaknya di perantauan untuk biaya hidup di kampung bersama keluarganya. Hanya Tuhan dan ibu Tina yang tahu dari mana asal uang tersebut. Pastinya Tuhan telah membagikan rezeki kepada umat-NYA di muka bumi ini termasuk untuk ibu Tina dan kita semua.

Saya tidak mempedulikan dari mana asal uang ibu Tina. Saya menarik kesimpulan dalam diri bahwa ketidakmampuan ibu Tina dalam membaca dan menulis tidak membuat ia membiarkan hal itu terjadi pada anak-anaknya. Cukup ia saja yang tidak bisa membaca dan menulis, bukan pada anak-anaknya. Dengan bisa membaca dan menulis, anak-anaknya dapat menyambung hidup di perantauan dan bisa membantu keluarga secara ekonomi. Ibu Tina ingin anak-anaknya lebih baik daripada dirinya yang tidak bisa baca tulis ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s