Gak Penting Yaa

Kangen Menulis

Hampir dua minggu saya jarang menyentuh keranjang sampah di garam manis ini. Selama itu pula intensitas menulis semakin berkurang. Hal demikian diikuti dengan berkurangnya trafic di statistik. Tentu faktor utama penurunan tersebut adalah jarang lagi di update selama dua minggu itu.

Kesibukan membuat kuantitas tulisan menurun drastis. Tapi saya tidak ingin menjadikan kesibukan sebagai alasan untuk tidak menulis. Alasan utama saya mencari kesibukan adalah karena ingin tetap menulis. Apapun kesibukan yang dijalani, menulis harus tetap jalan.

Mungkin penyebab paling tepat adalah ketiadaan fasilitas dan sarana untuk menulis. Biasanya menulis dengan langsung mengetik di layar komputer. Namun, tidak adanya komputer menjadi penghalang untuk menulis dalam dua minggu tersebut. Selain itu, mengupdate blog ini bisa pula melalui handphone (HP), sayang browser di HP ikut bermasalah juga. Bisa saja menulis melalui kertas, tapi akan kerja dua kali karena harus menyalin kembali dari kertas ke komputer.

Pilihan untuk menulis manual di secarik kertas adalah pilihan yang tidak tertutup kemungkinan untuk dilakukan. Misalnya saja ide tulisan datang tiba-tiba, namun yang ada hanya sehelai kertas dan sebatang pena. Maka kedua fasilitas tersebut harus dimanfaatkan agar ide tersebut tidak hilang. Kemudian hari barulah coretan dikertas tersebut diurai lebih mendalam menjadi sebuah tulisan.

Titik susah dari cara diatas bukan menuliskannya dikertas, tapi menuliskan kembali menjadi tulisan yang utuh. Saya yakin kesusahan tersebut berangkat dari ketidakbiasaan. Bila kita telah terbiasa menulis, maka tidak ada lagi hal yang susah menuliskan ide baik dalam bentuk konsep di kertas maupun dalam bentuk tulisan.

Bagaimanapun waktu dua minggu terlalu lama bagi saya untuk tidak menulis. Saya kangen menulis. Padahal dalam jangan waktu yang tidak terlalu panjang itu banyak ide-ide yang bisa dijadikan bahan tulisan. Akan tetapi, bahan mentah tersebut bersemayam dalam otak saja tanpa diungkapkan dengan tulisan. Kini, ide-ide dalam dua minggu itu mulai memudar dalam memori ingatan.

Upaya agar bahan tulisan itu tidak menghilang dalam pikiran adalah menuliskan apa adanya dan apa yang teringat. Setidaknya bahan baku tulisan dalam dua minggu tersebut tidak hilang semuanya dan ada yang nyantol waluapun sedikit.  ((1104162016trt))

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s