Ngepos via Hape

Mengisi Waktu Liburan Dengan Mengemis

Anak kecil berumur tidak lebih dari sepuluh tahun itu berjalan mengitari perkampungan sambil menenteng sehelai kertas. Celana panjang berwana merah masih melekat ditubuh anak itu. Dari bentuknya celana tersebut merupakan calana sekolah dasar yang notabane berwarna merah. Hal ini menjadi penanda bahwa anak ini duduk dibangku sekolah dasar. Kertas yang ditenteng oleh si anak tak lain adalah surat sumbangan yang di laminating agar tidak lecet dipakai dalam jangka waktu lama.

Dengan wajah polos si anak memasang wajah iba agar menarik perhatian dermawan agar dibalas dengan rupiah. Ia masuk dari satu rumah ke rumah lainnya  meminta sumbangan dengan embel-embel untuk bantuan pembangunan mesjid. Saya sendiri tidak tahu apakah sumbangan itu sungguh untuk mesjid atau hanya akal-akalan orang yang menyuruh anak tersebut berkeliling meminta bantuan pembangunan mesjid, tapi uangnya ditilap oleh orang yang menyuruh. Wallahualam…. Hanya tuhan yang tahu.

Saya sendiri tidak melihat dari sudut benar tidaknya sumbangan tersebut, tapi saya lebih menohok kepada si anak yang dieksploitasi oleh orang dewasa atau mungkin orang tuanya sendiri. Dari cara ia meminta dan bentuk pakaian yang dikenakan membuktikan bahwa ia dimanfaatkan oleh orang lain meminta-minta di setiap rumah.

Rasa ingin tahu saya dengan seketika muncul dengan bertanya kepada si anak. Awalanya saya bertanya apakah anak tersebut tidak sekolah. Dengan seketika ia menjawab ia masih sekolah. Lalu saya melempar pertanyaan berikutnya dengan bertanya tempat tinggalnya. Ia pun menjawab tempat ia tinggal, akan tetapi saya sendiri tidak terlalu hafal daerah tempat tinggalnya karena saya juga baru berada disana. Kemudian saya bertanya, walau masih sekolah kenapa pagi itu ia tidak sekolah. Pertanyaan itu akan saya arahkan untuk pertanyaan berikutnya dengan bertanya mengapa ia mengemis diwaktu jam sekolah.

Sayang saya sendiri terjebak dengan pertanyaan yang saya ajukan ke bocah itu. Ia menjawab bahwa ia tidak sekolah karena waktu itu kelender lagi merah. Saya lupa bahwa hari itu adalah hari libur paskah yang bertepatan dengan hari jum’at. Sehingga semua anak sekolah libur pada hari itu. Tak pelak saya tidak jadi menanyakan kenapa ia mengemis di jam sekolah.

Menjadi catatan saya kemudian adalah anak ini mengisi waktu liburnya dengan mengemis. Bila dilihat dari sudut pandang anak seusia dengan ia tentu akan mengisi hari libur dengan bermain-main. Namanya saja anak-anak tentu akan merasa bahagia mengisi waktu liburan dengan bermain-main.

Saya kemudian menyimpulkan bahwa anak ini disuruh orang lain untuk mengemis atau meminta sumbangan di setiap rumah. Ia mengisi waktu libur dengan mengaharap iba dari para dermawan. Orang yang telah memanfaatkan anak tersebut untuk menarik sumbangan sesungguhnya telah merampas kebahagian si anak yang seharusnya menikmati masa liburan dengan bermain, bukannya mengemis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s