Penting Gak Yaa

Berkelana Semalam Suntuk di Gunung Merapi dan Singgalang

Badan terasa lunglai setelah semalaman suntuk mengitari kaki merapi dan berlanjut nongkrong di kesunyian singgalang.  Rasa lelah menghinggapi sekujur tubuh. Namun, kelelahan itu langsung sirna dengan segeles kopi yang  menemani kami sepanjang perjalanan.

Awalnya tujuan kami hanya bercengkrama di kaki merapi sambil menikmati udara dingin. Akan tetapi, niat kami terhalang oleh pengawas pos pendakian yang menghadang kami untuk terus menaiki gunung aktif di sumatra barat ini. Lalu, hadangan tersebut membuat kami mengarahkan perjalanan menuju kampung yang terletak disekitar gunung singgalang yang tak jauh dari gunung merapi.

Kebetulan disana lagi diadakan ekspedisi bukit barisan oleh militer, pencinta alam dan elemen kampus. Kedatangan kami di gunung singgalang bertepatan saat peserta ekspedisi berpesta melepas penat bersama masyarakat. Kondisi tersebut membuat kami mencoba untuk ikut larut dalam pesta.

Kedinginan udara di singgalang membuat lutut saya menggigil. Lantunan nyanyian tidak bisa menghentikan kedinginan yang datang menghinggap. Kadang mereka melawan dinginnya malam dengan meneguk tuak yang dibawa oleh masyarakat ke barak yang di design seperti warung kopi.

Warung itu didirikan oleh prajurit kodam setempat yang mempunyai naluri bisnis. Bergantian dengan sang istri menunggui warung yang menjadi tempat bagi peserta ekspedisi untuk beristirahat sambil ngopi. Malam semakin larut, peserta ekspedisi yang bernyanyi di warung kopi mulai beringsut ke barak meraka masing-masing.

Kamipun bergegas untuk beranjak dari tempat tersebut dengan sedikit obrolan penutup dengan seorang teman. Kepulangan kami terlalu malam, sehingga membuat kami tidak berani mengambil jalan terdekat untuk pulang ke rumah. Akhirnya kami berbalik arah ke jalan semula yang kami lewati. Mamang agak jauh dari jalan pintas.

Di tengah perjalanan pulang kami dihadang hujun lebat dan membuat kami terhenti disebuah lapau yang buka 24 jam. Kami memesan dua gelas kopi susu. Sambil bercerita menunggu hujan reda. Hujun turun tidak terlalu lama, sehingga cengkrama kami berlangsung singkat. Kami melanjutkan perjalanan pulang dan sampai di rumah saat matahari terbit. Padahal kami berangkat disaat matahari mulai tenggalam. Artinya, semalam suntuk kami tidak tidur karena berkelana diantara gunung merapi dan gunung singgalang. Walaupun lelah, saya tetap merasa puas dan senang meskipun perjalanan kami melenceng dari tujuan semula. ((1104031827trt))

Iklan

2 thoughts on “Berkelana Semalam Suntuk di Gunung Merapi dan Singgalang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s